Berita

Ngarak Pataka Lebih dari Sekadar Kirab, Inilah Jantung Hati Tatar Galuh Ciamis

Tradisi Ngarak Pataka, yang digelar dalam rangka perayaan Hari Jadi ke-383 Kabupaten Ciamis pada 12 Juni 2025, bukan hanya sebuah arak-arakan biasa.

Ini adalah sebuah panggilan jiwa, peneguhan jati diri, dan perayaan semangat warisan leluhur Tatar Galuh yang tak lekang oleh waktu.

Di tengah deru modernisasi, Ciamis membuktikan bahwa akar budaya adalah sumber kekuatan.

Dengan tema “Ngadegna, Saluyu, Sajati” (Berdiri Kokoh, Hidup Harmonis, Sejati dalam Jati Diri), perayaan tahun ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali filosofi luhur yang telah membentuk kabupaten ini selama berabad-abad.

Menyelami Makna di Balik Pataka yang Megah

Pusat dari seluruh prosesi ini adalah Pataka—bendera kebesaran berlogo Kabupaten Ciamis yang diarak dengan penuh khidmat.

Namun, Pataka ini bukanlah sekadar simbol administratif. Ia adalah perisai hidup yang sarat akan makna filosofis.

Setiap elemen dalam logo tersebut berkisah tentang harapan dan kearifan lokal. Gunung Sawal yang tergambar gagah adalah pengingat akan para leluhur.

Baca Juga :  Peringati HUT ke-46, AMPI Ciamis Gelar Gebyar Pemuda Inspiratif

Hamparan padi dan pohon kelapa melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Semboyan “Mahayunan Ayuna Kadatuan” yang terukir di dasarnya menjadi kompas abadi, yang berarti “Menghadapi Pembangunan untuk Kebahagiaan Daerah”.

Sebuah Panggung Kolosal Bernama Persatuan

Keunikan Ngarak Pataka di Ciamis terletak pada energi kolektif yang dipancarkannya.

Prosesi kirab yang dimulai dari Pendopo Bupati menuju Gedung DPRD bukan hanya barisan para pejabat.

Di belakang pasukan Paskibraka yang tegap membawa Pataka, ribuan warga tumpah ruah di sepanjang jalan, melambaikan bendera, dan menggemakan semangat kebersamaan.

Anak-anak sekolah, para seniman dengan busana tradisional yang semarak, hingga masyarakat umum, semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari perhelatan akbar ini.

Iring-iringan kesenian tradisional, alunan musik Sunda, dan beragam atraksi budaya menjadi bukti bahwa tradisi ini hidup dan bernapas di tengah rakyatnya.

Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, yang memimpin langsung kirab tersebut, menekankan bahwa Ngarak Pataka adalah milik seluruh masyarakat Tatar Galuh.

Baca Juga :  Pemkab Ciamis Serahkan Bantuan kepada 80 Kelompok Wanita Tani

“Semangat kebersamaan inilah modal utama kita. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa untuk membangun Ciamis yang maju, kita harus ‘saluyu’ atau harmonis dalam setiap langkah,” ungkapnya.

Magnet Budaya yang Mengundang Decak Kagum

Ngarak Pataka juga menjadi puncak dari rangkaian perayaan yang lebih besar, termasuk Galuh Ethnic Carnival yang menampilkan kekayaan kreativitas dari berbagai kecamatan.

Hal ini menjadikan Ciamis sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman budaya yang otentik dan mendalam.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan denyut nadi kebudayaan Sunda yang sesungguhnya, menyaksikan Tradisi Ngarak Pataka adalah sebuah keharusan.

Ini adalah kesempatan langka untuk melihat bagaimana sebuah warisan sejarah terus dijaga dengan penuh cinta dan kebanggaan, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai detak jantung yang menjaga Tatar Galuh tetap hidup dan sejati.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca