
Nasib pengabdian tanpa kejelasan status dan kepastian kesejahteraan sering kali menjadi realitas pahit di dunia pendidikan.
Realita ini dirasakan langsung oleh Ali Imron (49), seorang guru PAUD Kober Badar di Desa Pamokolan, RT 02/RW 09, Kecamatan Cihaurbeuti.
Demi menjaga stabilitas ekonomi dan menafkahi keempat anaknya, ia memutuskan memproduksi minuman herbal yang kini mulai dikenal luas sebagai Sirop Honje Ciamis.
Ringkasan Berita
Awal Mula Tercetusnya Ide Sirop Honje Ciamis
Ketidakpastian finansial sebagai pendidik tidak lantas menyurutkan semangat juang Ali. Sejak lima tahun terakhir, ia merintis usaha sektor riil melalui warung kecil di rumahnya.
Langkah inovatif pertamanya adalah mengolah buah markisa segar dari kebun sendiri menjadi minuman kemasan yang menyegarkan.
“Bikin dan jualan sirop markisa sudah berjalan lima tahun lalu. Bahan bakunya tidak susah karena saya dan tetangga punya tanaman sendiri. Markisa tidak mengenal musim,” tutur Ali Imron kepada Reportasee.com, Rabu (20/5/2026).
Seiring berjalannya waktu, insting bisnisnya semakin tajam. Sejak setahun terakhir, ia mulai melakukan inovasi baru dengan meracik Sirop Honje Ciamis sebagai produk alternatif unggulan.
Namun demikian, bahan baku honje (kecombrang) memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan markisa yang panen sepanjang waktu, ketersediaan buah honje sangat bergantung pada musim.
Oleh karena itu, Ali harus menyiasatinya dengan memesan pasokan khusus melalui rekannya di daerah Pamarican.
Menghadapi Gejolak Harga Produksi Kemasan
Secara teknis, cara untuk memproduksi Sirop Honje Ciamis tidaklah rumit. Prosesnya dimulai dari penyiapan buah segar, yang kemudian dihaluskan bersama air dan gula berkualitas premium bermerek Rose Brand.
Campuran tersebut lalu diblender menjadi jus dengan perlakuan khusus untuk mengunci warna alami dan memikat konsumen.
Sayangnya, di tengah semangat merintis kemandirian, kendala ekonomi global turut memberikan imbas nyata. Fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah membuat biaya bahan penunjang melonjak tajam.
“Yang menjadi masalah pelik sekarang adalah harga botol plastik yang terus merangkak naik akibat gejolak harga dolar,” keluh Ali yang juga menjabat sebagai Ketua RW setempat.
Sebelum kurs dolar bergejolak, harga satu boks botol plastik berisi 100 buah hanya dipatok Rp 95.000, atau sekitar Rp 950 per botol kosong.
Kini, harga tersebut telah tembus hingga Rp 125.000 per boks, yang berarti modal per botolnya melonjak menjadi Rp 1.250. Biaya ini belum termasuk ongkos cetak stiker label yang turut merangkak naik.
Meskipun beban produksi semakin berat, ia tetap bersikukuh mempertahankan harga jual Sirop Honje Ciamis maupun markisa di angka ekonomis, yakni Rp 10.000 per botol.
Ia mengaku belum berani menaikkan harga karena khawatir kehilangan pelanggan setia. Akibatnya, ia harus rela margin keuntungannya semakin tergerus demi menjaga perputaran modal.
Khasiat Luar Biasa di Balik Sirop Honje Ciamis
Keunggulan utama dari produk buatan guru PAUD ini terletak pada penggunaan bahan baku natura (alami) tanpa tambahan pengawet.
Hal inilah yang menjadi ciri khas Sirop Honje Ciamis buatan Ali, meski berdampak pada ketahanan masa simpan yang relatif singkat.
“Bila dibiarkan terbuka di suhu ruangan, sirop ini hanya tahan sehari. Kalau disimpan tertutup rapat di kulkas, bisa tahan sampai tiga hari. Paling aman bila diletakkan di dalam showcase pendingin, produk dapat bertahan segar hingga dua minggu,” jelasnya.
Lebih lanjut, minuman tradisional ini kaya akan khasiat herbal. Kandungan antioksidan dan vitamin yang tinggi di dalamnya sangat direkomendasikan untuk menjaga daya tahan tubuh, menjadikannya sangat relevan dengan tren kesehatan saat ini.
Dukungan Bunda PAUD dan Tantangan Pameran UMKM
Momen berharga bagi bisnis Ali hadir bertepatan dengan workshop kewirausahaan Himpaudi Kabupaten Ciamis di Padepokan Wreti Kendayun, Situs Karangkamulyan, Rabu (20/5/2026). Acara tersebut dihadiri 150 guru dari 27 kecamatan.
Dalam kesempatan emas itu, Ali didaulat untuk memperkenalkan inovasinya. Antusiasme memuncak ketika Bunda PAUD Ciamis, Hj. Kania Ernawati Herdiat, turun langsung memborong Sirop Honje Ciamis buatan Ali sekaligus mempromosikan (endorse) produk tersebut secara terbuka.
Menurut Ketua Himpaudi Ciamis, Eni Rustini S.Pd., workshop ini bertujuan memberikan pembinaan wirausaha.
Ia menekankan bahwa langkah mengembangkan Sirop Honje Ciamis sebagai solusi ekonomi patut ditiru oleh 71 guru PAUD lainnya yang juga telah memiliki produk mandiri.
“Bagi kami, kegiatan yang menghadirkan banyak orang adalah peluang memperkenalkan produk. Terlebih bila ada pameran rutin KUKM,” tambah Eni.
Namun, harapan manis tersebut kerap berbenturan dengan kenyataan pahit di lapangan.
Ali mengungkapkan bahwa komersialisasi pameran, terutama yang dikelola Event Organizer (EO), sering kali menetapkan harga sewa stan yang kelewat mahal.
“Harga sewa yang tinggi sangat membebani kami, para pelaku UMKM kecil. Padahal, ajang seperti itu sangat berharga bagi kami untuk memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas,” pungkas bapak empat anak ini dengan penuh harap.





