
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut terus berupaya meningkatkan kesejahteraan peternak lokal melalui penguatan kualitas dan akses pasar komoditas unggulan daerah.
Salah satu langkah konkret diwujudkan dengan menggelar Kontes Domba Piala Rektor Universitas Garut yang dilaksanakan di Kecamatan Tarogong Kaler pada Sabtu, 11 Januari 2026.
Kegiatan ini dirancang sebagai sarana strategis untuk mendorong peningkatan pendapatan peternak, khususnya melalui penilaian mutu genetik domba serta perluasan akses pasar.
Ratusan peternak dari berbagai kecamatan di Kabupaten Garut turut ambil bagian, menampilkan puluhan domba Garut berstandar kontes yang telah melalui proses seleksi ketat.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Garut, Dyah Savitri, menyampaikan bahwa pemerintah daerah memberikan dukungan kebijakan agar kontes domba tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi mekanisme seleksi domba unggul yang berdampak langsung terhadap nilai jual ternak peternak.
Menurut Dyah, data Diskanak menunjukkan bahwa domba yang lolos kategori kontes memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Harga domba kontes tercatat dapat meningkat hingga 30 persen dibandingkan domba biasa, sehingga peternak memperoleh tambahan pendapatan secara langsung.
“Melalui kontes ini, kualitas ternak dinilai secara objektif sehingga pembeli memiliki referensi yang jelas. Hal ini berdampak pada peningkatan harga jual dan kesejahteraan peternak,” ujar Dyah.
Kontes tersebut juga menjadi ajang edukasi dan transfer pengetahuan bagi peternak.
Rektor Universitas Garut, Hilmi Aulawi, membuka kegiatan tersebut dan menegaskan komitmen kampus dalam memberikan pendampingan teknis kepada peternak, terutama terkait manajemen pakan, kesehatan ternak, serta pemuliaan domba Garut.
Hilmi menilai, sektor peternakan domba memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikelola secara berkelanjutan dan berbasis pengetahuan.
“Kegiatan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi melalui penguatan budaya ternak domba. Sektor ini diharapkan menjadi solusi konkret dalam mempercepat pembangunan ekonomi Kabupaten Garut,” kata Hilmi.
Dari sisi pemasaran, kehadiran kontes turut membuka jaringan pembeli yang lebih luas.
Perwakilan Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Jawa Barat, Bahrudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini menarik minat pembeli dari luar daerah.
Dengan demikian, transaksi penjualan domba tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar lokal.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Muhammad Nizar, mencatat bahwa lebih dari 200 ekor domba terdaftar dalam kontes tersebut.
Dengan jumlah tersebut, perputaran uang selama pelaksanaan kontes diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, memberikan dampak ekonomi langsung bagi peternak dan pelaku usaha pendukung.
Manfaat kegiatan ini juga dirasakan langsung oleh peternak. Dadan, peternak asal Tarogong Kaler, mengaku domba miliknya berhasil terjual dengan harga lebih tinggi setelah lolos penilaian kontes.
Ia menyebut hasil penjualan tersebut membantu menutup biaya pakan dan menopang kebutuhan keluarganya.
Program kontes domba ini dinilai menjadi jawaban atas persoalan klasik rendahnya harga ternak rakyat.
Melalui mekanisme sertifikasi mutu berbasis penilaian lapangan, kualitas ternak diakui secara langsung oleh pembeli, sehingga posisi tawar peternak meningkat.
Ke depan, Pemkab Garut menargetkan model kontes berkelanjutan ini dapat menjangkau ribuan peternak, tidak hanya di Kabupaten Garut, tetapi juga di berbagai wilayah Jawa Barat.
Dengan memanfaatkan komoditas khas daerah, pemerintah daerah berharap kesejahteraan peternak dapat meningkat secara signifikan dan berkelanjutan.





