
Ratusan monyet liar telah membuat resah warga Dusun Gegempalan dan Dusun Gareumpay, Desa Gegempalan, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, dalam dua bulan terakhir.
Kawanan primata ini dilaporkan menyerbu perkebunan warga, melahap habis tanaman jagung, singkong, dan kacang tanah, menyebabkan kerugian signifikan bagi petani setempat.
“Sudah dua bulan ini, bahkan tadi saya menyaksikan sendiri ratusan monyet itu masuk ke pinggir Sungai Cireong, setelah sebelumnya menyerang perkebunan singkong dan jagung milik warga,” ungkap Jeje, seorang tokoh masyarakat Dusun Majaganda, Sabtu (12/07/2025).
Jeje menuturkan bahwa ia kerap menerima keluhan dari warga yang frustrasi akibat serangan mendadak kawanan monyet ini.
“Tanaman jagung milik salah seorang warga habis disantap, padahal baru setengah matang. Sangat meresahkan, apalagi kedatangan kawanan monyet ini secara mendadak dan jumlahnya ada seratusan lebih,” tambahnya dengan nada prihatin.
Serangan monyet ini tidak hanya terjadi di Dusun Majaganda. Menurut Jeje, Dusun Gareumpay yang berbatasan dengan Dusun Ciangnini, Desa Cikoneng, juga mengalami nasib serupa. Kawanan monyet yang datang secara tiba-tiba ini menyulitkan warga untuk melakukan antisipasi.
“Kami dapat laporan setelah kejadian. Memang tidak ada korban jiwa dari insiden ini, namun sejumlah tanaman perkebunan warga menjadi korban. Bahkan, kawanan monyet ini kerap mendatangi pemukiman warga, meskipun tidak menyerang. Setelah diusir, mereka pergi begitu saja,” jelas Gungun, Kepala Dusun Majaganda, saat dihubungi.
Menanggapi laporan ini, Kepala Desa Gegempalan, Wawan, mengatakan pihaknya telah menerima laporan mengenai serangan monyet tersebut.
“Kami terus terang sedang mencari solusi yang tepat, karena tidak mudah mengidentifikasi keberadaannya dan mereka datang secara dadakan,” ujar Wawan melalui sambungan telepon terpisah.
Ia pun berharap instansi berwenang seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III dapat segera membantu mengatasi persoalan ini.
Hingga berita ini diturunkan, Dede, staf dari pihak BKSDA Wilayah III yang dihubungi melalui pesan WhatsApp, belum memberikan tanggapan terkait masalah yang dihadapi warga Desa Gegempalan ini.





