
Kondisi fluktuasi pasar komoditas peternakan kembali memukul para peternak lokal di sentra perunggasan rakyat Jawa Barat.
Memasuki hari ketujuh setelah hari raya kurban, pergerakan tren pasar menunjukkan penurunan daya serap masyarakat yang sangat signifikan.
Kondisi riil ini membuat realisasi harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis mengalami keterpurukan yang cukup mendalam bagi sebagian besar peternak mandiri.
Siklus penurunan ini terjadi akibat melimpahnya pasokan protein lain di tengah masyarakat yang menggeser minat konsumsi harian.
Fenomena tahunan tersebut memaksa komoditas daging ayam ras pedaging jenis broiler berada pada titik terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Akibatnya, jatuhnya harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis membuat selisih margin yang didapatkan oleh para pelaku usaha mikro di sektor ini menjadi minus.
Ringkasan Berita
Analisis Jatuhnya Harga Ayam Pasca Idul Adha di Ciamis
Berdasarkan data langsung lapangan, fluktuasi negatif ini terjadi secara merata di wilayah Priangan Timur.
Sampai saat ini, harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis untuk jenis broiler (BR) di tingkat kandang peternak masih tertahan di kisaran angka Rp 17.000 sampai Rp 18.000 per kilogram hidup (livebird).
Padahal, akumulasi biaya pokok produksi (BPP/BEP) komponen pakan saat ini berada di kisaran angka Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per kilogram.
Ketua Perkumpulan Peternak Ayam Priangan (P2AP), H Komar Hermawan, membenarkan bahwa kondisi tersebut merupakan pukulan telak bagi tata niaga perunggasan rakyat.
Menurutnya, kondisi harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis yang anjlok ini membuat mayoritas peternak dengan sistem kandang terbuka menanggung kerugian paling besar.
Sementara itu, kestabilan performa produksi hanya bisa sedikit didekati oleh mereka yang sudah menerapkan digitalisasi sistem modern.
“Sampai hari ini harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis di tingkat peternak belum bangkit, masih di kisaran Rp 17.000-Rp 18.000 per kilogram,” ujar H Komar Hermawan, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan bahwa angka tersebut berada jauh di bawah nilai keekonomian BEP nasional.
Menurut pantauan P2AP, pengecualian efisiensi biaya hanya terjadi pada peternak yang menggunakan sistem close house yang mampu menekan BEP.
Faktor Penyebab Siklus Tahunan Kurban
Secara historis, penurunan performa serapan pasar ini selalu berulang setiap kali perayaan ibadah kurban selesai dilaksanakan.
Pola pergeseran konsumsi masyarakat ini dipicu oleh masifnya distribusi daging hewan kurban secara gratis ke rumah-rumah warga.
Oleh karena itu, penurunan harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis dipengaruhi oleh melimpahnya cadangan logistik protein hewani di dalam lemari pendingin warga selama beberapa minggu.
Ketersediaan stok daging sapi, kambing, maupun domba yang melimpah membuat permintaan pasar terhadap komoditas unggas domestik menurun drastis.
Penurunan omzet penjualan harian di pasar-pasar tradisional Jabodetabek secara otomatis memicu efek domino langsung ke tingkat peternak Priangan Timur.
Dampak dari siklus musiman inilah yang mendasari kenapa tren harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara signifikan.
Meskipun demikian, ada anomali menarik yang terjadi pada segmen pasar ayam ras pedaging layer jantan atau ayam pejantan.
Komoditas ini justru relatif bertahan di tengah guncangan pasar karena karakteristik konsumennya yang cenderung spesifik dan berbasis pada industri kuliner lokal.
Penurunan permintaan tetap terjadi, namun pasar harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis untuk jenis ini tidak sampai merusak struktur modal kerja peternak.
Nasib Berbeda Peternak Ayam Pejantan
H Komar Hermawan yang juga merupakan pemilik dari Kawali PS (Poultry Shop) menjelaskan bahwa manajemen populasi menjadi kunci penyelamat segmen pejantan.
Menjelang hari raya lalu, angka transaksi komoditas ini sempat menyentuh level tertinggi di kisaran Rp 35.000 sampai Rp 36.000 per kilogram hidup.
Namun, ketahanan harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis untuk varietas pejantan tersebut kini stabil di kisaran Rp 34.000 per kilogram.
“Harga pejantan sampai hari ini masih turun di kisaran angka Rp 34.000 per kilogram, tapi masih di atas BEP yakni Rp 30.000 per kilogram,” imbuhnya dengan optimistis.
Ketahanan ekonomi ini bisa terwujud karena para peternak lokal sudah mengantisipasi risiko musiman dengan melakukan pembatasan populasi DOC yang masuk ke kandang sejak dua bulan sebelumnya.
Melalui strategi pengaturan rantai pasok yang ketat dan hasil panen yang terkendali, tekanan pasar dari daging kurban berhasil diredam dengan baik.
Sebagai daerah sentra produksi terbesar, Kabupaten Ciamis dalam kondisi normal mampu menyuplai sekitar 1 juta ekor ayam pejantan per minggu.
Dari total kapasitas tersebut, sekitar 60 persen hingga 65 persen dialokasikan khusus untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan kafe di wilayah Jabodetabek.
Sinyal Kebangkitan Komoditas Telur Ayam
Di sisi lain, tekanan akibat dinamika pasar kurban ini ternyata sempat merembet cukup parah pada sektor peternakan ayam petelur.
Pada bulan Mei lalu, harga telur di tingkat produsen sempat berada di posisi yang sangat menguntungkan yaitu Rp 26.000 per kilogram.
Namun, fluktuasi harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis ikut menyeret komoditas telur hingga sempat anjlok terjun bebas ke titik terendah Rp 20.500 per kilogram.
Beruntung, tekanan pada sektor petelur tidak berlangsung lama karena daya beli masyarakat terhadap telur untuk industri rumahan mulai pulih lebih cepat.
Perwakilan kelompok peternak ayam petelur “Maju Mandiri” Dusun Timbang Windu, Eka Muntaha, memberikan laporan bahwa pasar mulai merespons positif dalam dua hari terakhir.
Saat ini harga tebus di kandang sudah berhasil merangkak naik kembali menuju angka Rp 22.500 per kilogram.
Evaluasi berkala dari asosiasi menunjukkan bahwa pergerakan angka Rp 22.500 per kilogram ini sudah memberikan ruang bernapas yang cukup aman bagi usaha rakyat.
Margin keuntungan tipis sudah bisa dinikmati kembali mengingat BEP produksi telur ayam ras di Ciamis rata-rata berada pada kisaran Rp 21.000 per kilogram.
Peternak berharap tren pemulihan harga ayam pasca Idul Adha di Ciamis dapat segera terwujud seiring dengan menipisnya persediaan daging kurban di masyarakat.





