Berita

Mahasiswa UID dan Komfacba Edukasi Masyarakat Lewat Kalibrasi Arah Kiblat di Ciamis

Sejumlah mahasiswa Universitas Islam Darussalam (UID) yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, menggelar kegiatan edukatif yang sarat manfaat bagi masyarakat.

Bersama Komunitas Falak Ciamis Banjar (Komfacba) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HMPS HKI) UID, mereka melakukan kalibrasi atau pengecekan ketepatan arah kiblat di seluruh masjid dan musala desa tersebut, Jumat (15/8/2025).

Kegiatan ini menyasar 22 rumah ibadah, terdiri dari 11 masjid—termasuk 4 masjid jami—dan 11 musala yang tersebar di empat dusun: Bojongangoh, Cihideung, Wetan, dan Kulon.

Proses kalibrasi melibatkan 12 mahasiswa KKN UID, 5 mahasiswa HMPS HKI UID, serta 6 anggota Komfacba yang ahli dalam ilmu falak, didampingi aparat desa dan tokoh masyarakat setempat.

Koordinator mahasiswa KKN UID di Desa Utama, Kiki F. Mulyana, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga edukatif. Menurutnya, masyarakat perlu memahami betapa pentingnya memastikan arah kiblat secara tepat.

Baca Juga :  Tahun Politik, Website Bisa Dimanfaatkan untuk Personal Branding

“Salat yang sah harus menghadap kiblat. Oleh karena itu, ketepatan arah kiblat harus benar-benar lurus mengarah ke Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Inilah yang kami tekankan kepada masyarakat dalam kegiatan ini,” ujarnya, Selasa (19/8/2025).

Kiki menambahkan, pengecekan arah kiblat merupakan wujud tanggung jawab bersama umat Islam untuk menyempurnakan ibadah.

Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa akurasi arah kiblat tidak bisa dianggap remeh.

Dari 22 rumah ibadah yang dikalibrasi, hasilnya cukup menggembirakan. Seluruh masjid, termasuk 4 masjid jami, sudah memiliki arah kiblat yang akurat.

Hal yang sama juga berlaku pada 11 musala. Hanya sebagian kecil yang mengalami pergeseran arah dengan deviasi sangat rendah, hampir tidak signifikan.

Ketua Komfacba, Fikri Afriansyah, menjelaskan bahwa proses kalibrasi dilakukan secara ilmiah dengan menggunakan berbagai peralatan, mulai dari kompas manual dan digital, mizwala, hingga theodolite.

Setiap rumah ibadah didatangi langsung oleh tim, dengan disaksikan pengurus DKM, aparat desa, serta tokoh masyarakat.

Baca Juga :  Tak Perlu Rebutan, Begini Cara Mudah Amankan Slot Dieng Caldera Race 2026 dari Bank bjb!

Selain memastikan arah kiblat tepat, Fikri menuturkan, kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai sarana edukasi. Masyarakat bisa menyaksikan langsung proses ilmiah dalam menentukan arah kiblat.

“Harapannya, mereka lebih paham bahwa ilmu falak bukan sekadar teori, tetapi juga berperan penting dalam praktik ibadah sehari-hari,” kata Fikri.

Fikri menambahkan, kegiatan serupa tidak akan berhenti di Desa Utama. Dalam waktu dekat, pihaknya bersama mahasiswa UID berencana melanjutkan kalibrasi arah kiblat di sejumlah desa lain di Kecamatan Cijeungjing, antara lain Desa Sukamaju, Ciharalang, dan Dewasari.

Dengan semangat kolaborasi ini, mahasiswa dan komunitas falak berharap masyarakat semakin terbuka untuk belajar mengenai pentingnya arah kiblat dan memahami kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern.

Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa ilmu falak bisa hadir di tengah masyarakat, bukan hanya untuk kalangan akademisi, tetapi juga untuk kebutuhan ibadah umat secara luas.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca