
Kehadiran program distribusi kurban ke pedalaman NTT oleh Sinergi Foundation berhasil membawa dampak sosial dan spiritual yang sangat luar biasa bagi warga pelosok. Langkah nyata ini tidak hanya menyalurkan pangan bergizi, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang menguatkan akidah masyarakat setempat.
Entah sudah berapa kali Syarifuddin Ridwan Nobisa melewati jalanan terjal pegunungan yang sama menuju kampung pedalaman yang terisolasi. Sebagai seorang pendakwah di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT), ia kerap keluar masuk kampung kecil demi menyiarkan ajaran Islam.
Namun, ada yang sangat berbeda dalam perjalanannya hari itu menuju Kampung Oeue, Desa Mauleum, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Perjalanan kali ini membawa misi khusus yang dinantikan oleh ratusan warga mualaf.
Bukan soal pemandangan alam yang ia saksikan di sepanjang jalanan gersang tersebut. Semuanya masih terlihat sama; jalanan berbatu, tanaman jagung, dan pohon singkong yang menjadi santapan sehari-hari warga. Rumah-rumah tradisional yang sederhana tetap berdiri berbalut eksotisme tanah NTT.
Ringkasan Berita
Menembus Batas Melalui Distribusi Kurban ke Pedalaman NTT
Kedatangan Ustadz Syarif, begitu ia biasa dipanggil, hari itu membawa serta sapi kurban amanah program Green Kurban Sinergi Foundation. Suasana meriah dan semarak langsung menyambut kehadiran Ustadz Syarif beserta rombongan pembawa hewan.
Warga Kampung Oeue dan sekitarnya segera berkumpul di tempat yang telah disediakan untuk proses penyembelihan. Sukacita warga tak terbendung karena momen yang telah mereka tunggu sepanjang tahun akhirnya datang juga.
Membayangkan bisa menyantap daging sapi segar seketika memancing rasa lapar yang membuncah. Sesuatu yang tak bisa mereka konsumsi sehari-hari karena keterbatasan ekonomi yang menjerat kehidupan mereka.
Namun, warga masih harus bersabar mengikuti setiap rangkaian acara adat setempat. Upacara sederhana berupa pengalungan selendang kepada Ustadz Syarif yang hadir bersama sapi kurban menjadi pembuka rangkaian kegiatan.
Upacara ini memiliki dua arti yang sangat mendalam bagi masyarakat lokal. Pertama, sebagai bentuk serah terima sapi kurban secara adat yang sah. Kedua, simbolis ikatan lahir batin dan persaudaraan antara pihak yang menerima dan memberikan selendang tersebut.
“Kemudian ada pesan khusus sebenarnya juga, bahwa jangan sampai ini menjadi yang pertama dan terakhir,” tambah Ustadz Syarif hangat. Sebuah pesan penuh harapan agar para donatur senantiasa mengingat kehadiran warga pedalaman dan bersedia kembali menyalurkan kurban.
Menguatkan Akidah Mualaf di Sela Prosesi Ibadah
Selepas prosesi adat dijalankan, pelaksanaan ibadah kurban berjalan khidmat sebagaimana syariat Islam. Shalawat, doa, dan takbir berkumandang secara bergantian selama penyembelihan hewan berlangsung di lokasi.
Proses demi proses ini tidak hanya melahirkan antusiasme dan sukacita yang besar. Momentum distribusi kurban ke pedalaman NTT ini juga melahirkan pertanyaan-pertanyaan teologis dari saudara mualaf di Kampung Oeue.
Bagi mereka yang baru memeluk agama Islam, konsep ibadah kurban terasa menarik namun juga asing. Maka, tak heran jika pertanyaan demi pertanyaan mengalir deras dari lisan mereka yang haus akan ilmu.
“Ada juga yang bertanya tentang kurban ini pelaksanaannya setahun berapa kali, tujuannya apa, kami sampaikan kepada mereka,” terang Ustadz Syarif. Penjelasan yang ramah membuat para mualaf semakin memahami keindahan ajaran Islam.
Pihak lembaga menegaskan bahwa distribusi kurban ke pedalaman NTT dirancang untuk menyasar wilayah yang minim bantuan. Selain sebagai upaya pemerataan gizi, kurban di pelosok berfungsi sebagai sarana dakwah sosial yang efektif.
Pendekatan ini terbukti membantu menguatkan akidah sekaligus membuka pintu hidayah bagi jamaah baru. Sebab, dalam setiap pelaksanaan kurban, pihak yang diundang tak hanya jamaah Muslim, melainkan juga saudara non-Muslim.
