
Sektor pariwisata Jawa Tengah terus menunjukkan kinerja yang impresif dan semakin mengukuhkan posisinya di tingkat nasional.
Berdasarkan hasil riset CNBC Indonesia Research, Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi dengan total pendapatan objek daya tarik wisata komersial tertinggi di Indonesia.
Capaian tersebut sejalan dengan tingginya arus kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi unggulan di wilayah ini.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi pengembangan pariwisata yang menitikberatkan pada keterpaduan antarwilayah melalui konsep aglomerasi serta penguatan potensi desa wisata.
Pendekatan ini dinilai efektif dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sekaligus berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
“Salah satu upaya untuk menaikkan PAD Jawa Tengah adalah dengan memperkuat sekaligus memperbanyak objek wisata yang ada,” ujar Ahmad Luthfi saat ditemui di kantornya, Kamis (8/1/2025).
Menurut Luthfi, Jawa Tengah memiliki keunggulan komparatif yang kuat melalui pengembangan kawasan aglomerasi pariwisata yang terintegrasi.
Beberapa kawasan yang menjadi andalan antara lain Kopeng, Rawapening di Kabupaten Semarang, serta Borobudur di Kabupaten Magelang.
Kawasan-kawasan tersebut dikembangkan secara terpadu agar mampu menghadirkan pengalaman wisata yang saling terhubung dan berkelanjutan.
“Kita memiliki aglomerasi wisata Kopeng, Borobudur, dan Rawapening. Selain itu, Jawa Tengah juga memiliki sekitar seribu desa wisata yang menjadi kekuatan utama pemerataan ekonomi pariwisata,” jelasnya.
Lebih lanjut, Luthfi menjelaskan bahwa pengembangan desa wisata dilakukan secara bertahap dan berjenjang.
Desa wisata yang awalnya berorientasi pada skala lokal, didorong untuk naik kelas menjadi destinasi regional, nasional, hingga berpotensi menembus pasar internasional.
Untuk memastikan keberlanjutan pembinaan, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota telah menetapkan desa wisata melalui surat keputusan kepala daerah sebagai dasar hukum pengembangan dan pendampingan.
Tidak hanya mengandalkan wisata alam dan sejarah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong diversifikasi produk pariwisata guna menjangkau segmen pasar yang lebih luas.
Pengembangan wisata kuliner, wisata budaya, hingga wisata ramah muslim menjadi bagian dari strategi peningkatan daya saing pariwisata daerah.
“Kita terus memperluas ragam produk wisata agar Jawa Tengah mampu menjangkau berbagai segmen wisatawan,” kata Luthfi.
Dari sisi capaian statistik, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Jawa Tengah pada tahun 2024 mencapai 68,88 juta orang, meningkat sekitar 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 28 persen, dengan total 593.168 wisatawan.
Sejumlah destinasi unggulan menjadi magnet utama kunjungan wisatawan, di antaranya Masjid Syeikh Zayed Surakarta, Kota Lama Semarang, Candi Prambanan, serta kawasan Borobudur dan Dieng.
Keberagaman destinasi tersebut memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu tujuan wisata unggulan nasional dengan daya tarik yang lengkap, mulai dari religi, sejarah, budaya, hingga alam.
Dengan strategi aglomerasi yang terintegrasi dan penguatan desa wisata yang berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis sektor pariwisata akan terus menjadi penggerak utama ekonomi daerah sekaligus memperluas manfaat kesejahteraan bagi masyarakat di berbagai wilayah.





