
Program pengembangan jagung organik di Limus Nunggal terus menunjukkan tren positif yang sangat menjanjikan bagi sektor pertanian lokal.
Komunitas Petani Organik Mandiri Ciamis atau POMC secara konsisten memperluas cakupan budidaya tanaman ramah lingkungan ini.
Langkah strategis tersebut diambil demi menciptakan ketahanan pangan berkelanjutan di tingkat regional maupun nasional.
Selain itu, inisiatif ini sekaligus menjadi jawaban atas ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang harganya kian melambung tinggi di pasaran.
Saat ini, fokus utama pergerakan pertanian ramah lingkungan tersebut menyasar wilayah Lingkungan Limus Nunggal Selatan, Kelurahan Maleber, Kecamatan Ciamis.
Komunitas POMC tidak lagi hanya berfokus pada budidaya tanaman padi dan kopi semata, melainkan sudah merambah ke komoditas jagung.
Lahan seluas 2 hektare di Rt 03 RW 04 Kelurahan Maleber, yang terletak tidak jauh dari RM Saung Tolenjeng, kini resmi dioptimalkan sebagai demplot atau lahan percontohan khusus.
Proyek percontohan ini digarap secara gotong royong dengan melibatkan Kelompok Tani Saluyu, kelompok tani setempat secara aktif.
Ringkasan Berita
Sinergi Polres Ciamis dan POMC Dorong Swasembada Pangan
“Hari ini tanaman jagungnya sudah memasuki usia 40 hari dan sudah mulai muncul buah,” ujar H Yanto, salah satu tokoh penggerak POMC yang juga merupakan warga asli Limus Nunggal Selatan, Rabu (3/6/2026).
Menurut penjelasan H Yanto, jenis varietas yang ditanam dalam program pengembangan jagung organik di Limus Nunggal ini merupakan varietas unggul bernama Garuda.
Menariknya, pasokan bibit unggul ini didapatkan melalui bantuan langsung dari pihak Kepolisian Resor atau Polres Ciamis.
Sinergi yang kuat antara aparat penegak hukum dan petani lokal ini terbukti efektif dalam mempercepat implementasi program di lapangan.
Pihak kepolisian berkomitmen penuh untuk mengawal jalannya ketahanan pangan dari hulu hingga ke hilir secara nyata.
Oleh karena itu, Polres Ciamis tidak hanya memberikan bantuan berupa bibit tanaman saja.
Pihak kepolisian juga menyalurkan bantuan modal operasional serta pupuk pendukung untuk memastikan program pengembangan jagung organik di Limus Nunggal berjalan sukses tanpa hambatan modal.
Bahkan, keseriusan ini dibuktikan dengan kehadiran Kapolres Ciamis, AKBP H Hidayatullah SH SIK, secara langsung ke lokasi lahan percontohan.
Kapolres hadir bersama jajaran pejabat dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis saat momen penanaman perdana dilakukan pada Selasa (5/5/2026) bulan lalu.
Kehadiran para pejabat penting ini mempertegas komitmen pemerintah daerah dan kepolisian dalam mendukung swasembada pangan nasional.
Seluruh pihak sepakat bahwa kemandirian pangan harus diawali dari gerakan masif di tingkat desa atau kelurahan.
Keunggulan Varietas dan Formula Pupuk Cair Berbasis Kearifan Lokal
Dari total target lahan seluas 2 hektare, saat ini luas area yang sudah berhasil ditanami baru mencapai 1 hektare.
Proses pengolahan lahan intensif ini secara langsung melibatkan lima orang petani tangguh dari Kelompok Tani Saluyu Lingkungan Limus Nunggal Selatan.
Ada dua jenis varietas unggul yang ditanam di demplot tersebut, yakni jagung varietas Garuda dan varietas Pertiwi. Kedua varietas pilihan tersebut memiliki masa tanam sekitar 3 bulan hingga siap memasuki masa panen raya.
Nantinya, hasil panen dari kedua varietas jagung ini akan dialokasikan khusus untuk memenuhi kebutuhan pakan unggas, terutama ayam peternak lokal.
Hal ini dinilai sangat strategis mengingat permintaan pasar terhadap komoditas pakan ternak di wilayah Ciamis masih sangat tinggi.
Sementara itu, rahasia kesuburan tanaman dalam proyek pengembangan jagung organik di Limus Nunggal ini terletak pada penggunaan pupuk buatan sendiri.
