
Hujan ekstrem yang terus mengguyur Kabupaten Ciamis dalam beberapa minggu terakhir bukan hanya menyebabkan bencana alam seperti longsor, pergerakan tanah, banjir, pohon tumbang, hingga rumah warga yang ambruk.
Kondisi cuaca tersebut juga berdampak serius pada sektor pertanian, terutama bagi para petani cabai yang kini menghadapi gelombang serangan hama dan penyakit tanaman.
Di tengah situasi penuh tantangan tersebut, seorang guru di SMKN 1 Tambaksari, Adia Cahya Purnama (36), justru menjadi sorotan karena keberhasilannya mengubah lahan keluarga yang lama terbengkalai menjadi kebun cabai produktif yang mampu menghasilkan lebih dari satu ton panen setiap musim.
Lahan seluas 150 bata atau sekitar 2.100 meter persegi yang terletak di Desa Mekarsari, Kecamatan Tambaksari, sebelumnya dibiarkan tidak terurus.
Namun pada tahun 2024, Adia memutuskan untuk memanfaatkan lahan tersebut dengan mulai membudidayakan cabai rawit.
Bermodal awal Rp20 juta dari hasil tabungannya, ia menanam 2.000 pohon cabai jenis Ori 212—varietas yang lebih dikenal masyarakat sebagai cengek domba.
Cabai rawit jenis ini memiliki karakteristik unik, mampu tumbuh hingga setinggi 1,5 sampai 2 meter. Karena itu, setiap pohon membutuhkan ajir atau penyangga dari bilah bambu agar batang tetap kokoh.
“Awalnya hanya coba-coba. Tapi setelah melihat hasil panen cukup baik, saya makin tertarik untuk melanjutkan. Sekarang sudah masuk musim tanam ketiga,” kata Adia.
Dalam satu musim tanam, setiap pohon bisa menghasilkan rata-rata satu kilogram cabai.
Dengan demikian, total produksi kebunnya mampu menembus lebih dari satu ton per musim—sebuah capaian yang cukup besar untuk lahan yang sebelumnya terabaikan.
Meski produktif, usaha pertanian Adia kini dihadapkan pada tantangan berat akibat curah hujan tinggi.
Hujan yang turun hampir setiap hari membuat kelembaban udara meningkat tajam dan menjadi pemicu berkembangnya berbagai penyakit tanaman berbasis jamur.
“Serangan penyakit meningkat sejak hujan sering turun. Ada patek, busuk batang, sampai buah yang membusuk. Dampaknya, produksi turun 15 sampai 20 persen,” ujarnya.
Untuk mencegah kerusakan meluas, ia harus melakukan penyemprotan fungisida setiap dua hari sekali. Upaya ini dilakukan agar tanaman tetap bertahan dan produksi tidak merosot lebih jauh.
“Kondisi seperti ini mau tidak mau harus dihadapi. Kalau tidak disemprot rutin, tanaman bisa habis,” tambahnya.
Panen cabai dilakukan secara bertahap setiap lima hari sekali. Setiap kali panen, Adia membawa sekitar satu kuintal cabai ke Pasar Banjar.
Ia juga sering membantu membawa hasil panen petani muda lainnya di Tambaksari. Dalam satu kali pengiriman, total pasokan bisa mencapai lima kuintal.
Harga cabai di tingkat petani, terutama cengek domba, sangat fluktuatif. Pada Agustus 2025, harga sempat merosot hingga Rp15.000 per kilogram.
Situasi mulai membaik pada September dan Oktober, ketika harga berangsur naik hingga Rp18.000–Rp20.000 per kilogram.
Pertengahan November 2025, harga cabai kembali menunjukkan tren positif dan sudah mencapai Rp25.000 per kilogram selama tiga hari berturut-turut.
Adia optimistis harga akan terus merangkak naik menjelang akhir tahun, sebagaimana pola tahunan yang kerap terjadi.
“Biasanya menjelang akhir tahun harga cabai terus naik. Tahun lalu sempat tembus Rp50.000 per kilogram, bahkan ada yang jual sampai Rp80.000,” ungkapnya.
Perjalanan Adia Cahya Purnama menunjukkan bahwa pertanian masih memiliki potensi besar ketika dikelola dengan keseriusan dan inovasi, bahkan oleh seseorang yang tidak sepenuhnya berprofesi sebagai petani.
Meski menghadapi cuaca ekstrem, serangan penyakit, dan fluktuasi harga, Adia tetap mempertahankan semangat untuk membangun sektor pertanian di desanya.
Transformasi lahan terlantar menjadi kebun cabai produktif bukan hanya meningkatkan kesejahteraan keluarganya, tetapi juga menginspirasi para petani muda di Tambaksari untuk mengembangkan pertanian sebagai sumber penghidupan yang menjanjikan.