Asbab Hidayah dan Dampak Multidimensi Green Kurban
Ustadz Syarif bercerita, dampaknya hampir setiap minggu di daerah tersebut ada saja warga yang datang menyatakan niat masuk Islam. Fenomena indah ini menjadi buah manis dari konsistensi program distribusi kurban ke pedalaman NTT tahun ini.
“Kami haqqul yaqin bahwa itu memang adalah hidayah. Tapi kemudian ada asbab hidayah. Asbab hidayah itu adalah dakwah sosial yang selama ini kami bangun,” jelas Ustadz Syarif dengan penuh rasa syukur.
Selain itu, program distribusi kurban ke pedalaman NTT menjadi jalan utama bagi warga untuk mengonsumsi protein hewani. Menurut Ustadz Syarif, biasanya warga hanya mengonsumsi daging saat ada perayaan besar keagamaan atau adat tertentu saja.
Makanan pokok mereka sehari-hari adalah jagung dan singkong, dengan sayur-sayuran seperti daun kelor sebagai pelengkap. Bahan-bahan tersebut didapatkan warga sembari bekerja keras sebagai petani ladang tadah hujan.
Setiap kali panen tiba, akan ada bagian yang mereka pisahkan untuk konsumsi keluarga sehari-hari. Pada hasil panen yang tidak seberapa tersebut lah mereka menggantungkan hidup dan masa depan anak-anak mereka.
Warga sebenarnya memiliki hasil kebun berupa asam dan kemiri yang bisa dijual sebagai komoditas penunjang ekonomi. Namun, kedua hasil kebun ini hanya bisa dipanen sekali dalam setahun oleh para petani musiman.
Mereka juga masih sangat sulit untuk menjualnya ke kota karena ketiadaan transportasi yang memadai serta infrastruktur jalan yang rusak parah. Oleh karena itu, kondisi kehidupan warga Kampung Oeue terbilang masih sangat prasejahtera.
Penghasilan yang tak menentu membuat mereka kesulitan menyisihkan uang hanya untuk membeli daging konsumsi di rumah. Segala kondisi sulit ini semakin mempertegas betapa pentingnya misi distribusi kurban ke pedalaman NTT demi kemaslahatan umat.
Sesuai dengan semangat “Kurban Nyata Berdaya” yang diusung oleh Sinergi Foundation, dampak kebaikan ini menyentuh aspek multidimensi. Mulai dari menumbuhkan keteguhan akidah, meningkatkan perbaikan gizi, hingga merekatkan hangatnya toleransi persaudaraan antarwarga.
Doa dan Harapan dari Tepian Negeri
Rasa syukur yang hadir bersama harapan berhasil diabadikan saat pembagian daging kepada ratusan penerima manfaat. Salah satunya diucapkan oleh Tarsin Taneo, seorang muslimah tangguh asal Kampung Oeue yang menggunakan bahasa lokal.
“Haim toet terima kasih neumfekai sis korban mbi ton le’iye. Haim onen henaiti ton amnemte tamfem Ten kai,” ucap Tarsin Taneo tulus.
Arti dari ucapan mengharukan tersebut kemudian diterjemahkan secara langsung oleh Ustadz Syarif kepada tim media. “Beliau mewakili jamaah menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Sinergi Foundation atas kelancaran distribusi kurban ke pedalaman NTT.”
Melalui doa tulus tersebut, warga berharap agar tahun depan mereka bisa mendapatkan alokasi hewan kurban lagi. Kampung Oeue hanyalah satu dari puluhan kampung pedalaman yang menjadi titik fokus sebaran Green Kurban.
Selama bertahun-tahun, Sinergi Foundation konsisten melakukan pemerataan dengan menyukseskan agenda distribusi kurban ke pedalaman NTT. Mereka berkomitmen untuk terus menjangkau wilayah pelosok yang selama ini terabaikan.
Menariknya, program Green Kurban juga mengupayakan pelaksanaan yang ramah lingkungan sejak awal proses hulu hingga hilir. Mulai dari pemberdayaan peternak kecil, distribusi minim plastik, hingga aksi nyata penanaman pohon untuk bumi.
Melalui standarisasi yang matang, agenda distribusi kurban ke pedalaman NTT diharapkan terus berjalan secara berkelanjutan. Langkah mulia ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian sosial mampu menggerakkan hati manusia menuju hidayah-Nya.





