
Mini Drumband Kelurahan Maleber kini menjadi daya tarik utama dalam tradisi membangunkan warga sahur di Kabupaten Ciamis menjelang berakhirnya Ramadan 1447 H.
Inovasi kreatif dari para pemuda Karang Taruna ini berhasil menggeser peran beduk tradisional dengan irama yang lebih modern, energik, dan dinamis.
Dimulai sejak pukul 02.00 dini hari, aksi para remaja ini tidak hanya menjadi penanda waktu santap sahur, tetapi juga menjadi sarana syiar agama melalui lantunan selawat di tengah dentuman musik yang ritmis.
Langkah inovatif yang diambil melalui Mini Drumband Kelurahan Maleber terbukti efektif menarik minat generasi Z dan Alpha untuk tetap melestarikan kearifan lokal dengan gaya yang lebih relevan bagi zaman sekarang.
Jika pada dekade sebelumnya warga terbiasa dengan suara dentum beduk yang cenderung monoton, kini irama senar, tenor, dan simbal yang berpadu apik menjadi penyemangat bagi warga untuk segera beranjak dari tempat tidur.
Ringkasan Berita
Inovasi Tradisi: Alasan Mini Drumband Kelurahan Maleber Gantikan Beduk
Mbah Delly, pengasuh kelompok musik tersebut, menjelaskan bahwa sejak fajar Ramadan tahun ini menyingsing, pihak pengelola secara resmi menyepakati pengalihan penggunaan beduk konvensional ke perangkat drumband mini.
Keberadaan Mini Drumband Kelurahan Maleber ini membuahkan hasil yang signifikan, di mana atmosfer dini hari di lingkungan tersebut terasa jauh lebih semarak.
Selain itu, inovasi ini terbukti ampuh mendongkrak motivasi para pemuda untuk bangun lebih awal dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan rutin tersebut.
Menurut pengamatan di lapangan, perangkat drumband memiliki daya tarik visual dan auditori yang jauh lebih kuat bagi anak muda.
Dentuman bass drum dan gemerincing simbal mampu menembus dinding-dinding rumah warga dengan lebih efektif namun tetap dalam koridor volume yang sopan dan tidak mengganggu kenyamanan.
Keunggulan teknis inilah yang membuat Mini Drumband Kelurahan Maleber semakin diterima luas oleh masyarakat sebagai pengganti alat musik tradisional yang mulai tergerus zaman.
Strategi Sebaran di Tiga Lingkungan Strategis
Guna memastikan seluruh warga di wilayah kelurahan terbangun tepat waktu sebelum imsak, operasional Mini Drumband Kelurahan Maleber dibagi menjadi tiga kelompok besar yang menyisir titik-titik kepadatan penduduk.
Pembagian ini dilakukan agar jangkauan suara musik tetap merata dan tidak ada rumah warga yang terlewatkan.
Ketiga kelompok Mini Drumband Kelurahan Maleber tersebut dipetakan sebagai berikut:
- Kelompok I: Bertugas di wilayah Lingkungan Kedung Panjang hingga kawasan pemukiman Limus Nunggal.
- Kelompok II: Mengawal area Lingkungan Bangunsari dan gang-gang di kawasan Blender.
- Kelompok III: Fokus pada wilayah Lingkungan Bojonghuni yang berbatasan langsung dengan akses jalan protokol.
Setiap unit Mini Drumband Kelurahan Maleber ini diperkuat oleh sembilan orang personel remaja yang rata-rata masih duduk di bangku SMP dan SMA.
Dengan formasi dua tenor, empat senar, satu bass drum, dan satu simbal, mereka mampu menciptakan harmoni musik yang rapi dan menghibur di tengah dinginnya udara Ciamis.
Kehadiran mereka juga secara tidak langsung membantu sistem keamanan lingkungan sesuai prinsip Siskamling Polri, karena jalanan menjadi lebih hidup dan terpantau oleh pergerakan para pemuda ini.
Respon Warga dan Kedekatan Emosional
Eksistensi Mini Drumband Kelurahan Maleber ternyata telah menciptakan ketergantungan sosial yang positif bagi warga setempat.
Sejak awal Ramadan yang dimulai pada 28 Februari 2026 lalu, kelompok ini hampir tidak pernah absen berkeliling meskipun cuaca dini hari seringkali tidak menentu.
Konsistensi inilah yang membuat warga merasa ada yang kurang jika suara musik tidak terdengar pada jam-jam krusial sahur.
Mbah Delly menceritakan sebuah pengalaman menarik ketika hujan deras mengguyur wilayah Ciamis sehingga personil Mini Drumband Kelurahan Maleber terpaksa tidak bisa turun ke jalan.
Esok harinya, banyak warga, terutama dari kalangan ibu-ibu rumah tangga, yang melayangkan protes bernada canda kepada para pemuda.
Mereka mengaku kesiangan memasak karena tidak ada “alarm” alami yang biasanya lewat di depan pagar rumah mereka.
Hal ini menjadi bukti konkret betapa pentingnya peran sosial dan fungsional dari kelompok musik ini di mata masyarakat.
Persiapan Pawai Obor dan Visi Masa Depan
Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 H yang tinggal menghitung hari, seluruh personel Mini Drumband Kelurahan Maleber tengah menyiapkan agenda besar untuk malam takbiran.
Ketiga kelompok yang biasanya berpencar kini direncanakan akan melebur menjadi satu korps musik kolosal.
Mereka akan memimpin rombongan warga untuk mengikuti pawai obor besar-besaran menuju pusat kota, yakni Alun-alun Ciamis, bersaing dengan kelompok kreatif lainnya dari berbagai kecamatan.
Lebih jauh, Mbah Delly menekankan bahwa kegiatan musiman ini diproyeksikan menjadi embrio lahirnya grup drumband profesional yang menetap di wilayah tersebut.
Setelah bulan suci berlalu, para personel Mini Drumband Kelurahan Maleber dijadwalkan akan mengikuti latihan rutin di kantor kelurahan secara periodik.
Tujuannya jelas, agar mereka siap tampil di berbagai ajang formal, perayaan hari besar nasional, maupun perlombaan seni musik tingkat kabupaten di masa mendatang.
Inisiatif Mini Drumband Kelurahan Maleber membuktikan bahwa dengan sedikit kreativitas, tradisi lama bisa dipoles menjadi kegiatan yang sangat diminati generasi muda sekaligus memberikan manfaat nyata bagi harmoni kehidupan bermasyarakat.





