
Pembangunan Gapura Perbatasan Ciamis dengan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang telah rampung pada tahun 2022 lalu, terus memanen apresiasi positif dari berbagai lapisan masyarakat.
Terletak di titik strategis Desa Sadapaingan, Kecamatan Panawangan, proyek infrastruktur ini tidak sekadar menjadi batas wilayah administratif semata.
Lebih dari itu, gerbang ikonik yang menelan anggaran hingga Rp 2,5 miliar tersebut kini bertransformasi menjadi kebanggaan daerah sekaligus urat nadi baru bagi perputaran ekonomi warga di sekitarnya.
Kehadiran gapura ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah daerah dalam menata wajah kabupaten.
Pasalnya, sebuah daerah perbatasan merupakan impresi pertama bagi siapa saja yang datang berkunjung.
Oleh karena itu, desain dan fungsi bangunan harus diperhitungkan dengan sangat matang agar memberikan dampak jangka panjang yang signifikan.
Ringkasan Berita
Filosofi Bangunan Sunda pada Gapura Perbatasan Ciamis
Menyoroti sisi estetika dan arsitektur, gerbang batas kota ini tidak dibangun dengan desain yang sembarangan.
Konsep yang diusung sangat kental dengan nilai historis dan pelestarian kebudayaan lokal.
Hal ini sengaja dilakukan agar siapapun yang melintas langsung menyadari identitas kuat dari wilayah Tatar Galuh.
Menurut keterangan pihak terkait, gerbang perbatasan ini mempunyai ciri khas tersendiri yang sangat mewakili identitas Kabupaten Ciamis.
Pendekatan visualnya jauh lebih menitikberatkan pada sentuhan arsitektur tradisional Sunda.
“Kalau konsepnya itu kita lebih ke bangunan Sunda atau Cula Ngapak pada bangunan gerbang perbatasan itu,” tutur Kasi pada Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPRP) Ciamis, Budi Setia Nugroho.
Penerapan konsep atap khas Sunda ini memberikan nuansa yang megah sekaligus ramah.
Secara tidak langsung, arsitektur ini menjadi medium edukasi bagi generasi muda dan para pelancong mengenai kekayaan budaya lokal yang masih terus dijaga kelestariannya di tengah arus modernisasi infrastruktur.
Realisasi Anggaran dan Linimasa Pembangunan
Mendirikan struktur monumental di ujung wilayah tentu membutuhkan perencanaan konstruksi dan alokasi dana yang tidak sedikit.
Anggaran sebesar Rp 2,5 miliar yang digelontorkan dinilai sepadan dengan hasil akhir yang berdiri kokoh saat ini.
Kepala Bidang Cipta Karya pada Dinas PUPRP Ciamis, Hikmat Talkanda, melalui Budi Setia Nugroho, memberikan penjelasan terperinci mengenai linimasa proyek tersebut.
Proses pembangunannya sendiri ternyata memakan waktu yang cukup panjang dan melewati berbagai tahapan krusial.
Pembangunan fisik gerbang perbatasan tersebut sejatinya telah berlangsung sejak tahun 2021.
Proses pengerjaannya diawasi secara ketat untuk memastikan kualitas material dan struktur bangunan sesuai dengan standar keamanan.
“Iya, kemarin telah selesai pada tahun 2022,” jelas Budi saat memberikan keterangan pada Selasa (18/1/2023) lalu.
Keberhasilan penyelesaian proyek ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang mendambakan fasilitas publik yang memadai.
Menjadikan Wajah Daerah Lebih Representatif
Rampungnya Gapura Perbatasan Ciamis ini tidak lepas dari visi strategis pimpinan daerah.
Pembangunan monumen perbatasan ini merupakan pengejawantahan dari kebijakan Bupati Ciamis yang menginginkan perubahan wajah terluar kabupaten.
Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan bahwa perbatasan adalah etalase daerah.
“Itu merupakan kebijakan Bupati Ciamis, agar gapura di perbatasan tersebut bisa representatif,” kata Budi menambahkan.
Representatif dalam hal ini bukan hanya sekadar indah dipandang mata, tetapi juga mampu mencerminkan kewibawaan, kemajuan, serta karakter masyarakat Ciamis yang someah (ramah) dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya.
Transformasi Menjadi Pusat Aktivitas Ekonomi Baru
Satu hal yang paling menarik dari berdirinya infrastruktur megah ini adalah efek dominonya terhadap kesejahteraan warga lokal.
Sejak gapura tersebut selesai dibangun, kawasan Desa Sadapaingan yang dulunya hanya sekadar jalur perlintasan, kini mulai hidup dan bergeliat.
Budi menuturkan bahwa dengan adanya gerbang perbatasan yang ikonik itu, nantinya diproyeksikan bisa meningkatkan perputaran ekonomi secara masif bagi warga di sekitar lokasi.
Harapan ini bukanlah isapan jempol belaka, mengingat tingginya antusiasme masyarakat setempat yang sangat merespons positif penataan lokasi tersebut.
Banyak pengendara lintas kota maupun provinsi yang kini menjadikan area perbatasan sebagai titik kumpul atau tempat beristirahat sejenak (rest area informal).
Estetika bangunan yang memanjakan mata juga sering kali dimanfaatkan oleh para pelancong untuk berswafoto, yang pada gilirannya mengundang keramaian.
Melihat potensi keramaian ini, peluang bisnis skala mikro pun bermunculan. Kawasan ini secara perlahan dipersiapkan untuk menjadi pusat aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan.
“Jadi nantinya masyarakat bisa berjualan di lokasi tersebut,” pungkas Budi.
Dengan pengelolaan yang tepat, ke depannya Gapura Perbatasan Ciamis ini bukan sekadar gerbang beton biasa, melainkan sebuah ekosistem ekonomi kreatif yang mampu mengangkat taraf hidup masyarakat Desa Sadapaingan dan sekitarnya.





