Berita

Asal Usul Bau Busuk Bunga Bangkai Terungkap

Bunga bangkai atau Amorphophallus titanum, dikenal bukan karena keharumannya, tetapi bau busuknya yang menyerupai daging membusuk.

Bau menyengat ini menjadi daya tarik sekaligus misteri yang mengundang perhatian banyak orang, termasuk para peneliti.

Meski aromanya tidak sedap, keunikan bunga asli Pulau Sumatra ini tetap memikat publik, terutama karena proses mekarnya yang langka dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Kini, ilmuwan berhasil mengungkap asal usul bau busuk bunga bangkai melalui penelitian mendalam yang memadukan analisis genetika, kimia, dan proses biologis uniknya.

Mengapa Bau Busuk Bisa Muncul?

Bunga bangkai sebenarnya bukan satu bunga tunggal, melainkan kumpulan bunga kecil yang tersembunyi di dalam struktur besar bernama spadix (tongkol bunga).

Mekarnya bunga ini melibatkan proses pemanasan yang dikenal sebagai termogenesis, di mana suhu spadix meningkat hingga 20 derajat Fahrenheit di atas suhu lingkungan.

Proses ini memicu pelepasan senyawa berbasis sulfur yang menjadi sumber bau menyengatnya.

Ketika lapisan pembungkus bunga, yang disebut spathe, membuka, bagian dalamnya yang berwarna merah tua tampak seperti daging mentah.

Baca Juga :  Meteor Sebesar 4 Kali Ukuran Everest Hantam Bumi: Begini Dampak dan Pelajaran dari Masa Lalu

Pada saat itulah spadix memanas, memancarkan bau khas yang menarik lalat dan kumbang bangkai. Serangga ini memainkan peran penting dalam penyerbukan bunga.

Penelitian Mendalam di Dartmouth College

Penelitian terbaru yang dipimpin oleh profesor biologi G. Eric Schaller dari Dartmouth College berhasil mengidentifikasi senyawa kimia utama di balik bau bunga bangkai.

Penelitian ini juga mengeksplorasi mekanisme genetik yang mengatur proses pemanasan dan pelepasan bau.

Dalam studi ini, para peneliti memanfaatkan bunga bangkai bernama Morphy, tanaman berusia 21 tahun yang disimpan di Rumah Kaca Life Sciences, Dartmouth.

Morphy terakhir kali berbunga pada 2016, dan saat itu para peneliti mengambil sembilan sampel jaringan dari spadix untuk dianalisis.

Dengan teknik ekstraksi RNA dan spektrometri massa, mereka mengungkap bahwa senyawa belerang seperti metionina dan putresin adalah penyebab utama aroma menyengat bunga ini.

Metionina, asam amino yang mengandung sulfur, ditemukan dalam kadar tinggi pada jaringan bunga yang sedang mekar.

Ketika dipanaskan, metionina menguap dan menghasilkan bau yang tajam. Selain itu, putresin, senyawa organik yang biasa ditemukan pada bangkai hewan, juga terdeteksi dalam jaringan bunga.

Baca Juga :  COP16 Riyadh Gagal Capai Kesepakatan Protokol Kekeringan

Temuan Penting dan Langkah Selanjutnya

Hasil penelitian ini memberikan wawasan baru tentang hubungan antara genetika, metabolisme tanaman, dan interaksi dengan lingkungan.

Tim peneliti juga menemukan bahwa gen yang mengatur produksi panas dan metabolisme sulfur memiliki peran krusial dalam proses pembungaan.

Ke depan, para ilmuwan berencana untuk mempelajari lebih lanjut pemicu utama yang menyebabkan bunga bangkai berbunga setelah bertahun-tahun dormansi.

Penelitian ini diharapkan tidak hanya membantu memahami fenomena biologis unik dari bunga bangkai, tetapi juga memberikan wawasan penting dalam bidang ekologi dan genetika tanaman.

Pesona di Balik Bau Busuk

Meski aromanya tidak sedap, bunga bangkai tetap menjadi fenomena alam yang luar biasa.

Keindahan dan misterinya tidak hanya menarik perhatian masyarakat, tetapi juga menjadi bahan penelitian penting yang membantu mengungkap rahasia alam.

Kini, bau busuk bunga bangkai tak lagi menjadi misteri, melainkan bukti betapa kompleks dan menakjubkannya proses biologis di balik mekarnya tanaman ini.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca