Berita

Harga Ayam dan Telur di Ciamis Alami Fluktuasi Tajam, Peternak Mulai Cemas Siasati Biaya Pakan

Pantau dinamika harga ayam dan telur di Ciamis terbaru Juli 2026. Simak analisis peternak mengenai biaya pakan dan BEP di sini!

Dinamika pasar peternakan di wilayah Priangan Timur, khususnya Kabupaten Ciamis, kembali menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis pada awal Juli 2026 ini.

Perubahan tren yang kontras terjadi pada komoditas unggas, di mana sektor petelur dan pedaging mengalami nasib yang bertolak belakang. Kondisi ini memicu respons cepat dari para pelaku usaha lokal untuk menjaga stabilitas produksi mereka.

Informasi terbaru mengenai harga ayam dan telur di Ciamis kini menjadi perhatian utama para peternak lokal yang sedang berjuang menghadapi ketidakpastian pasar.

Berdasarkan data di lapangan, fluktuasi ini sangat dipengaruhi oleh pasokan barang dan pergerakan biaya operasional. Para peternak harus memutar otak agar tidak terlempar dari persaingan usaha yang kian ketat.

Menurut Koordinator Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) wilayah Priangan Timur, Ir H Kuswara Suwarman MSc, pergerakan nilai jual di tingkat produsen sangat fluktuatif.

Komoditas petelur sempat menikmati masa penguatan sebelum akhirnya kembali terkoreksi ke titik aman. Pemantauan berkala terhadap harga ayam dan telur di Ciamis ini menjadi kunci bagi keberlangsungan usaha mandiri.

Analisis Tren Harga Ayam dan Telur di Ciamis Terbaru

Memasuki pekan pertama Juli 2026, grafik penjualan komoditas peternakan ini terus bergerak secara dinamis.

Nilai jual telur ayam ras di tingkat peternak sempat naik menembus angka Rp 22.500/kg, sedikit di atas biaya pokok produksi atau Break Even Point (BEP).

Namun, dalam tiga hari terakhir, nilai tersebut kembali merosot ke kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000/kg.

Penurunan ini tentu berdampak langsung pada proyeksi keuntungan bersih yang bisa didapatkan oleh para pelaku usaha.

“Sekarang kondisi pasar di tingkat peternak malah turun lagi, termasuk untuk wilayah Ciamis yang sudah berlangsung selama tiga hari ini,” ujar Kuswara saat memberikan keterangan resmi pada Kamis (9/7/2026).

Realisasi rata-rata harian saat ini tertahan di angka Rp 20.500/kg, yang berarti berada tepat pada batas garis BEP.

Sementara itu, biaya produksi justru cenderung merangkak naik menyusul lonjakan nilai jual pakan di pasar domestik.

Kondisi impas ini membuat margins keuntungan para pengusaha menjadi sangat tipis dan rentan merugi.

Jika menengok ke belakang, sepekan menjelang akhir Juni lalu, para peternak sempat dilanda kecemasan yang luar biasa akibat kejatuhan pasar yang drastis.

Baca Juga :  Menggebrak Potensi Desa, 936 Mahasiswa KKN Unigal Siap Bangkitkan Ekonomi Ciamis

Penurunan ini memicu pergeseran nilai harga ayam dan telur di Ciamis hingga menyentuh titik nadir di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.650/kg. Angka tersebut jelas berada jauh di bawah nilai BEP yang ideal.

Akibat anjloknya nilai jual tersebut, para pelaku usaha harus menanggung kerugian operasional yang cukup besar setiap harinya.

Mereka terpaksa merogoh kocek pribadi untuk menutupi kekurangan biaya pembelian pakan harian. Beruntung, memasuki hari terakhir bulan Juni, kondisi pasar perlahan-lahan mulai menunjukkan tanda-tahan pemulihan yang positif.

Berdasarkan pantauan informasi harga pasar (Pinsar), pada tanggal 30 Juni 2026, pergerakan nilai komoditas ini di wilayah Ciamis, Banjar, dan Tasikmalaya naik ke angka rata-rata Rp 20.000/kg.

Penyesuaian grafik harga ayam dan telur di Ciamis pada tanggal 1 Juli 2026 naik signifikan ke angka Rp 21.500/kg, lalu naik lagi menjadi Rp 22.500/kg.

Sayangnya, puncak penguatan di angka Rp 22.500/kg tersebut hanya mampu bertahan selama tiga hari hingga tanggal 4 Juli 2026. Pada tanggal 5 Juli 2026, nilainya mulai beringsut turun ke angka Rp 21.500/kg.

