
Ratusan petani yang tergabung dalam Forum Peduli Daerah Irigasi (FPDI) Kecamatan Ciamis turun tangan memperbaiki longsoran pada saluran Daerah Irigasi (D.I.) Cipalih–Nagawiru, Kamis (21/8/2025).
Aksi gotong royong ini menjadi bukti nyata kepedulian para petani terhadap keberlangsungan sarana irigasi yang menjadi penopang utama produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi di lapangan, longsor itu terjadi pada Sabtu (16/8/2025). Penyebabnya diduga berasal dari rembesan air sebuah kolam yang berada di bagian atas jalur irigasi.
Akibat kejadian tersebut, salah satu bagian penting di kawasan Bendungan Nagawiru, tepatnya di lingkungan Margasari, Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Ciamis, mengalami kerusakan serius dan perlu segera diperbaiki.
Ketua Forum Peduli Daerah Irigasi Kecamatan Ciamis, Dodi Suprapto, mengungkapkan bahwa upaya perbaikan dilakukan secara swadaya dengan melibatkan para petani dari berbagai wilayah sekitar.
“Kami bersama-sama para petani dari FPDI Kecamatan Ciamis memperbaiki longsoran di pintu pembagi Bendungan Nagawiru. Semua dilakukan dengan gotong royong, tanpa menunggu waktu lama, karena kerusakan ini menyangkut kebutuhan vital para petani,” jelas Dodi.
Para petani yang turut serta berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Kelurahan Ciamis, Cigembor, Linggasari, serta Desa Dewasari dan Desa Handapherang yang berada di Kecamatan Cijeunjing.
Kehadiran mereka menjadi wujud solidaritas sekaligus rasa memiliki terhadap sarana irigasi yang sudah beroperasi sejak tahun 1977.
“Ini adalah bentuk kepedulian nyata dari para petani. Mereka menyadari bahwa tanpa irigasi yang terjaga dengan baik, produktivitas pertanian akan sangat terganggu,” tambah Dodi.
Selain petani, aksi gotong royong tersebut juga melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat.
Hadir di lapangan perwakilan dari Kelurahan Sindangrasa, UPTD PUPR Kecamatan Ciamis, UPTD Alat Berat Dinas PUPR Kabupaten Ciamis, serta unsur kelembagaan seperti PPO, LPM dan Pokmas.
Dodi menegaskan bahwa sinergi antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur irigasi.
“Kebersamaan ini menunjukkan bahwa kepedulian tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga dari pemerintah. Semua pihak berperan penting dalam menjaga dan memperbaiki sarana irigasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dodi menekankan bahwa penanganan kondisi daerah irigasi harus dilakukan secara cepat dan tepat, baik dari sisi pemetaan permasalahan, perencanaan solusi pembangunan, maupun aspek pemeliharaan.
“Kerusakan irigasi jelas akan berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat. Oleh karena itu, fasilitas pengairan ini harus diawasi dan dirawat secara berkelanjutan, agar tetap berfungsi optimal,” pungkasnya.





