
Kondisi sektor perunggasan di wilayah Priangan Timur kini sedang berada dalam fase yang sangat mengkhawatirkan bagi para pengusaha.
Berdasarkan laporan terbaru, harga telur di tingkat peternak di Ciamis mengalami penurunan yang sangat tajam dalam satu bulan terakhir ini.
Situasi ini memicu tekanan ekonomi yang luar biasa berat bagi para pelaku usaha peternakan rakyat skala kecil atau gurem.
Koordinator Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Priangan Timur, Ir. H. Kuswara Suwarman, M.Sc., membenarkan fenomena buruk tersebut.
Menurutnya, para peternak kini harus menanggung kerugian finansial yang signifikan setiap hari akibat ketidakseimbangan harga pasar yang terjadi.
Situasi perunggasan rakyat ini dinilai sudah memasuki tahap yang memerlukan perhatian serta intervensi serius dari pihak pemerintah pusat.
Ringkasan Berita
Dampak Penurunan Harga Telur di Tingkat Peternak di Ciamis
Data lapangan menunjukkan bahwa tren penurunan harga ini terjadi secara konsisten dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan sama sekali.
Pada tanggal 10 Juni 2026, harga telur di tingkat peternak di Ciamis sebenarnya masih bertahan di kisaran Rp22.000 per kilogram.
Namun, memasuki akhir bulan Juni, grafik pergerakan nilai jual komoditas tersebut justru merosot tajam tanpa adanya kendali pasar.
Pada tanggal 26 Juni 2026, nilai jual telur ayam terus mengalami kontraksi yang sangat hebat di kandang-kandang produksi.
Puncaknya, dua hari lalu harga telur di tingkat peternak di Ciamis merosot hingga menyentuh angka Rp18.650 sampai Rp19.000 per kilogram.
Penurunan yang terjadi secara bersamaan ini tentu saja langsung memukul telak arus kas operasional para peternak mandiri lokal.
Selain komoditas telur, hantaman ekonomi yang serupa ternyata juga dirasakan oleh para peternak ayam broiler atau ayam pedaging.
Saat ini, kisaran harga livebird ayam broiler hidup di pasaran hanya berkisar antara Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram saja.
Sementara itu, biaya pokok produksi untuk ayam pedaging sendiri telah mencapai rentang Rp20.000 hingga Rp21.000 setiap kilogramnya.
Ketimpangan Biaya Pokok Produksi (BPP) yang Mencekik
Anjloknya harga telur di tingkat peternak di Ciamis menjadi sangat menyakitkan karena tidak dibarengi dengan penurunan biaya operasional budidaya.
Biaya Pokok Produksi (BPP) atau BEP untuk tingkat perunggasan rakyat saat ini berada di kisaran Rp21.000 per kilogram.
Akibatnya, ada selisih margin negatif sangat besar yang harus ditutupi secara mandiri oleh para peternak lokal tersebut.
“Peternak tengah menanggung beban selisih harga yang tidak menguntungkan sama sekali di dalam ekosistem pasar saat ini,” ujar Kuswara.
Kenyataannya, harga telur di tingkat peternak di Ciamis hanya berada di kisaran Rp19.000, sedangkan BEP riil mencapai Rp22.000 per kilogram.
Di sisi lain, turunnya harga pangan asal unggas ini memang menjadi sebuah kabar baik bagi masyarakat luas selaku konsumen.
Namun, bagi ekosistem peternakan rakyat skala kecil, kondisi fluktuasi ini justru menciptakan iklim usaha yang sangat tidak sehat.
Komponen pakan pabrikan yang tetap mahal membuat margin keuntungan peternak ayam petelur maupun pedaging semakin menipis dan habis.
Desakan Evaluasi Tata Niaga Perunggasan Nasional
Melihat fenomena anjloknya harga telur di tingkat peternak di Ciamis, organisasi GOPAN meminta adanya langkah konkret dari pembuat kebijakan.
Kesejahteraan peternak rakyat harus dipandang sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional jangka panjang.
Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa intervensi, gelombang kebangkrutan massal dari para peternak diprediksi akan segera terjadi dalam waktu dekat.
“Kami sangat memahami bahwa stabilitas harga pangan merupakan kepentingan bersama yang harus dijaga oleh seluruh pihak,” kata Kuswara.
Akan tetapi, stabilitas tersebut juga harus diimbangi dengan keberlangsungan usaha dari para peternak rakyat itu sendiri di lapangan.
Jangan sampai situasi murah di tingkat konsumen ini mengorbankan nasib produsen yang kini terancam gulung tikar secara massal.
Oleh karena itu, GOPAN mendesak lembaga negara terkait untuk segera melakukan kajian komprehensif terhadap tata niaga perunggasan nasional.
Harus ada instrumen baru yang mampu mengendalikan pergerakan modal serta harga pakan secara nasional agar lebih berkeadilan.
Kebijakan stabilisasi harga yang ideal mutlak diperlukan agar mampu melindungi segenap komponen peternakan dari gejolak pasar bebas.
Komitmen GOPAN Menjaga Keberlanjutan Peternak Rakyat
Sebagai langkah strategis ke depan, diperlukan penguatan kemitraan yang adil antara korporasi besar dan juga peternak mandiri.
GOPAN Priangan Timur menegaskan komitmennya untuk terus konsisten mengawal serta memperjuangkan seluruh aspirasi dari peternak rakyat terkini.
Sinergi yang kuat antara pelaku usaha dan pemerintah diharapkan dapat segera mewujudkan iklim bisnis yang sehat dan aman.
Melalui langkah mitigasi yang cepat, diharapkan kestabilan harga telur di tingkat peternak di Ciamis dapat segera terwujud kembali secepatnya.
Sektor peternakan unggas nasional harus diarahkan agar menjadi industri yang memiliki daya saing tinggi, berkeadilan, dan juga berkelanjutan.
Penyelamatan nasib peternakan gurem hari ini adalah kunci utama untuk menghindari krisis pasokan pangan di masa depan nanti.
Melalui pengawasan tata niaga yang ketat, fluktuasi ekstrem seperti penurunan harga telur di tingkat peternak di Ciamis diharapkan tidak terulang.
Dengan demikian, roda perekonomian pedesaan yang ditopang oleh sektor perunggasan dapat terus berjalan dengan stabil dan saling menguntungkan.





