
Kasus kematian mendadak belasan ekor ayam kampung di Lingkungan Bolenglang, RT 04 RW 05, Desa Kertasari, Kabupaten Ciamis, menarik perhatian Balai Veteriner Subang.
Pada Rabu (17/9/2025) sore, tim khusus diterjunkan untuk melakukan investigasi lapangan dan meneliti penyebab kejadian yang meresahkan warga ini.
Petugas dari Balai Veteriner Subang tiba di lokasi kejadian dengan didampingi tim Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dan Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan dan Perikanan Ciamis yang dipimpin drh. Intan.
Dalam pemeriksaan, tim mengambil sampel berupa kotoran ayam dari kandang untuk diuji laboratorium. Selain itu, petugas juga mencatat kronologi kejadian dari warga, guna menelusuri pola penyebaran penyakit yang bersifat sporadis.
Dalam sepekan terakhir, warga setempat melaporkan belasan ekor ayam kampung mati mendadak.
Gejala yang muncul sebelum kematian antara lain ayam terlihat lemah, enggan bergerak, kehilangan nafsu makan, hingga tubuh bergetar.
Esok harinya, ayam-ayam tersebut ditemukan mati dengan jengger berwarna pucat dan menghitam.
Mang Eyi, salah satu warga terdampak, mengaku kehilangan hampir seluruh ternaknya.
Dari 14 ekor ayam yang ia pelihara, 11 ekor mati, dua ekor terpaksa disembelih setelah menunjukkan gejala, dan hanya satu ekor yang masih bertahan hidup.
Kondisi serupa dialami Dani, tetangga Mang Eyi. Dari lima ekor ayam miliknya, dua ditemukan mati, satu ekor disembelih karena sakit, dan seekor induk ayam yang sedang mengeram juga menunjukkan gejala serupa, namun kini tidak diketahui keberadaannya. Hanya satu ekor ayam betina dewasa yang berhasil diselamatkan setelah dipindahkan ke kandang yang lebih jauh.
Diduga Akibat Penyakit Tetelo (ND)
Ketua Kelompok Kerja Substansi (KKS) Kesmavet Dinas Peternakan dan Perikanan Ciamis, Budiono SPt, menduga kasus ini dipicu oleh penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND). Penyakit ini dikenal sering menyerang unggas, terutama saat pergantian musim.
“Serangan penyakit biasanya meningkat saat pancaroba. Curah hujan yang tinggi membuat daya tahan tubuh ayam menurun sehingga lebih rentan terserang penyakit,” jelas Budiono.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kepastian penyebab kematian masih menunggu hasil uji laboratorium dari Balai Veteriner Subang.
Imbauan Pencegahan untuk Warga
Kabid Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan dan Perikanan Ciamis, drh. Asri Kurnia, meminta warga untuk meningkatkan biosekuriti di kandang ayam masing-masing.
“Penyemprotan desinfektan sangat penting dilakukan. Kalau tidak ada, bisa juga menggunakan air bekas cucian pakaian untuk disemprotkan ke kandang,” ujarnya.
Selain itu, warga diimbau untuk segera memvaksin ayam yang masih sehat dan memusnahkan bangkai ayam dengan cara mengubur agar penularan tidak meluas. Mengingat penyebaran penyakit ini cukup cepat, langkah pencegahan dianggap krusial untuk melindungi unggas milik warga lainnya.
Menunggu Hasil Resmi
Hingga kini, masyarakat masih menantikan hasil penelitian dari Balai Veteriner Subang yang akan memastikan penyebab kematian belasan ayam kampung di Bolenglang. Hasil tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penanganan lebih lanjut agar kasus serupa tidak kembali terulang.





