
Di tengah tantangan ekonomi pedesaan, warga Desa Plajan dan Suwawal Timur, Kabupaten Jepara, menemukan tumpuan harapan baru melalui peternakan kambing jenis Jawa Randu.
Kandang-kandang kayu sederhana di desa ini kini menjadi saksi bisu bagaimana ketekunan dan manajemen modern mampu mengubah ternak rakyat menjadi roda penggerak ekonomi lokal yang tangguh.
Dipilihnya jenis Jawa Randu bukan tanpa alasan. Kambing ini dikenal adaptif, cepat tumbuh, dan memiliki persentase karkas daging yang melimpah dibanding jenis lain.
Ketua Kontak Tani Ternak (KTT) Desa Plajan, Hadi Purnomo, menjelaskan keunggulan komparatif ternak pilihan warganya. Menurutnya, Jawa Randu lebih menguntungkan secara ekonomi dibanding peranakan etawa (PE).
“Dagingnya banyak dan harga bibitnya lebih terjangkau. Sementara kalau PE itu mahal di awal tapi dagingnya sedikit,” jelas Hadi saat ditemui di kandangnya, Senin (16/02/2026).
Tantangan Harga dan Manajemen Pakan
Meski menjanjikan, usaha ini bukan tanpa kendala. Hadi mengakui bahwa fluktuasi harga pasar masih menjadi momok.
Saat ini harga sedang melemah, di mana anakan jantan usia empat bulan dihargai sekitar Rp1,5 juta, sedangkan betina di bawah Rp500 ribu.
Namun, berkat pendampingan intensif dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara serta Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Jawa Tengah, kelompok tani ini tetap bertahan.
Mereka menerapkan sistem subsidi silang dan kas kelompok dari hasil anakan untuk menjaga keberlanjutan operasional.
Siklus Limbah Menjadi Berkah
Cerita serupa datang dari Suwawal Timur. Ketua KTT Ayo Maju 2, Komari, memimpin anggotanya mengelola 332 ekor kambing dengan manajemen kesehatan ketat.
Penyakit musiman seperti gatal, batuk, dan gangguan mata diatasi dengan pemeriksaan rutin dokter hewan.
Menariknya, peternakan ini menciptakan siklus ekonomi sirkular. Limbah kotoran kambing tidak dibuang percuma, melainkan difermentasi menggunakan disinfektan dan tetes tebu selama 21 hari.
“Setiap anggota wajib setor limbah. Hasil fermentasi ini jadi pupuk organik siap pakai untuk sawah anggota sendiri. Jadi dari tanah kembali ke tanah,” ungkap Komari.
Dukungan Pemerintah dan Standar Teknis
Kepala DKPP Kabupaten Jepara, Mudhofir, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendampingi para peternak.
Standar teknis kandang panggung setinggi 80 cm dengan luas 2×2 meter per ekor terus disosialisasikan untuk menjaga kesehatan ternak.
“Ekonomi desa bisa tumbuh dari kandang yang sederhana, asalkan dikelola dengan disiplin dan semangat kebersamaan. Kami terus memonitor mulai dari kelembagaan hingga pascapanen agar peternak tidak jalan sendirian,” pungkas Mudhofir.