POMC memanfaatkan formula khusus berupa pupuk organik cair bernama biohumic aren yang diproduksi secara mandiri oleh komunitas.
Formula pupuk cair dan kompos padat ini memanfaatkan limbah industri aci kawung atau pohon aren yang banyak ditemukan di sekitar wilayah Ciamis.
Selama masa pertumbuhan vegetatif, para petani rutin melakukan penyemprotan pupuk cair tersebut sebanyak 4 kali secara berkala.
“Hasilnya alhamdulillah, penampilan tanaman jagungnya terlihat sangat segar dan cemerlang, bahkan usia 40 hari sudah muncul buah,” tutur Aep Mukodas, anggota Kelompok Tani Saluyu yang mengelola area lahan tersebut dengan penuh semangat.
Penghematan Biaya Produksi dan Rencana Ekspansi Regional
Aep Mukodas mengaku bahwa dirinya sudah bercocok tanam jagung di kawasan Limus Nunggal sejak 5 tahun yang lalu.
Namun, selama bertahun-tahun ia selalu bergantung pada penggunaan pupuk subsidi atau pupuk kimia anorganik dari toko pertanian.
Baru pada musim tanam kali ini, ia beralih total menggunakan pupuk organik cair yang difasilitasi oleh komunitas POMC.
Ia merasakan langsung dampak efisiensi biaya yang sangat signifikan setelah menerapkan metode pertanian ramah lingkungan ini.
“Biayanya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan pupuk kimia, dan kondisi tanaman setelah pakai pupuk organik ini justru sangat menjanjikan,” ungkap Aep dengan nada optimis.
Meskipun demikian, ia mengakui masih ada sedikit kendala berupa serangan hama ulat grayak di beberapa titik daun tanaman.
Di sisi lain, para petani berharap serangan hama minor ini tidak sampai mengganggu total volume produksi saat panen nanti.
Langkah antisipasi alami menggunakan agen hayati pun kini mulai dipersiapkan oleh tim ahli dari komunitas POMC.
H Yanto menegaskan bahwa POMC akan terus konsisten menjalankan visi pengembangan jagung organik di Limus Nunggal berbasis kearifan lokal.
Pihaknya berkomitmen untuk selalu memanfaatkan potensi limbah organik lokal agar memiliki nilai ekonomis yang tinggi bagi masyarakat.
Dalam dua tahun terakhir, rekam jejak POMC dalam mengampanyekan pertanian organik memang tergolong sangat masif dan terstruktur.
Gerakan ini diawali dari budidaya padi organik di beberapa lokasi strategis, termasuk di kawasan situs bersejarah Komplek Situs Jambansari Ciamis.
Setelah sukses dengan komoditas padi, mereka mulai melebarkan sayap dengan mengembangkan budidaya kopi organik di wilayah Panawangan dan Panjalu.
Memasuki pertengahan tahun 2026, barulah fokus beralih pada pengembangan jagung organik di Limus Nunggal sebagai program unggulan terbaru.
Potensi lahan di wilayah ini sebenarnya masih sangat luas, yakni mencapai 25 hektare yang siap untuk diolah secara bertahap.
Ke depan, POMC juga sudah menyusun rencana matang untuk mereplikasi sistem pertanian sukses ini ke luar wilayah Ciamis.
“Kami berencana untuk segera memperluas jaringan pengembangan jagung organik di Limus Nunggal ini ke wilayah Garut dan Sukaraja Tasikmalaya,” jelas H Yanto memaparkan target jangka panjang komunitasnya.
Bahkan, dalam waktu dekat ini, POMC juga akan mengalihfungsikan sebagian lahan sawah di Komplek Situs Jambansari Ciamis untuk dijadikan demplot jagung baru.
Langkah ini diambil untuk memperbanyak pusat edukasi pertanian organik bagi masyarakat perkotaan.
Melalui program pengembangan jagung organik di Limus Nunggal, diharapkan tanah-tanah pertanian yang mulai jenuh akibat kimia bisa kembali subur.
Lingkungan yang sehat dipastikan akan melahirkan komoditas pangan yang sehat pula bagi generasi masa depan.
“Kami akan terus bersemangat mengembangkan pertanian organik demi menyuburkan kembali sawah dan kebun, sekaligus menghasilkan komoditas sehat untuk anak cucu kita,” punggawa POMC tersebut mengakhiri pembicaraan.





