
Pemandangan memilukan kembali terlihat di Dusun Limus, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis.
Solokan sepanjang tiga kilometer yang membelah kawasan ini kembali dipenuhi berbagai jenis sampah kiriman.
Dari popok sekali pakai hingga kasur bekas, tumpukan limbah rumah tangga itu menyumbat aliran air, menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga.
Solokan yang memiliki lebar sekitar 1,5 meter dan kedalaman 50 sentimeter ini seharusnya menjadi jalur pembuangan air dari kolam-kolam milik warga ke Sungai Cileueur.
Namun, alih-alih mengalir lancar, saluran ini justru menjadi tempat penumpukan sampah yang datang dari arah hulu.
Kondisi tersebut memantik kepedulian warga RW 06 Dusun Limus. Untuk kesekian kalinya, mereka bahu-membahu melakukan aksi bersih-bersih solokan secara massal.
Kegiatan gotong royong ini digelar pada Minggu (12/5), dengan mengundang berbagai pihak, termasuk Pemerintah Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, serta DPRKLH Kabupaten Ciamis.
Toto Taufek, salah satu penggagas kegiatan ini, menyampaikan rasa jengkelnya terhadap kondisi solokan yang terus-menerus dikotori sampah dari wilayah lain.
“Kami sudah berkali-kali membersihkan solokan ini. Tapi masalahnya bukan dari sini saja, banyak juga sampah kiriman dari Sungai Cileueur yang ikut menumpuk di sini,” ujar Toto di sela kegiatan.
Tak kurang dari puluhan warga turut serta dalam kegiatan yang dilangsungkan di wilayah RW 06 tersebut. Mereka turun langsung ke dalam solokan, memunguti sampah yang telah mengendap selama berhari-hari.
Kepala Desa Sukajadi, H. Emo, yang juga hadir dalam kegiatan itu, mengungkapkan apresiasi atas semangat gotong royong warganya.
Ia menyebut bahwa aksi ini mencerminkan kepedulian dan inisiatif tinggi dari masyarakat terhadap isu lingkungan.
“Kami dari pihak pemerintah desa sangat mengapresiasi partisipasi warga RW 06. Ini bukan kali pertama mereka melakukan aksi seperti ini, dan semangat mereka layak diapresiasi tinggi,” kata Emo.
Lebih lanjut, Emo mengungkapkan bahwa sejak tiga tahun lalu, Pemerintah Desa Sukajadi telah membagikan tiga unit cator (gerobak motor pengangkut sampah) untuk tiga dusun di wilayahnya.
Namun ia mengakui bahwa kebutuhan akan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) masih menjadi tantangan tersendiri.
“Kami sudah mulai dengan fasilitas pengangkutan sampah, tapi desa kami benar-benar memerlukan TPS agar pengelolaan sampah bisa lebih optimal,” jelasnya.
Emo juga menegaskan bahwa penanganan sampah telah menjadi salah satu program prioritas di desanya.
Ia menyambut baik deklarasi “Jabar Istimewa” yang diluncurkan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang menekankan pentingnya pengelolaan sampah di wilayah perdesaan.
“Deklarasi tersebut menjadi penguat bagi kami di desa, bahwa masalah sampah tidak bisa dianggap remeh. Ini adalah masalah bersama yang harus ditangani dengan kolaborasi,” tambahnya.
Kegiatan bersih-bersih ini diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas sementara, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang menggugah kesadaran warga, baik di Dusun Limus maupun wilayah sekitar.
Warga berharap agar sampah kiriman dari hulu tidak lagi menjadi ancaman bagi kebersihan dan kenyamanan lingkungan mereka.





