Berita

Kenaikan Harga Kelapa Lumpuhkan Produksi Galendo Legendaris di Ciamis

Memasuki bulan suci Ramadhan 2025, lonjakan harga kelapa yang terjadi sejak awal puasa menjadi pukulan telak bagi para pelaku industri olahan kelapa di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Salah satu yang paling terdampak adalah pengrajin Galendo, makanan khas berbahan dasar kelapa yang telah menjadi ikon kuliner daerah tersebut.

Yayan, pengusaha Galendo dengan merek “Doyanku”, mengungkapkan bahwa perusahaannya terpaksa menghentikan sementara kegiatan produksi.

Keputusan sulit itu diambil sejak sepekan menjelang Hari Raya Idulfitri 2025 dan hingga saat ini, produksi belum dapat berjalan kembali.

“Produksi kami hentikan total sejak seminggu sebelum Lebaran. Kami tidak lagi membeli kelapa dari pemasok karena harganya sudah tidak masuk akal,” ujar Yayan saat ditemui pada Minggu, 13 April 2025.

Menurut penuturan Yayan, harga kelapa yang melonjak drastis hingga mencapai Rp11.000 per butir, telah melampaui batas biaya produksi yang dapat ditanggung oleh pelaku usaha mikro seperti dirinya.

Baca Juga :  FIKes Unigal Gelar Angkat Sumpah Lulusan Keperawatan dan Kebidanan

“Kami hanya mampu menanggung ongkos produksi maksimal Rp4.800 per butir kelapa. Saat harga pasar mulai dari Rp7.000 hingga Rp11.000, tentu itu tidak mungkin kami paksakan. Jika diteruskan, kami malah akan merugi karena harga jual ke pelanggan pun jadi sulit ditentukan,” keluhnya.

Galendo Doyanku, yang dikenal karena komitmennya terhadap kualitas dan kebersihan produk, kini hanya mengandalkan stok kelapa yang tersisa di gudang.

Namun, jumlahnya sangat terbatas dan tidak dapat menopang keberlangsungan produksi dalam jangka panjang.

“Masih ada sedikit stok kelapa hasil pembelian sebelum harga melonjak. Itu pun sudah sangat menipis. Kami benar-benar bingung bagaimana ke depannya,” tambah Yayan dengan nada cemas.

Yayan juga menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Kabupaten Ciamis dapat memberikan solusi nyata terhadap masalah ini.

Baca Juga :  Agun Gunandjar Sudarsa Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan di Sindangkasih Ciamis

Menurutnya, intervensi pemerintah sangat diperlukan agar para pelaku usaha kecil tidak gulung tikar di tengah tekanan harga bahan baku yang tak terkendali.

“Kami sangat berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah agar industri Galendo tetap hidup. Jangan sampai produk kebanggaan Ciamis ini hilang perlahan,” tandasnya penuh harap.

Galendo Doyanku bukan sekadar usaha rumahan biasa. Berdiri sejak awal 1980-an oleh H. Endut, usaha ini telah menjadi pionir sekaligus simbol produk Galendo Ciamis yang dikenal luas hingga ke luar daerah.

Dengan menjaga kualitas, inovasi produk, dan standar kebersihan yang tinggi, Galendo Doyanku terus eksis selama puluhan tahun.

Tak hanya menjadi penghasil produk unggulan daerah, usaha ini juga menopang kehidupan puluhan karyawan yang terlibat dalam proses produksi hingga pemasaran.

Kini, masa depan mereka turut terancam jika krisis harga bahan baku ini tak segera ditangani.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca