
Para astronom mengumumkan temuan menakjubkan di jagat raya: sebuah lubang hitam ultramasif dengan massa mencapai 36 miliar kali lipat massa Matahari.
Objek raksasa ini berada di pusat galaksi dalam sistem kosmik yang dikenal sebagai Cosmic Horseshoe atau Tapal Kuda Kosmik, berjarak sekitar lima miliar tahun cahaya dari Bumi.
Hasil penelitian yang mengungkap penemuan ini dipublikasikan pada 7 Agustus 2025 di jurnal ilmiah Monthly Notices of the Royal Astronomical Society dalam makalah berjudul Unveiling a 36 billion solar mass black hole at the centre of the Cosmic Horseshoe gravitational lens.
Penemuan ini menempatkan lubang hitam tersebut sebagai salah satu yang terbesar yang pernah terdeteksi di alam semesta.
Penemuan luar biasa ini bermula dari fenomena yang telah lama diprediksi oleh teori relativitas umum Albert Einstein.
Teori tersebut menjelaskan bahwa gravitasi bukan sekadar gaya tarik, melainkan efek kelengkungan ruang-waktu akibat keberadaan massa besar.
Fenomena yang dikenal sebagai lensa gravitasi inilah yang menjadi kunci dalam mendeteksi lubang hitam di Cosmic Horseshoe.
Dalam sistem ini, galaksi di latar depan—tempat lubang hitam berada—menyebabkan cahaya dari galaksi di belakangnya melengkung dan membentuk pola melingkar nyaris sempurna yang disebut Cincin Einstein.
Bentuknya yang menyerupai tapal kuda membuat para astronom menjulukinya Cosmic Horseshoe.
Bentuk unik Cosmic Horseshoe memungkinkan para peneliti menggabungkan dua sumber data penting:
- Distorsi cahaya dari galaksi latar belakang akibat lensa gravitasi.
- Kecepatan bintang yang mengorbit di sekitar pusat galaksi, yang bergerak hampir 400 kilometer per detik karena tarikan gravitasi ekstrem lubang hitam.
Dengan mengolah kedua data tersebut, para astronom menghitung massa lubang hitam mencapai 36 miliar kali massa Matahari—sebuah ukuran yang menempatkannya di antara objek paling masif di alam semesta yang pernah diketahui.
Keberadaan lubang hitam sebesar ini di usia alam semesta yang relatif muda menimbulkan pertanyaan besar. Bagaimana objek kosmik bisa tumbuh begitu cepat hingga mencapai ukuran raksasa?
Astrofisikawan Thomas Connor dari Harvard dan Smithsonian menggunakan perumpamaan yang mencolok untuk menggambarkannya: “Seperti menemukan LeBron James versi balita di tempat penitipan anak”—terlalu besar untuk usianya.
Salah satu hipotesis menyebutkan, galaksi ini mungkin mengalami masa pertumbuhan cepat di awal sejarahnya, menyerap materi dalam jumlah luar biasa sebelum akhirnya memasuki periode “tidur” selama miliaran tahun.
Namun, skenario ini tetap sulit dijelaskan sepenuhnya dengan model kosmologi yang ada.
Cosmic Horseshoe tergolong galaksi fosil—hasil penggabungan dari banyak galaksi kecil di masa lalu.
Proses ini bukan hanya menyatukan bintang-bintang dan materi gelap, tetapi juga menggabungkan lubang hitam supermasif dari masing-masing galaksi pendamping menjadi satu lubang hitam ultramasif.
Fenomena serupa diperkirakan akan terjadi pada Bima Sakti dan Andromeda di masa depan.
Saat kedua galaksi besar ini bertabrakan dan bergabung, lubang hitam di pusatnya kemungkinan akan menyatu membentuk objek yang massanya dapat menyaingi Cosmic Horseshoe.
Meski mengesankan, lubang hitam Cosmic Horseshoe belum menggeser posisi TON 618 sebagai lubang hitam terbesar yang diketahui, dengan massa sekitar 40 miliar kali Matahari.
Namun, temuan ini menguatkan dugaan bahwa lubang hitam ultramasif mungkin lebih umum di alam semesta daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Dengan dukungan instrumen canggih seperti James Webb Space Telescope (JWST), para astronom berharap dapat menemukan lebih banyak lagi lubang hitam raksasa.
Kemudian mempelajari keterkaitannya dengan galaksi induk, dan mengungkap peran misterius materi gelap dalam proses pembentukannya.




