
Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya berkolaborasi dengan elemen masyarakat menggelar diskusi publik untuk merumuskan strategi pengendalian inflasi di daerah yang kian menantang.
Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap fenomena alih fungsi lahan yang memicu lonjakan harga pangan di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Ciamis.
Kegiatan strategis yang berlangsung di Aula Hotel Tyara Plaza Ciamis ini menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor guna menjaga stabilitas ekonomi masyarakat bawah.
Ketidakpastian iklim global yang kian ekstrem kian mempertegas bahwa ketahanan ekonomi lokal harus segera diperkuat melalui kebijakan yang taktis, integratif, dan melibatkan seluruh komponen warga secara berkesinambungan.
Dunia saat ini sedang mengalami perubahan ekologis yang sangat masif dan berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional.
Bumi yang dahulunya hijau dengan hamparan lahan pertanian kini mulai didominasi oleh deretan gedung tinggi dan kawasan industri yang masif.
Dampak nyata dari menyusutnya lahan produktif ini adalah meroketnya harga kebutuhan pokok akibat penurunan jumlah produksi lokal secara drastis.
Oleh karena itu, skema pengendalian inflasi di daerah harus segera diubah dengan melibatkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan warga, bukan lagi sekadar mengandalkan kebijakan top-down dari pemerintah pusat semata.
Ringkasan Berita
Urgensi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Rumah
Penyusutan lahan peternakan dan pertanian secara drastis menjadi pemicu utama mengapa harga pangan terus meroket belakangan ini.
Situasi global yang tidak menentu, ditambah jalur logistik yang kian mahal, memperparah keadaan ekonomi di tingkat akar rumput.
Kondisi pelik tersebut menuntut setiap wilayah untuk mandiri dan kreatif dalam mencukupi kebutuhan pokok harian mereka.
Guna mengatasi ancaman krisis yang lebih dalam, masyarakat diajak untuk bergerak bersama tim pengendali inflasi, Bank Indonesia, serta instansi terkait lainnya.
Salah satu solusi jangka pendek yang paling realistis dan mudah diterapkan adalah memaksimalkan pekarangan rumah sebagai lumbung pangan mini.
Melalui optimalisasi lahan sempit ini, ketergantungan masyarakat terhadap pasar luar daerah dapat ditekan secara signifikan.
Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat program pengendalian inflasi di daerah berbasis komunitas, sekaligus menjadi benteng pertahanan pertama bagi ketahanan pangan keluarga.
Pembagian bibit tanaman produktif dan edukasi metode pertanian hidroponik modern dapat menjadi stimulus awal yang diberikan oleh instansi pembina.
Tantangan ekonomi yang melanda saat ini tidak akan pernah bisa diselesaikan jika hanya bertumpu pada kebijakan konvensional pemerintah daerah.
Semua pihak, mulai dari pelaku usaha, akademisi, organisasi kepemudaan, hingga ibu rumah tangga, wajib mengambil peran aktif.
Mengubah lahan tidur di sekitar tempat tinggal menjadi area produktif yang menghasilkan sayuran dan bumbu dapur adalah langkah awal yang revolusioner untuk meredam gejolak harga yang kerap fluktuatif di pasar tradisional.
Hal ini merupakan bagian integral dari rantai pasok pengendalian inflasi di daerah yang mandiri.
Empat Langkah Taktis AMPI Ciamis dalam Pengendalian Inflasi di Daerah
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPD AMPI Ciamis, Mohamad Ijudin, memaparkan empat langkah taktis yang harus segera dieksekusi demi menjaga daya beli masyarakat.
Menurutnya, pengendalian inflasi di daerah memerlukan formula yang komprehensif, di mana kebijakan tidak hanya fokus pada aspek logistik dan ketersediaan barang saja, melainkan juga harus menyentuh aspek psikologis massa agar tidak terjadi kepanikan di pasar umum.
Berikut adalah empat poin rekomendasi dari AMPI Ciamis untuk memperkuat stabilitas ekonomi:
- Komunikasi Publik yang Menyejukkan: Pemerintah harus membangun narasi yang transparan mengenai stok pangan namun tetap tenang agar tidak memicu perilaku panic buying di tengah masyarakat.
- Optimalisasi Peran TPID: Mengaktifkan kembali Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota agar bekerja lebih sinergis dan konsisten dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.
- Pengawasan Ketat BBM Bersubsidi: Memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran kepada masyarakat miskin melalui pengawasan ketat oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dan aparat penegak hukum guna menekan biaya transportasi logistik.
- Gerakan Tanam Pangan Cepat Panen: Menggalakkan penanaman komoditas sensitif seperti cabai merah, rawit, dan bawang di tingkat rumah tangga sebagai upaya pemenuhan mandiri jangka panjang.
Rekomendasi taktis ini diharapkan menjadi stimulan bagi penguatan kebijakan pengendalian inflasi di daerah secara riil.
Langkah-langkah tersebut dinilai mampu memotong birokrasi distribusi pangan yang terlalu panjang dan kerap memicu spekulasi harga dari para tengkulak nakal di lapangan.
“Gerakan menanam tanaman pangan cepat panen ini tentunya perlu diinisiasi oleh seluruh komponen masyarakat secara masif agar hasilnya terasa nyata bagi ketahanan dapur kita,” tegas Mohamad Ijudin di hadapan para peserta diskusi.
Melalui komitmen bersama antara Bank Indonesia, tokoh masyarakat, dan organisasi kepemudaan seperti AMPI, upaya pengendalian inflasi di daerah diharapkan tidak hanya menjadi jargon seremonial semata.
Implementasi nyata di lapangan, mulai dari pengawasan subsidi hingga gerakan menanam mandiri, menjadi kunci utama agar Kabupaten Ciamis tetap memiliki daya tahan ekonomi yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Langkah proaktif yang berkelanjutan ini diproyeksikan mampu menjaga daya beli masyarakat tetap stabil sekaligus menekan laju inflasi ke titik terendah.





