Berita

Apresiasi Tak Cukup, Sony Agusman; Program “Nyaah Ka Indung” Butuh Tindak Lanjut

Program “Nyaah Ka Indung”, sebuah inisiatif sosial yang diluncurkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tak hanya menjadi seremoni simbolik di tingkat pemerintah daerah.

Digulirkan serentak oleh bupati dan wali kota se-Jawa Barat, termasuk oleh Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, program ini mengundang berbagai tanggapan dari masyarakat sipil, terutama mereka yang aktif di bidang sosial dan kemasyarakatan.

Salah satunya datang dari Sony Agusman, SH, aktivis sosial Ciamis yang menyampaikan apresiasi namun disertai kritik membangun.

Menurutnya, gagasan program tersebut sangat bernilai, namun akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan upaya tindak lanjut yang jelas dan berkesinambungan.

“Apresiasi saya sampaikan untuk Program Nyaah Ka Indung. Tapi yang lebih penting, bagaimana program ini dilanjutkan agar kesadaran terhadap peran ibu bisa tumbuh secara kolektif dan meluas,” ujar Sony, Minggu (13/4/2025).

Baca Juga :  Unigal Tegaskan Komitmen Bebas Rokok, Klarifikasi Isu Penjualan oleh Ormawa

Ia menggarisbawahi perlunya ruang edukasi sebagai turunan konkret dari program ini. Edukasi yang dimaksud tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga mampu memicu partisipasi aktif dari masyarakat.

Dalam hal ini, menurut Sony, dinas terkait dapat menggandeng lembaga seperti LLI untuk menyusun program-program yang aplikatif dan menyentuh langsung kehidupan warga.

“Kita butuh pendekatan edukatif yang kuat, yang bisa menginternalisasi nilai-nilai penghormatan terhadap ibu. Harus ada sinergi antara pemerintah dan komunitas,” tegasnya.

Lebih dari itu, Sony menilai bahwa Program Nyaah Ka Indung harus bersifat inklusif. Artinya, seluruh elemen masyarakat harus dilibatkan, bukan hanya sebagai penerima pesan, tetapi juga sebagai agen perubahan.

“Mirisnya, masih banyak ibu yang justru dipinggirkan, bahkan dilupakan oleh anak-anaknya sendiri. Ini bukan sekadar fenomena personal, tapi gejala sosial yang perlu kita evaluasi secara menyeluruh,” tambahnya.

Baca Juga :  Skor 10–0 Jadi Rekor Baru, SMAN 2 Ciamis Cetak Sejarah di Liga Pelajar XIX

Tak lupa, Sony juga menekankan bahwa perempuan, termasuk ibu, seharusnya tidak hanya menjadi objek kebijakan, melainkan ditempatkan sebagai subjek utama dalam pembangunan sosial.

Menurutnya, penghormatan terhadap ibu adalah bagian dari strategi kebudayaan untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi.

“Rasa hormat dan kasih terhadap ibu bukan hanya ajaran moral, tapi landasan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang beradab,” tutupnya.

Dengan demikian, Program Nyaah Ka Indung sejatinya bukan sekadar kampanye simbolik, melainkan cerminan dari bagaimana nilai-nilai luhur budaya bisa dijadikan pilar pembangunan.

Namun agar tidak berhenti di tataran wacana, program ini menuntut konsistensi, partisipasi masyarakat, dan komitmen pemerintah untuk menjadikannya sebagai gerakan sosial yang berkelanjutan.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca