
Organisasi Kemasyarakatan Irsyadul Madani Indonesia resmi dideklarasikan di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Dalam pernyataan resminya, pengurus menegaskan bahwa Ormas IMI siap antar Indonesia Emas 2045 melalui gerakan pembinaan sumber daya manusia yang berlandaskan integritas nasional.
Lahirnya organisasi kemasyarakatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan mendalam atas krisis multidimensi yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Ormas IMI hadir untuk mengawal momentum bonus demografi agar dapat dikelola secara optimal dan tidak berubah menjadi beban sosial di masa mendatang.
Sekretaris Jenderal IMI, Yuni Widiawati, S.IP., M.IP., mengungkapkan bahwa pembentukan organisasi ini terinspirasi langsung dari pemikiran mendalam dalam buku karya Muhamad Ijudin Rahmat yang berjudul Irsyadul Hayat.
Berandaskan gagasan dalam buku tersebut, pihak pengurus menaruh perhatian khusus pada seluruh sektor kehidupan bermasyarakat, bernegara, hukum, sosial, hingga tata kelola pemerintahan.
Pihaknya menilai bahwa penguatan nilai-nilai integritas merupakan kunci utama dalam mengatasi persoalan kebangsaan.
“Kami melihat Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan sejarah yang sangat menentukan,” kata Yuni saat menyampaikan keterangan resmi kepada wartawan di Padalarang, Bandung, Kamis (12/8/2026).
Yuni memaparkan bahwa di satu sisi Indonesia memiliki potensi besar berupa bonus demografi dengan 70 persen penduduk berada di usia produktif.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat stabil di angka 5 persen yang disokong oleh kekayaan sumber daya alam melimpah.
Namun di sisi lain, potensi besar tersebut dibayangi oleh ancaman krisis multidimensi yang dinilai nyata dan faktual.
Krisis ini berpotensi mengikis nilai-nilai keadaban bangsa apabila tidak diantisipasi melalui langkah-langkah pembinaan secara berkelanjutan.
Pilar Gerakan dan Program Utama Ormas IMI Siap Antar Indonesia Emas 2045
Guna merespons tantangan tersebut, visi strategis bahwa Ormas IMI siap antar Indonesia Emas 2045 diturunkan ke dalam sejumlah program kerja konkret yang menyasar berbagai sektor kehidupan.
Organisasi ini berkomitmen untuk memberikan perhatian khusus pada isu-isu politik, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, serta peningkatan mutu pendidikan nasional.
Di samping itu, masalah pengangguran terbuka, pencegahan bahaya narkoba, penanganan kenakalan remaja, dan revitalisasi semangat gotong royong turut menjadi prioritas utama.
Tantangan literasi digital dan maraknya disinformasi di era teknologi modern juga masuk ke dalam agenda pembinaan organisasi. Seluruh program dirancang untuk membentuk masyarakat yang mandiri, produktif, berilmu, dan memiliki daya saing global.
“Kami berharap kehadiran IMI tidak hanya berhenti pada momentum deklarasi saja, tetapi bisa membawa kebermanfaatan nyata bagi masyarakat luas,” ujar Yuni menuturkan harapannya.
Gagasan awal pendirian Irsyadul Madani Indonesia ini diinisiasi oleh dua tokoh muda nasional, yakni M. Ijudin Rahmat, S.H., S.H.I., M.H., dan Dede Adriansyah, S.IP.
Jajaran pendiri Ormas IMI juga dihuni oleh sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang profesi dan keahlian. Di antaranya Ir. Yadi Mulyadi, Ki Dalang Yoga, Dede Amung Sutarya, Samsahril Arrasid, Rama Pratama Putra, S.T., serta K.H. Ziki Abdul Halim.
Sementara itu, Ketua Harian IMI, Ir. Yadi Mulyadi, menegaskan bahwa kelahiran organisasi ini bermula dari keresahan bersama mengenai kondisi sosial dan etika publik yang kian menurun.
Melalui konsolidasi organisasi yang terstruktur, komitmen Ormas IMI siap antar Indonesia Emas 2045 diwujudkan dalam aksi nyata gerakan sosial kemasyarakatan di seluruh ranting ranting wilayah.
Secara filosofis dan etimologis, nama Irsyadul Madani memiliki makna mendalam yang menjadi fondasi pergerakan. Kata Irsyad mengandung arti bimbingan, petunjuk, serta pengarahan menuju kemaslahatan bersama.
Adapun kata Madani merepresentasikan cita-cita pembentukan masyarakat yang berkeadaban, berkemajuan, tertata, beretika, dan bermartabat, yang terinspirasi dari tatanan peradaban Madina.
Secara ideologis, IMI menegaskan komitmen tunggal bahwa NKRI adalah harga mati. Organisasi ini menetapkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa serta UUD 1945 sebagai konstitusi dan hukum tertinggi di Indonesia.
“Kami ingin hadirnya IMI tidak lahir untuk menjadi ormas yang sekadar ramai secara seremonial belaka,” tegas Yadi saat menjelaskan arah pergerakan organisasi.
Yadi menjelaskan bahwa IMI diposisikan sebagai gerakan pembinaan manusia (human development movement) yang berfokus pada tiga pilar utama.
Tiga pilar tersebut mencakup Merangkul Jiwa, Membangun Insan, dan Menghidupkan Peradaban.
Melalui pilar Merangkul Jiwa, organisasi berupaya pendekatan persuasif untuk membangun kepedulian sosial di tengah keragaman masyarakat.
Pilar Membangun Insan difokuskan pada pelatihan kapasitas kepemimpinan, keterampilan kerja, dan pendidikan karakter generasi muda.
Sedangkan pilar Menghidupkan Peradaban diarahkan pada pembenahan tatanan sosial berbasis etika, kebudayaan, dan hukum. Ketiga pilar ini saling terintegrasi demi melahirkan SDM unggul yang berakhlak mulia.
Dalam pelaksanaan program di lapangan, kesiapan Ormas IMI siap antar Indonesia Emas 2045 akan didukung oleh pembentukan jaringan kaderisasi hingga tingkat desa dan kelurahan.
Langkah ini diambil untuk memastikan proses pendampingan masyarakat dan penyaluran aspirasi warga dapat berjalan secara langsung serta efisien.
Program pelatihan kewirausahaan dan penguatan ekonomi berbasis komunitas juga disiapkan sebagai langkah awal operasional.
Kerja sama dengan pemerintah, lembaga pendidikan, serta elemen sipil lainnya akan terus dibangun secara inklusif. Sinergi antar-lembaga dinilai sangat penting untuk mempercepat pencapaian target-target pembangunan nasional.
Dengan resminya prosesi deklarasi ini, langkah Ormas IMI siap antar Indonesia Emas 2045 menjadi babak baru dalam peta gerakan sosial kemasyarakatan di Indonesia.





