Berita

Untung Besar Menanti! Rahasia di Balik Lonjakan Harga Umbi Porang di Tingkat Petani yang Bikin Bertahan

Benarkah harga umbi porang di tingkat petani kini stabil tinggi? Simak analisis keuntungan tersembunyi yang menanti para petani bertahan di sini!

Angin segar berembus ke arah para petani yang memilih setia merawat komoditas ekspor andalan Indonesia. Saat ini, pergerakan tren pasar global menunjukkan bahwa harga umbi porang di tingkat petani mengalami lonjakan signifikan yang membawa dampak positif bagi perekonomian daerah.

Keuntungan finansial dalam skala besar kini tengah menanti para pembudidaya tanaman berumbi dengan nama latin Amorphophallus muelleri tersebut.

Memasuki masa dorman pada musim kemarau bulan Juni 2026 ini, nilai jual komoditas tersebut merangkak naik secara meyakinkan.

Kenaikan nilai jual ini menjadi momentum pembuktian berharga bagi para petani yang konsisten dan tidak ikut mundur saat pasar sempat lesu beberapa tahun lalu.

Lonjakan Nilai Jual di Jagabaya Ciamis

Seorang petani perintis di Desa Jagabaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, H. Sarkum, mengungkapkan bahwa harga umbi porang di tingkat petani saat ini sudah menyentuh angka Rp12.000 per kilogram untuk kualitas segar atau mentah.

“Memasuki bulan Juni ini, nilai jual di lapangan memang sangat memuaskan bagi kami yang bertahan,” ujar H. Sarkum saat ditemui wartawan, Kamis (25/6/2026).

Ia juga menambahkan bahwa tiap umbi porang hasil bercocok tanam yang baik rata-rata bisa mencapai bobot 3 hingga 4 kilogram per umbi.

Berdasarkan jadwal kalender pertanian pribadinya, H. Sarkum berencana untuk melakukan panen raya pada bulan Juli mendatang.

Persiapan matang pun sudah mulai dilakukan agar proses pemetikan hasil bumi tersebut berjalan lancar tanpa kendala teknis di lapangan.

Stabilitas nilai jual ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak periode satu tahun sebelumnya.

Pada tahun 2025 lalu, tingkat harga umbi porang di tingkat petani terpantau sukses bertahan di angka yang sama, yaitu Rp12.000 per kilogram.

“Sama dengan tahun kemarin, kondisi pasar relatif stabil di kisaran Rp11.000 sampai Rp12.000 per kilogram,” jelas H. Sarkum.

Nilai tersebut merupakan patokan resmi untuk transaksi komoditas dalam bentuk umbi mentah yang baru dipanen dari lahan produksi.

Petani tidak perlu lagi repot mengolah hasil panen menjadi lembaran kering sebelum didistribusikan ke jaringan pengepul.

Penjualan dalam bentuk mentah dinilai jauh lebih efisien dan memangkas waktu kerja secara signifikan.

Kilas Balik Pasang Surut Budidaya Porang

Catatan penjualan H. Sarkum pada tahun 2025 menunjukkan performa yang cukup gemilang.

Ia melaporkan telah menjual sebanyak 2 ton umbi mentah langsung ke jaringan pabrik pengolahan besar yang berada di wilayah Madiun, Jawa Timur.

Untuk musim kemarau tahun 2026 ini, hasil estimasi total panen diprediksi akan menyamai atau bahkan melampaui pencapaian tahun lalu.

Baca Juga :  Dari Garut Kembali ke Ciamis, Kisah Dibalik Surat PSSI Jabar untuk Venue BK Porprov 2026

“Target kami musim ini minimal mencapai 2 ton atau bisa lebih sedikit,” imbuh perintis pertanian tersebut.

Selain mempersiapkan alat pemanenan, fokus utama para pekerja saat ini adalah mengamankan sumber benih berkualitas untuk musim tanam berikutnya.

Sumber benih andalan dikumpulkan dari katak atau biji buah porang serta pemanfaatan kembali umbi-umbi berukuran kecil.

Perjalanan komoditas ini di Kabupaten Ciamis memang menyimpan sejarah pasang surut yang sangat dinamis.

Wilayah Ciamis sempat mengalami fenomena booming investasi pertanian porang yang luar biasa pada rentang tahun 2019 sampai tahun 2022 silam.

Namun, badai besar menghantam pada akhir tahun 2022 ketika nilai jual komoditas ini jatuh anjlok ke titik nadir terendah.

Akibat regulasi ekspor yang ketat dan produksi yang terlalu melimpah, harga umbi porang di tingkat petani hancur hingga menyentuh angka Rp2.000 sampai Rp4.000 per kilogram.

Kondisi pelik tersebut diperparah dengan terjadinya kisruh standardisasi kualitas ekspor yang membuat banyak hasil panen ditolak pihak pabrik.

Akibat kekacauan sistemik itu, gelombang besar petani memilih untuk mundur, hengkang, dan menelantarkan kebun mereka begitu saja.

