
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Berkarya Sumatera Utara, Mayjen TNI (Purn) Achmad Daniel Chardin, SE., M.Si., menegaskan bahwa Partai Berkarya harus hadir sebagai representasi nyata aspirasi rakyat, bukan sekadar organisasi politik yang bergerak di ruang struktural semata.
Penegasan tersebut disampaikan dalam ajang silaturahmi dan konsolidasi internal DPW Partai Berkarya Sumut yang digelar di The Green Driving Range, Jalan Gaperta X, Kota Medan, Selasa malam, (16/12/2025).
Kegiatan silaturahmi tersebut dihadiri jajaran pengurus DPW Partai Berkarya Sumatera Utara dan dipimpin langsung oleh Daniel Chardin, didampingi Sekretaris DPW Bambang Muliadi, bersama pengurus lainnya.
Momentum ini dimanfaatkan sebagai ruang refleksi, konsolidasi, sekaligus penguatan arah perjuangan partai di tengah dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang berkembang di masyarakat.
Dalam arahannya, Daniel Chardin menekankan bahwa keberadaan partai politik sejatinya harus berangkat dari kebutuhan rakyat dan kembali kepada rakyat.
Menurutnya, amanah masyarakat harus menjadi pijakan utama dalam setiap langkah politik yang diambil oleh Partai Berkarya, khususnya di Sumatera Utara.
“Berkarya tidak boleh hanya hadir sebagai organisasi politik secara struktural. Kita harus menjadi bagian dari aspirasi rakyat itu sendiri. Amanah rakyat harus kita tempatkan di garis terdepan dalam menjalankan visi dan misi partai,” tegas Daniel.
Ia menyampaikan bahwa penguatan internal partai menjadi kunci agar seluruh elemen memiliki pemahaman yang sama dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Konsolidasi dan silaturahmi seperti ini dinilai penting untuk menyatukan langkah, menyamakan persepsi, serta memastikan bahwa seluruh kader bergerak dalam satu arah yang berpihak pada rakyat.
Daniel Chardin juga menyoroti pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi kemajuan daerah dan bangsa.
Ia menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi perhatian serius partai politik, karena melalui pendidikan yang berkualitas akan lahir generasi yang memiliki kapasitas, kapabilitas, dan daya saing.
“Wacana ke depan adalah saling menguatkan di bidang pendidikan. Kita ingin mencerdaskan kehidupan bangsa agar sumber daya manusia Indonesia, khususnya di Sumatera Utara, menjadi kuat dan maju,” ujarnya.
Selain pendidikan, sektor pertanian juga menjadi perhatian utama dalam pandangan politik Daniel Chardin.
Ia mengingatkan bahwa kesejahteraan rakyat, terutama di daerah, sangat erat kaitannya dengan kebijakan pertanian yang berpihak kepada petani.
Berdasarkan pengalamannya di masa lalu, ia menilai Indonesia pernah berada pada posisi unggul dalam pengembangan pertanian dan bahkan menjadi rujukan bagi negara lain di kawasan Asia Tenggara.
“Dulu, sistem pertanian kita banyak ditiru oleh negara-negara lain seperti Thailand dan Malaysia. Namun sekarang, justru mereka yang jauh lebih maju, sementara kita mengalami ketertinggalan. Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama,” ungkap mantan Pangdam I/Bukit Barisan tersebut.
Dalam konteks tersebut, Daniel Chardin mendorong agar pemerintah lebih hadir dalam menjaga stabilitas harga beras sebagai komoditas pangan utama masyarakat.
Menurutnya, fluktuasi harga beras tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga memiliki konsekuensi besar bagi petani dan pedagang.
Ia menilai kebijakan subsidi pertanian selama ini belum sepenuhnya tepat sasaran.
Subsidi di hulu, seperti pupuk dan bibit, kerap tidak sampai kepada petani akibat persoalan distribusi dan disparitas harga. Kondisi tersebut justru membuka celah bagi praktik spekulasi yang merugikan petani kecil.
“Yang lebih dibutuhkan petani adalah jaminan harga jual saat panen. Jika pemerintah hadir membeli hasil panen dengan harga standar yang menguntungkan petani, maka daya beli mereka akan meningkat dan kesejahteraan bisa terjaga,” jelasnya.
Menurut Daniel, subsidi di hilir melalui jaminan harga panen dinilai lebih efektif dibandingkan subsidi di hulu.
Dengan adanya kepastian harga, petani akan lebih siap menghadapi mekanisme pasar dan mampu memenuhi kebutuhan produksi pertanian berikutnya tanpa tekanan ekonomi yang berlebihan.
Selain menyampaikan gagasan dan kritik konstruktif terhadap kebijakan publik, Daniel Chardin juga menegaskan bahwa Partai Berkarya harus membuktikan keberpihakannya kepada rakyat melalui aksi nyata.
Hal tersebut diwujudkan melalui program bantuan kemanusiaan bagi korban bencana banjir di Kabupaten Langkat dan Kota Binjai, Sumatera Utara.
Ia memaparkan bahwa DPW Partai Berkarya Sumut telah menyalurkan berbagai bantuan kepada ribuan korban banjir.
Di antaranya satu ton beras, ratusan kilogram minyak goreng, ratusan kardus mi instan dan air mineral, seribu bungkus nasi siap saji, ribuan bungkus roti, serta dua galon besar air bersih.
Bantuan tersebut diberikan kepada warga yang rumahnya masih terendam banjir meskipun bencana telah berlangsung selama sepekan.
“Berkarya merasa terpanggil untuk hadir di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah. Ini adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial kami sebagai bagian dari rakyat,” ujar Daniel.
Dalam kesempatan itu, Daniel Chardin juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus DPW Partai Berkarya Sumut yang telah menjalankan misi kemanusiaan tersebut.
Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Wakil Ketua I DPW, Dr. Yance Aswin, SH., MH, yang memimpin langsung penyaluran bantuan ke Kota Binjai dan Kabupaten Langkat, didampingi Sekretaris DPW Bambang Muliadi, SE., Ak., serta Bendahara DPW Elista Liharma Saragih, SH., M.Kn.
Seluruh bantuan diberangkatkan dari Kantor DPW Partai Berkarya Sumut di kawasan Ringroad, Kota Medan, dan disalurkan langsung kepada masyarakat terdampak.
Daniel Chardin menegaskan bahwa aksi kemanusiaan tersebut tidak berhenti pada satu tahap saja.
Ia memastikan bahwa Partai Berkarya Sumatera Utara telah menyiapkan tahap lanjutan bantuan bagi korban banjir dan longsor, yang akan disalurkan dengan menyesuaikan kondisi dan waktu yang tepat.
“Berkarya ingin terus hadir, bukan hanya dalam wacana politik, tetapi melalui tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh rakyat,” tutupnya.





