
Memasuki pekan kedua Februari, tradisi menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah mulai terasa di berbagai wilayah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Ciamis.
Salah satu tradisi yang masih terus dilestarikan masyarakat Sunda adalah mungggahan, sebuah momentum kebersamaan yang dimaknai sebagai persiapan lahir dan batin sebelum memasuki bulan penuh ibadah.
Tradisi tersebut turut dihidupkan oleh komunitas pecinta sepeda motor Vespa yang tergabung dalam Asli Scooter Ciamis.
Pada Minggu, 8 Februari, komunitas ini menggelar kegiatan bertajuk “Munggahan On The Road”, dengan mengemas nilai tradisi munggahan melalui aktivitas berkendara santai menyusuri jalur pedesaan di Kabupaten Ciamis.
Puluhan pengendara Vespa dari berbagai tipe turut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Rute perjalanan dimulai dari pusat Kota Ciamis, kemudian melintasi Manonjaya, masuk ke kawasan Leuwi Keris, Cidolog, Kalijaya, hingga berakhir di wilayah Bebek Rica-rica, Kecamatan Pamarican.
Berbeda dengan turing jarak jauh, peserta memilih konsep riding tipis-tipis guna menikmati suasana alam pedesaan yang sejuk dan asri.
Ketua panitia sekaligus koordinator Asli Scooter Ciamis, Adang Ija, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas otomotif, melainkan bentuk pelestarian tradisi munggahan yang dikemas secara kekinian tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.
“Munggahan ini menjadi sarana silaturahmi dan saling memaafkan sebelum memasuki bulan Ramadan. Melalui riding bersama, kami ingin menghadirkan suasana kebersamaan yang sederhana namun bermakna,” ujar Adang.
Setibanya di titik akhir, kegiatan dilanjutkan dengan tradisi botram atau makan bersama.
Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus wujud rasa syukur atas kesempatan untuk kembali dipertemukan menjelang Ramadan yang diperkirakan jatuh pada 18–19 Februari mendatang.
Selain menjaga nilai tradisi, komunitas ini juga menekankan pentingnya keselamatan berkendara.
Seluruh peserta diwajibkan menerapkan safety riding, mematuhi etika berlalu lintas, serta menggunakan perlengkapan berkendara secara lengkap selama perjalanan.
Tidak hanya itu, momentum munggahan juga dimanfaatkan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Termasuk diskusi ringan seputar perawatan sepeda motor Vespa agar tetap prima selama digunakan untuk aktivitas berkendara dan mobilitas di bulan Ramadan.
Adang menambahkan, tradisi munggahan dengan konsep riding diperkirakan akan terus berkembang dan diminati oleh berbagai komunitas otomotif lainnya.
Menurutnya, menjelang Ramadan, banyak komunitas yang memilih memadukan kegiatan hobi dengan nilai kebersamaan dan spiritualitas.
“Tradisi munggahan dengan cara riding ini biasanya meningkat menjelang Ramadan. Selain kami, komunitas otomotif lain juga sudah menjadwalkan agenda serupa ke berbagai destinasi bernuansa alam maupun religi,” pungkasnya.





