Berita

Harga Pakan Meroket Imbas Dolar; Nasib Peternak Ayam Ciamis Terancam?

Kenaikan kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah membawa dampak ganda bagi perekonomian lokal, yang mana salah satunya sangat dirasakan oleh para peternak ayam Ciamis.

Pada Rabu (20/5/2026), gejolak nilai tukar mata uang ini memicu lonjakan harga pakan yang signifikan, menekan tajam margin keuntungan peternak ayam pedaging ras pejantan di wilayah tersebut.

Meskipun harga jual komoditas di pasaran masih tergolong stabil, ancaman kerugian nyata terus membayangi seiring dengan membengkaknya biaya operasional harian.

Imbas Dolar, Beban Peternak Ayam Ciamis Makin Berat

Pakan merupakan komponen terbesar sekaligus paling vital dalam struktur biaya operasional peternakan.

Bagi peternak ayam Ciamis, ketergantungan yang tinggi pada bahan baku pakan impor menjadi titik lemah yang mematikan ketika nilai tukar dolar sedang tidak bersahabat.

Ketua Perkumpulan Peternak Ayam Priangan (P2AP), H Komar Hermawan, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini sejatinya sudah berlangsung selama dua bulan terakhir.

“Pekan lalu, harga pakan masih berada di kisaran Rp8.400 per kilogram. Hari ini, angkanya sudah naik menjadi Rp8.600 per kilogram,” ujarnya kepada Reportasee.com.

Kondisi ekonomi ini diprediksi akan semakin memburuk. Jika kurs dolar tidak kunjung mereda, harga pakan diestimasikan mampu menembus angka Rp9.000 per kilogram pada akhir bulan ini.

Situasi ini secara langsung menjadi lampu kuning bagi keberlangsungan usaha peternak ayam Ciamis.

Bahan baku pakan ayam ras pedaging memang didominasi oleh pasokan impor.

Komponen esensial seperti konsentrat, tepung ikan, hingga bungkil kedelai seluruhnya didatangkan dari luar negeri.

Tercatat hanya komponen jagung yang sebagian besar kebutuhan pasokannya sudah mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Akibat melonjaknya harga pakan, Biaya Pokok Produksi (BPP) atau Break Even Point (BEP) ikut merangkak naik tajam.

H Komar merinci bahwa untuk produksi ayam pejantan, BEP yang sebelumnya berada di angka Rp29.000 per kilogram kini telah naik menjadi Rp30.000 per kilogram.

Baca Juga :  Bupati Ciamis Sidak RSUD, Soroti Disiplin dan Kualitas Pelayanan Kesehatan

Kenaikan drastis ini memaksa para peternak ayam Ciamis untuk memutar otak lebih keras demi menjaga likuiditas usaha.

Tergerusnya Keuntungan di Tengah Stabilitas Harga

Di tengah gelombang kenaikan biaya produksi, masih ada satu kabar yang menjadi penyangga harapan.

Selama lima bulan terakhir, harga jual ayam pejantan di tingkat kandang (live bird) terbukti cukup stabil di angka Rp34.000 per kilogram.

“Alhamdulillah, harga jual saat ini masih di atas BEP. Namun, karena BEP terus naik akibat tingginya harga pakan, keuntungan yang didapatkan peternakan terus tergerus. Rugi memang tidak, tetapi selisih keuntungannya terus berkurang drastis,” tambah H Komar, yang juga menjabat sebagai CEO Kawali Poultry Shop (PS).

Stabilitas harga jual tersebut saat ini menjadi jaring pengaman sementara bagi peternak ayam Ciamis.

Namun, penyusutan laba bersih yang terjadi dari hari ke hari membuat para pelaku usaha rakyat tidak bisa bernapas lega di tengah fluktuasi ekonomi makro.

Benteng Terakhir Perunggasan Rakyat di Jawa Barat

Bukan rahasia lagi bahwa industri peternakan ayam ras pedaging jenis broiler (BR) di wilayah Ciamis kini telah dikuasai oleh konglomerasi atau perusahaan raksasa bersistem closed house.

Oleh sebab itu, eksistensi peternakan ayam pejantan dan petelur menjadi benteng pertahanan terakhir bagi para peternak ayam Ciamis yang berskala mandiri.

Kabupaten Ciamis sendiri telah lama diakui sebagai sentra produksi ayam pedaging ras pejantan berskala nasional.

Perputaran ekonomi di sektor ini sangat masif, melibatkan ribuan peternak lokal yang mendedikasikan hidupnya pada sektor perunggasan.

Setiap minggunya, kawasan ini memproduksi rata-rata satu juta ekor ayam pedaging ras pejantan.

Tingkat produksi ini menuntut pasokan minimal 1.000 boks DOC (Day Old Chick). Saat ini, harga DOC pejantan terpantau stabil pada kisaran Rp1.800 hingga Rp2.000 per ekor.

Dari total satu juta ekor ayam yang dipanen setiap minggunya, sekitar 60 persen dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar strategis di Jabodetabek.

Baca Juga :  Alami Musibah Alam? Bupati Bagikan Bantuan Infak Kebencanaan di Ciamis, Cek Rinciannya!

Sisanya didistribusikan secara merata ke Bandung, Cirebon, Jawa Tengah, serta pasar lokal Priangan Timur.

Bahkan, setiap harinya ada 100.000 ekor ayam pedaging pejantan hidup yang diangkut menuju Jakarta menggunakan armada truk besar, membuktikan betapa vitalnya peran peternak ayam Ciamis dalam menjaga rantai pasok pangan ibu kota.

Ironi Tersisih dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Di sisi lain, muncul sebuah ironi baru di tengah masifnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program nasional ini menyerap pasokan daging ayam dalam jumlah fantastis.

Namun sayangnya, ayam pedaging ras pejantan kurang diminati oleh pengelola dapur MBG karena harganya dinilai jauh lebih mahal dibandingkan ayam broiler.

Menurutnya, yang masuk ke dapur MBG itu rata-rata adalah ayam broiler, karena secara anggaran harganya jauh lebih murah dibandingkan ayam pejantan.

“Minggu ini saja, harga ayam broiler di tingkat kandang hanya berkisar di angka Rp18.000 per kilogram,” ungkap H Komar.

Secara logika ekonomi, tingginya serapan ayam broiler untuk dapur MBG seharusnya menjadi peluang emas.

Ironisnya, berkah ini tidak dinikmati oleh para peternak ayam Ciamis berskala kerakyatan.

Lebih lanjut, H Komar menyebutkan bahwa peluang dari dapur MBG itu sama sekali tidak mengalir ke peternak lokal.

Penyebabnya jelas, peternakan ayam broiler di Ciamis sudah didominasi penuh oleh perusahaan konglomerasi.

“Jumlah peternak ayam Ciamis mandiri yang saat ini masih sanggup bertahan di segmen ayam broiler jumlahnya bahkan tidak sampai lima persen. Ini sangat ironis memang,” pungkas H Komar dengan nada prihatin.

Ke depan, intervensi dan keberpihakan strategis dari pemerintah sangat dibutuhkan agar lonjakan dolar tidak terus-menerus menekan nasib para peternak ayam Ciamis, sekaligus memastikan ekonomi rakyat tidak sekadar menjadi penonton di rumah sendiri.

Perjuangan para peternak ayam Ciamis hari ini adalah bukti nyata ketangguhan usaha lokal yang harus terus dijaga kelestariannya.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca