
Anggota Komisi IV DPR RI, Ir. H. Herry Dermawan, menegaskan pentingnya peran rumah bibit dalam mendorong kemandirian pangan keluarga. Hal ini ia sampaikan saat kunjungan kerja di Desa Gunungsari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Minggu (7/9/2025).
Dalam kunjungannya, Herry tidak hanya menghadiri panen raya padi bersama Kelompok Tani “Gunungsari I”, tetapi juga meninjau langsung Rumah Bibit KWT Purbasari yang telah berjalan dua tahun terakhir.
Rumah bibit berukuran 6 x 8 meter yang berdiri di halaman belakang rumah Romlah, Ketua KWT Purbasari, menjadi pusat penyemaian berbagai bibit sayur mayur.
Di tempat tersebut tumbuh subur aneka bibit seperti terung, tomat, cabai rawit, cabai merah, caisim, hingga pagoda.
Bibit-bibit tersebut kemudian dibagikan kepada 22 anggota KWT Purbasari untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing.
Hasilnya, kebutuhan sayuran rumah tangga bisa dipenuhi secara mandiri tanpa bergantung pada pasar.
“Kalau setiap rumah tangga bisa menanam sayuran di pekarangan, kita tidak akan lagi melihat harga cabai melonjak sampai ratusan ribu rupiah per kilogram,” ujar Herry Dermawan.
Rumah bibit ini sendiri dibangun pada tahun 2023 melalui bantuan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Ciamis dalam program Pangan Pekarangan Lestari (P2L) yang kini berlanjut dengan nama Pangan Pekarangan Berkelanjutan (P2B).
Program tersebut bertujuan memberdayakan masyarakat, khususnya kaum ibu, agar mampu memenuhi kebutuhan pangan sehat secara berkelanjutan.
Namun, Ketua KWT Purbasari, Romlah, mengakui masih ada keterbatasan. Hingga kini, rumah bibit hanya mampu menyediakan enam jenis bibit sayuran.
“Kami masih membutuhkan tambahan modal untuk memperbanyak jenis benih. Kalau koleksi bibit lebih beragam, manfaatnya tentu semakin besar bagi warga,” ungkap Romlah.
Menanggapi hal itu, Herry Dermawan secara spontan memberikan bantuan modal untuk pengadaan bibit tambahan serta menyerahkan sebuah handsprayer guna menunjang kegiatan bercocok tanam para ibu-ibu KWT.
Ia menambahkan, keberhasilan KWT Purbasari merupakan bukti nyata bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.
Oleh karena itu, ia mendorong agar setiap dusun di Ciamis, bahkan di seluruh Indonesia, memiliki rumah bibit serupa.
“Rumah bibit ini tidak hanya penting bagi keluarga, tetapi juga bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional. Dari pekarangan rumah, kita bisa menjaga stabilitas pangan bangsa,” pungkasnya.





