
Pemerintah desa di seluruh Kabupaten Ciamis kini diimbau untuk segera mengubah tanah bengkok mereka menjadi lahan percontohan pertanian organik desa.
Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, pada Kamis (09/04/2026), sebagai langkah taktis mempercepat peralihan petani dari ketergantungan pupuk kimia menuju sistem pertanian berkelanjutan.
Instruksi tegas tersebut menjadi angin segar bagi upaya pemulihan ekosistem lingkungan sekaligus penguatan ekonomi warga pedesaan.
Dengan mengoptimalkan aset desa yang sudah ada, program transisi ini diharapkan dapat dieksekusi dengan cepat dan masif, tanpa harus membebani anggaran pribadi para petani di tahap awal uji coba.
Kehadiran jajaran Forkopimda Ciamis beserta para camat se-Kabupaten Ciamis dalam agenda peluncuran tersebut menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat lintas sektoral.
Semua aparat di tingkat kecamatan hingga aparat desa wajib mengawal proses transformasi sektor pertanian agar berjalan sesuai dengan target pemerintah daerah.
Ringkasan Berita
Dukungan Penuh Pemkab untuk Pertanian Organik Desa
Bupati Herdiat menyadari betul bahwa mengubah pola tanam yang sudah membudaya selama puluhan tahun bukanlah sebuah perkara yang mudah.
Oleh karena itu, percepatan program pertanian organik desa ini membutuhkan dukungan penuh serta intervensi langsung dari jajaran birokrasi pemerintahan hingga ke level paling bawah.
Pemanfaatan tanah bengkok dinilai sebagai strategi yang paling efektif dan rasional.
Tanah yang selama ini menjadi aset dan dikelola langsung oleh pamong desa tersebut akan disulap menjadi sebuah area percontohan nyata (demonstration plot) bagi warga setempat.
“Menurutnya, keberhasilan di lapangan akan menjadi contoh nyata yang mampu mendorong petani lain untuk ikut beralih ke sistem organik,” ungkap Bupati Ciamis saat meresmikan gerakan tersebut.
Ketika masyarakat desa melihat secara langsung proses perawatannya yang mudah hingga melimpahnya hasil panen di tanah bengkok tersebut, keraguan mereka secara otomatis akan terpatahkan.
Pada akhirnya, inovasi pertanian organik desa ini akan diadopsi secara luas dan sukarela oleh warga tanpa adanya paksaan.
Kolaborasi Ciptakan Ekosistem Pertanian Sehat
Selain mengeluarkan imbauan terkait optimalisasi aset desa, Pemerintah Kabupaten Ciamis juga telah menyiapkan serangkaian skema bantuan fisik.
Fasilitas pendukung ini bertujuan untuk meringankan beban operasional kelompok tani di masa-masa awal transisi.
Bantuan yang akan segera digelontorkan mencakup penyediaan bibit unggul serta pasokan pupuk alami.
Distribusi bantuan ini akan difokuskan untuk menunjang dan memastikan kelancaran kebutuhan lahan percontohan pertanian organik desa di berbagai kecamatan.
Langkah proaktif pemerintah daerah ini sesungguhnya lahir dari sebuah keprihatinan yang mendalam atas kondisi lingkungan saat ini.
Berdasarkan temuan penelitian di lapangan, sebagian besar unsur hara tanah di wilayah Ciamis sudah mulai rusak dan terkontaminasi oleh residu pupuk kimia sintetis.
Kondisi tanah yang rusak tersebut tidak hanya mengancam kelangsungan produktivitas panen jangka panjang, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan warga yang mengonsumsinya.
Oleh sebab itu, kembali ke metode tanam yang selaras dengan alam adalah satu-satunya jalan keluar yang aman untuk mewujudkan kedaulatan pangan desa.
Belajar dari Kesuksesan Kelompok Tani Parikesit
Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret terkait masa depan pertanian organik desa, Pemkab Ciamis meresmikan pencanangan gerakan ini di Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican.
Pemilihan lokasi strategis ini tentu didasari oleh rekam jejak prestasi warganya yang sangat inspiratif.
Di desa tersebut, terdapat Kelompok Tani Parikesit yang telah terbukti sukses mengelola klaster ketahanan pangan secara mandiri dan cerdas.
Kelompok tani ini bahkan sukses membawa pulang penghargaan bergengsi sebagai Juara 2 pada ajang Bank Indonesia Award 2025 Championship tingkat nasional.
Keberhasilan luar biasa mereka membuktikan bahwa metode bercocok tanam murni tanpa bahan kimia sanggup menghasilkan panen antara 8 sampai 9 ton gabah per hektare.
Selain itu, biaya perawatan yang dikeluarkan relatif jauh lebih murah.
Di sisi lain, harga jual beras organik justru bernilai tinggi dan berpeluang besar menembus pasar ekspor ke Jepang, Malaysia, dan Singapura.
Waspada Kemarau Panjang dan Diversifikasi Pangan Alternatif
Di samping gencar mempromosikan pertanian organik desa, Bupati Herdiat juga tidak lupa memberikan instruksi tambahan terkait ancaman cuaca ekstrem.
Fenomena alam El Nino yang diprediksi kuat memicu kemarau panjang pada pertengahan tahun ini harus diantisipasi sejak dini oleh perangkat desa dan para petani.
Tanah sawah organik yang kaya kompos sejatinya memiliki daya ikat air yang jauh lebih baik untuk melawan kekeringan musiman.
Kendati demikian, petani tetap diwajibkan untuk memperhitungkan kalender tanam secara cermat agar terhindar dari potensi gagal panen.
Sebagai langkah mitigasi pelengkap demi mengamankan stok logistik masyarakat pedesaan, pemerintah mengimbau warga untuk mulai menanam dan mengonsumsi pangan alternatif di pekarangan rumah.
Tanaman lokal jenis umbi-umbian dinilai memiliki ketahanan yang jauh lebih tangguh terhadap suhu panas namun tetap kaya akan nilai gizi yang seimbang.





