
Masalah tumbuh kembang anak masih menjadi tantangan besar yang memerlukan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat sejak dini.
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi penampilan fisik, tetapi juga berpotensi merusak masa depan generasi bangsa akibat penurunan kecerdasan yang bersifat permanen.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mengenali secara mendalam mengenai ciri-ciri stunting pada anak agar langkah intervensi dan penanganan medis dapat dilakukan secara cepat, tepat, serta efektif.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, dr. Rizali Sofyan, melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, dr. Eni Rochaeni, menegaskan bahwa pemahaman orang tua adalah kunci utama.
Stunting sendiri merupakan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang serta infeksi berulang.
Masalah ini biasanya mulai mengintai sejak masa kehamilan hingga anak menginjak usia dua tahun, atau yang dikenal dengan periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ringkasan Berita
Memahami Ciri-Ciri Stunting pada Anak Berdasarkan Standar Medis
Menurut penjelasan dr. Eni Rochaeni, salah satu ciri-ciri stunting pada anak yang paling mudah dikenali secara kasat mata adalah postur tubuh yang tampak lebih pendek.
Banyak orang tua yang keliru dan menganggap kondisi ini sebagai faktor genetik semata, padahal ada indikator medis yang jelas dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Secara medis, tinggi badan anak yang mengalami stunting berada di bawah minus dua standar deviasi (-2 SD) pada kurva pertumbuhan resmi WHO,” ujar dr. Eni saat memberikan keterangan resmi.
Lebih lanjut, dr. Eni mengingatkan bahwa ciri-ciri stunting pada anak tidak boleh hanya dilihat dari tinggi badannya saja.
Dampak yang jauh lebih berbahaya justru menyerang organ dalam dan fungsi otak anak.
Ketika asupan nutrisi harian tidak terpenuhi, tubuh anak akan memprioritaskan energi yang tersisa untuk bertahan hidup, sehingga perkembangan otak menjadi terhambat.
Gangguan Kognitif dan Motorik yang Mengintai
Selain masalah fisik, ciri-ciri stunting pada anak juga sangat terlihat dari penurunan kemampuan fungsional mereka.
Anak-anak yang mengalami masalah gizi kronis ini umumnya menunjukkan keterlambatan yang signifikan pada kemampuan motorik, baik kasar maupun halus.
Mereka juga cenderung mengalami keterlambatan bicara (speech delay) jika dibandingkan dengan teman-teman sebayanya.
Ketika memasuki usia sekolah, ciri-ciri stunting pada anak ini akan semakin bermanifestasi dalam bentuk kesulitan konsentrasi dan penurunan kemampuan belajar.
Akibat fungsi kognitif yang tidak berkembang optimal, anak akan kesulitan menyerap materi pelajaran, yang pada akhirnya dapat menurunkan prestasi akademik mereka di sekolah.
Menurunnya Sistem Imunitas Tubuh
Indikator lain dari ciri-ciri stunting pada anak yang wajib diwaspadai adalah kerentanan terhadap penyakit. Anak dengan kondisi stunting umumnya memiliki sistem kekebalan tubuh atau imunitas yang sangat rendah.
Kondisi imunitas yang lemah ini membuat mereka menjadi sangat mudah terserang berbagai penyakit infeksi, seperti diare, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), hingga tuberkulosis.
Malangnya, infeksi yang terjadi secara berulang ini justru akan memperburuk kondisi stunting, sehingga menciptakan siklus penyakit dan gizi buruk yang sulit diputus jika tidak ditangani dengan benar.
Faktor Risiko dan Pentingnya Protein Hewani
Dr. Eni menggarisbawahi bahwa munculnya ciri-ciri stunting pada anak dipengaruhi oleh multisektor faktor yang saling berkaitan.
Faktor utama jelas berasal dari asupan nutrisi yang tidak memadai, terutama selama masa kritis 1.000 HPK. Kurangnya pengetahuan mengenai pola asuh yang tepat juga menjadi pemicu utama di lapangan.
Banyak orang tua yang belum memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang beragam.
Padahal, anak sangat membutuhkan asupan protein hewani tinggi seperti telur, ikan, susu, dan daging untuk menunjang pertumbuhan tulangnya.
Selain faktor makanan, kondisi sanitasi lingkungan yang buruk serta akses air bersih yang terbatas juga berkontribusi besar dalam meningkatkan risiko infeksi berulang pada balita.
Tren Penurunan Kasus Stunting di Kabupaten Ciamis
Meskipun tantangan ini cukup berat, Pemerintah Kabupaten Ciamis terus menunjukkan komitmen yang kuat dalam menekan kemunculan ciri-ciri stunting pada anak.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kabupaten Ciamis pada tahun 2023 berada di angka 25,45 persen.
Berkat kerja keras berbagai pihak, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 20,3 persen pada tahun 2024.
Meskipun pada tahun 2025 survei SSGI tidak dilaksanakan secara nasional, Dinas Kesehatan Ciamis tetap melakukan pemantauan ketat melalui Bulan Penimbangan Balita (BPB).
Hasil dari BPB tahun 2025 menunjukkan angka yang sangat menggembirakan, di mana angka stunting di Ciamis mengalami penurunan drastis hingga menyentuh angka 4,39 persen.
Dengan memahami dan jeli melihat ciri-ciri stunting pada anak sejak dini, Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis berharap masyarakat dapat lebih proaktif.
Kolaborasi antara orang tua, kader posyandu, dan tenaga medis diharapkan mampu melahirkan generasi masa depan Ciamis yang sehat, cerdas, berdaya saing tinggi, dan bebas dari stunting.