Sejak hari Senin lalu, nilai jual terus tertekan hingga bertahan di batas bawah Rp 20.000 sampai Rp 21.000/kg.

Dampak Kenaikan Harga Pakan Pabrikan Bagi Peternak

Ketidakpastian mengenai harga ayam dan telur di Ciamis ini membuat para peternak kembali diliputi rasa cemas yang mendalam.

Masalahnya, biaya pakan terus mengalami kenaikan konsisten tanpa ada tanda-tanda akan mengalami penurunan dalam waktu dekat.

Komponen pakan sendiri merupakan porsi terbesar dari total biaya operasional.

Perwakilan kelompok peternak ayam petelur “Maju Berdikari” dari Dusun Timbang Windu, Desa Pamalayan, Cijeungjing, Eka Muntaha, membenarkan situasi sulit ini.

Di tengah ketidakpastian pasar, fluktuasi harga ayam dan telur di Ciamis kian terasa berat karena ongkos operasional kandang yang membengkak secara masif.

“Saat ini nilai jual pakan pabrikan sudah menembus angka Rp 7.750/kg, tergantung pada merek yang digunakan,” jelas Eka pada Kamis (9/7/2026).

Sebagai perbandingan, pada awal Juni lalu nilai pakan masih berada di kisaran Rp 6.800/kg, kemudian merangkak naik menjadi Rp 7.000/kg.

Tingginya nilai pakan ini disebabkan oleh ketergantungan industri lokal terhadap bahan baku impor, seperti konsentrat dan bungkil kedelai.

Komoditas tersebut sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar internasional serta fluktuasi nilai tukar kurs dolar AS.

Baca Juga :  Pemkab Ciamis Minta HDCI Terlibat Promosikan Wisata Daerah

Di sisi lain, gejolak harga ayam dan telur di Ciamis memaksa peternak melakukan efisiensi kerja yang ketat di kandang.

Situasi dilematis ini diperparah dengan kondisi di mana biaya pakan terus melambung tinggi, namun nilai jual hasil panen di kandang justru merosot.

“Sudah beberapa hari ini nilai jual telur turun lagi ke kisaran Rp 20.000 sampai Rp 21.000/kg, kami sangat khawatir jika nilainya merosot lebih dalam,” kata Eka.

Sinyal Kebangkitan Komoditas Ayam Broiler

Di tengah kelesuan sektor petelur, kabar baik justru datang dari komoditas ayam pedaging jenis ras broiler (BR).

Kabar ini melengkapi laporan harian harga ayam dan telur di Ciamis yang terus diperbarui oleh asosiasi peternak.

Nilai jual ayam BR hidup (live bird) di tingkat peternak wilayah Priangan Timur kini mulai bangkit setelah sempat terpuruk lama.

Sebelumnya, nilai jual ayam BR sempat tenggelam di titik nadir yang sangat rendah, yaitu kisaran Rp 12.000 hingga Rp 13.000/kg.

Angka tersebut sangat jauh di bawah nilai BEP BR yang ideal, yakni Rp 22.000/kg untuk peternakan rakyat mandiri, dan Rp 18.500/kg untuk kandang modern milik perusahaan besar terintegrasi.

Kejatuhan melandai ini terjadi sejak memasuki bulan Juni, yang disinyalir sebagai bagian dari siklus lima tahunan akibat terjadinya over produksi nasional.

Stok ayam hidup di pasar sangat melimpah sehingga nilainya jatuh tersungkur. Akibat siklus tersebut, para peternak mandiri harus mengalami kerugian materi yang sangat besar.

Namun, sejak tanggal 2 Juli 2026, data Pinsar menunjukkan adanya pergerakan positif di mana nilai jual mulai beringsut ke angka Rp 12.500 hingga Rp 13.500/kg.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 2026, nilai jual ayam BR sudah bertengger di angka Rp 14.000 hingga Rp 14.500/kg di kandang.

Meskipun trennya positif, Kuswara mengingatkan bahwa nilai jual saat ini masih berada di bawah garis BEP peternak rakyat.

Ditambah lagi, populasi budidaya BR di Ciamis saat ini dominan dikuasai oleh perusahaan skala besar terintegrasi.

Porsi untuk peternakan rakyat mandiri tercatat tidak sampai 5 persen dari total populasi.

Secara keseluruhan, fluktuasi harga ayam dan telur di Ciamis mencerminkan rapuhnya ketahanan usaha peternak mandiri terhadap modal dan pakan.

Diperlukan langkah strategis dari pemerintah daerah untuk menjamin ketersediaan bahan baku pakan yang murah demi melindungi keberlangsungan usaha peternak lokal.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca