
Industri perunggasan rakyat di Jawa Barat kini sedang berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Sejumlah peternak ayam petelur Ciamis rugi besar setiap hari akibat himpitan biaya produksi yang tidak sebanding dengan pendapatan.
Hantaman badai ekonomi ini terjadi karena lonjakan harga pakan pabrikan yang terus membubung tinggi. Sementara itu, di sisi lain harga jual telur justru merosot tajam ke titik terendah.
Dilema usaha yang kian terjepit ini membuat banyak pelaku usaha terancam gulung tikar dalam waktu dekat. Situasi riil di lapangan menunjukkan bahwa para peternak mandiri tidak lagi mampu menutupi biaya operasional harian.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa intervensi pihak terkait, kebangkrutan massal sentra perunggasan terbesar tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, perlu penanganan segera dari dinas terkait.
Ringkasan Berita
Nestapa Peternak Kecil Dusun Timbang Windu
Kenyataan pahit ini salah satunya dirasakan oleh Eka Muntaha, seorang anggota Kelompok Peternak “Maju Berdikari”. Usahanya di Dusun Timbang Windu, Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis kini sedang di ujung tanduk.
Saat ditemui oleh wartawan Reportasee.com pada Minggu (28/6/2026), ia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Eka membeberkan bahwa tabungannya kian menipis karena terus-menerus digunakan untuk menyubsidi operasional kandang.
“Setiap hari kami harus nombok untuk bisa bertahan hidup,” keluh Eka dengan nada pasrah kepada media.
“Penghasilan dari penjualan telur tiap hari tidak cukup untuk membeli pakan harian,” imbuhnya lagi dengan sedih.
Saat ini, Eka bersama kelompoknya mengelola peternakan ayam petelur skala kecil berkapasitas 600 ekor. Secara produktivitas, performa ayam-ayam tersebut sebenarnya masih tergolong sangat bagus dan normal.
Setiap hari, rata-rata persentase keberhasilan bertelur dari seluruh ayam tersebut mampu mencapai angka 85 persen. Jumlah tersebut setara dengan produksi rata-rata harian sebanyak 26 kilogram telur ayam ras segar.
Namun, performa produksi yang baik itu justru berubah menjadi petaka finansial akibat struktur biaya yang timpang. Itulah alasan mengapa banyak peternak ayam petelur Ciamis rugi besar belakangan ini.
Masalah utamanya terletak pada kebutuhan pakan harian yang sangat besar untuk populasi 600 ekor ayam tersebut. Setiap hari, kawanan unggas ini menghabiskan pakan hingga mencapai 70 kilogram.
“Kami menggunakan pakan pabrikan sepenuhnya, dan kebutuhannya konsisten 70 kg pakan tiap hari,” jelas Eka.
“Biaya produksi terbesar dalam usaha ini memang dialokasikan untuk komponen pakan,” imbuh peternak lokal tersebut.
Kronologi Kenaikan Harga Pakan dan Anjloknya Harga Telur
Kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh Eka selama dua bulan terakhir adalah fluktuasi harga pakan. Komoditas pakan ayam petelur terpantau terus merangkak naik secara agresif dari waktu ke waktu.
Dua bulan lalu, harga pakan ayam petelur di tingkat agen masih berada di angka Rp 6.800 per kilogram. Tidak berselang lama, harga tersebut berangsur-angsur naik menjadi Rp 7.000 per kilogram.
Puncaknya terjadi dalam seminggu terakhir ini, di mana harga pakan pabrikan sudah menembus angka Rp 7.200 per kilogram. Kenaikan harga ini langsung mencekik margin keuntungan para peternak.
Ketika harga pakan melambung tinggi dan harga jual telur justru hancur lebur, otomatis membuat peternak ayam petelur Ciamis rugi berlipat ganda. Kondisi ini membuat mereka semakin megap-megap mengatur arus kas.
Sebelumnya, harga telur ayam ras di tingkat peternak Ciamis sempat menyentuh angka yang cukup ideal. Harga komoditas pangan ini sempat bertahan di angka Rp 22.000 per kilogram.
Namun, setelah itu tren pasar menunjukkan penurunan yang sangat drastis dari hari ke hari. Bahkan dalam dua hari terakhir ini, harga telur di kandang ambruk hingga menyentuh Rp 18.000 saja.
Penurunan harga yang ekstrem ini membuat kalkulasi bisnis peternak menjadi minus sangat besar. Kondisi ini menuntut adanya strategi bertahan yang ekstra keras agar operasional kandang tidak berhenti total.
Ketika harga telur anjlok dan harga pakan terus meroket, maka momentum peternak ayam petelur Ciamis rugi menjadi kenyataan pahit. Kerugian ini tidak bisa dihindari oleh semua anggota kelompok tani.
With tingkat harga jual telur yang hanya Rp 18.000 per kilogram, pendapatan kotor tidak mampu menyentuh titik impas. Hasil panen telur harian tidak akan pernah cukup untuk menebus karung pakan baru.
Jika dihitung secara matematis, hasil panen 26 kilogram telur per hari hanya menghasilkan uang sebesar Rp 468.000. Padahal, pengeluaran untuk membeli pakan harian sudah melampaui omzet tersebut.
Sementara itu, biaya untuk membeli 70 kilogram pakan dengan harga Rp 7.200 adalah sebesar Rp 504.000. Komparasi angka yang tidak seimbang ini menunjukkan dengan jelas mengapa para peternak ayam petelur Ciamis rugi besar.
“Jadi setiap hari kami harus nombok sebesar Rp 36.000 hanya untuk urusan pakan saja,” jelas Eka.
“Kondisi sekarang memang sangat berat bagi kami karena tiap hari terus merugi,” keluhnya dengan wajah masyghul.
Mengapa Peternak Ayam Petelur Ciamis Rugi Masal?
Ketidakpastian ini membuat para pelaku usaha merasa bingung untuk memikirkan bagaimana kelangsungan usaha mereka ke depan. Mereka dituntut memutar otak lebih keras agar aset usahanya tidak habis terjual.
Sebagai langkah darurat, beberapa peternak terpaksa mengambil jalan keluar dengan menjual telur langsung ke konsumen akhir. Strategi ini diambil demi mendapatkan harga yang sedikit lebih baik di pasar.
Namun, strategi penjualan langsung ini juga memiliki kelemahan karena volume yang terserap pasar lokal sangat terbatas. Selain itu, para peternak juga terpaksa melakukan efisiensi ketat di area kandang.
Mereka terpaksa berhemat demi meminimalkan pengeluaran untuk pos pengelolaan serta perawatan kebersihan fasilitas kandang. Langkah ekstrem ini dilakukan agar operasional harian tetap bisa berjalan merangkak.
Fenomena sulit ini ternyata tidak hanya monopoli peternak skala kecil, melainkan juga dirasakan oleh pengusaha skala besar. Seluruh lapisan pengusaha perunggasan di wilayah tersebut mengeluhkan hal serupa.
Berdasarkan pantauan asosiasi, fenomena peternak ayam petelur Ciamis rugi massal ini disebabkan oleh pasokan komoditas yang terlalu melimpah. Melimpahnya stok di pasar nasional membuat harga jatuh bebas.
Kondisi ini disinyalir merupakan bagian dari siklus pasar lima tahunan yang biasa melanda dunia perunggasan tanah air. Ditambah lagi, daya serap pasar domestik terpantau sedang mengalami penurunan signifikan.
Muncul dugaan kuat bahwa penurunan serapan ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal kebijakan pemenuhan gizi nasional. Fluktuasi ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi di tingkat peternak bawah.
Kejadian di mana peternak ayam petelur Ciamis rugi berturut-turut diduga terjadi karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang libur. Masa libur sekolah membuat serapan agen katering terhenti total.
Oleh karena itu, volume permintaan dari katering-katering penyedia program tersebut menurun drastis di berbagai daerah. Hal ini menciptakan surplus pasokan telur yang cukup masif di tingkat lokal.
Dampak dari macetnya serapan pasar ini membuat kondisi keuangan para peternak ayam petelur Ciamis rugi kian berdarah-darah. Mereka membutuhkan pertolongan darurat dari pemangku kebijakan setempat.
Jeritan Sentra Perunggasan Terbesar Jawa Barat
Melihat situasi yang kian kritis, Eka sangat berharap ada perhatian konkret dan nyata dari pemerintah. Harus ada langkah taktis yang cepat untuk menyelamatkan ekosistem perunggasan mandiri.
Menurutnya, campur tangan regulasi dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas harga jual telur di pasaran. Perlindungan harga di tingkat bawah akan menjadi penyelamat usaha rakyat.
Selain itu, tata kelola kepastian harga pakan juga harus diatur agar tidak membebani para peternak rakyat. Modal operasional yang terlalu tinggi bisa mematikan sisa-sisa kekuatan ekonomi peternak.
Perlindungan terhadap peternak lokal menjadi harga mati mengingat signifikansi wilayah ini terhadap ketahanan pangan regional. Bagaimanapun juga, Ciamis memegang peranan yang sangat vital di Jawa Barat.
Kabupaten Ciamis sejak lama dikenal luas sebagai salah satu sentra perunggasan rakyat terbesar di tatanan wilayah provinsi. Pasokan dari wilayah ini menjadi pilar utama pemenuhan gizi masyarakat.
Daerah ini juga tercatat sebagai wilayah produsen telur ayam ras terbesar keempat di Jabar dengan kapasitas 40 ton per hari. Potensi besar ini harus dijaga agar tidak hancur akibat fluktuasi pasar.
Jika masalah peternak ayam petelur Ciamis rugi ini dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi, stabilitas pangan provinsi akan terganggu. Pasokan telur untuk wilayah Jawa Barat terancam mengalami kelangkaan masif.





