
Sebuah rumah semi permanen milik Paijan (54), warga Ciamis, Jawa Barat, ludes dilalap si jago merah pada Senin (18/8/2025) sekitar pukul 10.45 WIB. Peristiwa kebakaran yang terjadi di siang bolong itu diduga dipicu korsleting listrik.
Menurut keterangan Kasi Pengendalian Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Ciamis, Trisyanto, saat kejadian rumah dalam keadaan kosong.
Seluruh penghuni sedang bepergian, sehingga tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah tersebut.
Api pertama kali diketahui oleh Agus Hermawan (51), tetangga korban. Agus menceritakan, dirinya semula mendengar suara letupan dari arah rumah Paijan.
Saat keluar untuk memastikan sumber suara, ia terkejut mendapati api sudah berkobar di ruang tengah rumah tersebut.
“Begitu melihat api, saya langsung panik karena rumah saya berdempetan dengan rumah Pak Paijan. Sementara beliau sekeluarga sedang tidak di rumah,” ungkap Agus.
Dengan kondisi panik, Agus berteriak meminta pertolongan warga sekitar. Ia juga segera menghubungi petugas pemadam kebakaran yang siaga di Pos Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Banjarsari.
Warga pun berdatangan berusaha membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya.
Tak lama kemudian, dua petugas damkar, Dzikri dan Rahmat, tiba di lokasi menggunakan mobil pemadam pancar dengan nomor polisi Z 8153 T.
Mereka langsung bergabung bersama warga, aparat, serta relawan untuk memadamkan api.
Berkat kerja sama tersebut, kobaran api akhirnya berhasil dijinakkan sebelum merembet ke rumah lain di sekitarnya. Meski demikian, hampir separuh bangunan rumah berukuran 6 x 10 meter itu terlanjur hangus.
Tidak hanya bangunan, satu unit sepeda motor dan sejumlah perabotan rumah tangga di ruang tengah serta kamar juga ikut terbakar.
Trisyanto menuturkan, estimasi kerugian akibat kebakaran tersebut mencapai Rp50 juta.
Setelah api berhasil dipadamkan dan dilakukan proses pendinginan, sekitar pukul 11.20 WIB petugas damkar kembali ke Pos WMK Banjarsari.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Hanya kerugian materi yang cukup besar, sekitar Rp50 juta,” ujar Trisyanto.





