
Setelah puluhan tahun hidup di rumah reyot berukuran sempit, keluarga lansia Kar’an (64) dan Tati (61) akhirnya bisa tersenyum lega.
Hunian baru yang layak dan kokoh kini berdiri di atas tanah mereka sendiri di Dusun Cibeureum, Desa Balokang, Kota Banjar, Jawa Barat.
Di balik terwujudnya impian sederhana itu, ada sosok pengusaha asal Bandung yang dikenal luas sebagai Bos Koi, Hartono Soekwanto.
Kepeduliannya telah mengubah kehidupan keluarga besar ini secara nyata—dari rumah lapuk menjadi tempat tinggal yang pantas disebut rumah.
Selama lebih dari dua dekade, Kar’an dan istrinya Tati bersama empat anak, empat cucu, dan seorang menantu hidup di rumah sederhana berukuran 5×6 meter.
Kondisinya jauh dari kata layak: dinding kayu lapuk, atap bocor di sana-sini, dan lantai tanah yang becek ketika hujan turun.
Yang paling memprihatinkan, rumah itu tidak memiliki toilet, sehingga seluruh penghuni harus menumpang ke rumah tetangga untuk buang air.
Di ruang sempit itu, sebelas jiwa harus tidur berdesakan setiap malam—tanpa kamar terpisah, tanpa ruang pribadi, hanya beralaskan tikar dan rasa sabar.
“Sudah lama kami hidup seperti ini. Kalau hujan, air masuk dari segala arah. Kadang kami terbangun tengah malam karena bocor di mana-mana,” kenang Kar’an dengan nada lirih.
Kondisi tersebut membuat keluarga ini hidup dalam ketidaknyamanan yang berkepanjangan. Namun keterbatasan ekonomi membuat mereka tak punya pilihan lain selain bertahan di rumah reyot itu.
Kisah keluarga Kar’an kemudian sampai ke telinga Hartono Soekwanto, pengusaha sukses yang dikenal karena kepeduliannya terhadap masyarakat kecil.
Tanpa ragu, ia melakukan perjalanan dari Bandung ke Banjar untuk melihat langsung kondisi keluarga tersebut.
Saat tiba di lokasi, Hartono mengaku terkejut sekaligus sedih. “Kondisi rumahnya sangat mengkhawatirkan. Tidak ada toilet, tempat tidurnya sempit, dan semua tinggal berdesakan. Saya tidak tega melihatnya,” ujarnya dengan nada sendu.
Bagi Hartono, pemandangan itu menjadi panggilan hati. Ia menyadari bahwa di balik kesuksesan yang ia miliki, masih banyak orang yang berjuang untuk sekadar hidup dengan layak.
Tak butuh waktu lama, Hartono segera mengambil langkah konkret. Ia memutuskan untuk membiayai penuh pembangunan rumah baru bagi keluarga Kar’an.
Rumah lama yang nyaris roboh dirubuhkan, dan di atas tanah yang sama, berdirilah bangunan baru yang lebih kuat, sehat, dan nyaman untuk ditempati.
Yang membuat warga terkesan, Bos Koi tidak hanya memberi bantuan dana, tetapi juga turun langsung ke lapangan.
Ia terlihat ikut mengangkat bata, menurunkan material bangunan, bahkan membantu proses pembuatan pondasi bersama warga setempat.
“Saya hanya ingin berbagi rasa syukur. Rezeki yang kita terima harus membawa manfaat bagi orang lain,” kata Hartono dengan rendah hati.
Bagi warga Cibeureum, pemandangan itu menjadi sesuatu yang langka: seorang pengusaha sukses bekerja bersama masyarakat biasa tanpa jarak dan tanpa pamrih.
Beberapa minggu berselang, rumah baru milik Kar’an dan keluarganya akhirnya rampung dibangun.
Bangunan permanen itu memiliki ruang yang cukup untuk seluruh anggota keluarga, ventilasi udara yang baik, dan fasilitas sanitasi yang layak—sesuatu yang sebelumnya hanya mereka impikan.
Saat pertama kali menatap rumah barunya, Tati tak kuasa menahan tangis. “Alhamdulillah, ini seperti mimpi. Kami akhirnya punya rumah layak di tanah sendiri. Terima kasih kepada Pak Hartono yang sudah bantu kami tanpa pamrih,” ucapnya sambil menyeka air mata.
Warga sekitar turut merasakan kebahagiaan yang sama. Banyak dari mereka yang ikut membantu selama proses pembangunan, dan kini mereka melihat hasil nyata dari gotong royong dan kepedulian sosial.
Bagi Hartono Soekwanto, setiap langkah sosial yang ia lakukan berakar dari satu hal sederhana: rasa syukur.
Ia percaya bahwa bentuk paling tulus dari rasa syukur adalah ketika seseorang mampu berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
“Bersyukur itu bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan. Kita tidak akan kehilangan apa pun dengan memberi, justru akan mendapat lebih banyak kedamaian hati,” ujarnya.
Hartono berharap kisah ini bisa menginspirasi para dermawan lain agar turut menyalurkan rezekinya kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam hal kebutuhan dasar seperti tempat tinggal.
Kini, rumah sederhana yang dulu berdiri rapuh telah berubah menjadi simbol harapan baru bagi keluarga Kar’an.
Anak-anak mereka bisa beristirahat dengan nyaman, para cucu bisa belajar tanpa khawatir hujan, dan Kar’an bersama istrinya bisa menua dengan tenang di rumah yang layak.
“Ini bukan hanya rumah, tapi doa yang dijawab,” tutur Kar’an dengan senyum penuh syukur.
Aksi kecil namun penuh makna dari seorang Bos Koi Hartono Soekwanto kembali membuktikan bahwa satu tindakan nyata mampu mengubah kehidupan banyak orang.