Strategi Bertahan dan Diversifikasi Lahan

Di tengah keterpurukan massal tersebut, hanya ada segelintir figur tangguh yang memilih untuk tetap bertahan di jalur ini.

H. Sarkum adalah salah satunya, meskipun beliau harus realistis dengan melakukan pengurangan total luas area tanam aktifnya.

Dari sekian banyak titik lahan yang dulunya penuh dengan tanaman katak, kini hanya disisakan sekitar 2 hektare saja di Dusun Jagabaya 2.

Langkah penyelamatan ekonomi yang diambil adalah melakukan diversifikasi pertanian dengan memanfaatkan sisa lahan seluas 4 hektare lainnya.

Area sisa tersebut kini dialihkan untuk budidaya pohon pinang atau jambe hibrida yang bernilai ekonomi tinggi.

“Tanaman jambe hibrida kami saat ini sudah memasuki usia 4 tahun dan syukurlah sudah mulai belajar berbuah,” ungkap H. Sarkum.

Keputusan berani ini menjadikannya sebagai salah satu pionir sukses budidaya pinang di wilayah Ciamis tanpa mematikan usaha lamanya.

Melalui kombinasi dua jenis tanaman ini, roda pendapatan harian dan tahunan milik keluarganya dapat berjalan seimbang.

“Prinsip saya sederhana, tanaman lama tetap jalan dan sekarang ditambah komoditas jambe karena harga umbi porang di tingkat petani sedang bagus,” tegasnya.

Pengakuan Pengusaha dan Stabilitas Global

Cerita kesuksesan yang sama juga dialami oleh H. Insan Kamil, seorang pengusaha properti yang ikut terjun ke dunia agrobisnis.

Ia mengenang kembali masa-masa kejayaan saat memiliki lahan luas yang tersebar di berbagai kecamatan di Ciamis.

Baca Juga :  Bupati Ciamis dan Istri Isi Tahun Baru Hijriah Bersama Yatim Piatu dan Jompo

Saat ini, H. Insan Kamil memilih untuk fokus mengelola 1 hektare lahan aktif yang tersisa di wilayah Kecamatan Rancah.

“Pada bulan Mei kemarin, kami baru saja memanen sekitar 2 ton komoditas mentah,” tutur H. Insan Kamil saat memberikan keterangan resmi.

Hasil panen melimpah dari wilayah Rancah tersebut sukses terserap pasar dengan catatan finansial yang sangat memuaskan.

Seluruh hasil bumi itu laku terjual dengan mengacu pada harga umbi porang di tingkat petani yang berada di angka Rp11.000 per kilogram.

Beliau membenarkan bahwa badai keruntuhan harga beberapa tahun lalu telah menyaring pelaku usaha secara alamiah hingga menyisakan kelompok minoritas.

Keputusannya untuk mempertahankan lahan di Rancah didasari oleh analisis data pasar yang menunjukkan tren positif jangka panjang.

“Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini, grafik harga umbi porang di tingkat petani terbukti sangat stabil dan menguntungkan,” urai pengusaha properti tersebut.

Selain faktor nilai jual, kemudahan akses pasar juga menjadi alasan utama mengapa bisnis ini masih sangat menjanjikan.

Proses distribusi hasil panen kini tidak lagi serumit dahulu karena sistem jaringan pengepul sudah terbentuk rapi di tingkat desa.

Para pembeli atau agen dari pabrik akan datang langsung ke lokasi kebun untuk menampung seluruh hasil panen.

Efisiensi Penjualan Bentuk Mentah

Kelancaran alur perdagangan ini terjadi karena mekanisme regulasi ekspor ke negara tujuan seperti China kini sudah berjalan normal.

Ditambah lagi, jumlah pabrik pengolahan dalam negeri terus bertambah demi memenuhi tingginya permintaan tepung glukomanan di pasar internasional.

Fenomena kelangkaan barang akibat banyaknya produsen yang gulung tikar membuat posisi tawar para penyintas kini menjadi sangat kuat.

Dinamika ini membuat stabilitas harga umbi porang di tingkat petani tetap terjaga pada level tertinggi dalam sejarah pasca-pandemi.

H. Insan Kamil juga membagikan tips operasional mengenai efisiensi kerja yang ia terapkan di perkebunannya selama tiga tahun belakangan.

Pada masa awal kejayaan dahulu, ia sempat memproses hasil panen menjadi bentuk chips atau irisan tipis yang dikeringkan di bawah terik matahari.

“Namun, setelah kami hitung ulang, memproduksi chips justru menambah beban biaya operasional dan tenaga kerja secara berlebihan,” akunya secara jujur.

Proses pengirisan dan penjemuran manual memerlukan tambahan waktu serta manajemen risiko cuaca yang cukup tinggi bagi pekerja lapangan.

Mengingat selisih keuntungan yang tidak terlalu jauh berbeda, sistem penjualan langsung dalam kondisi segar dinilai sebagai pilihan paling logis saat ini.

Oleh karena itu, menjaga konsistensi stabilitas harga umbi porang di tingkat petani menjadi kunci utama kemakmuran agrobisnis masa depan.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca