
Sebanyak 936 mahasiswa Universitas Galuh resmi diterjunkan ke 40 desa yang tersebar di lima kecamatan wilayah Kabupaten Ciamis.
Ribuan agen perubahan muda ini disebar dalam rangka pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN Unigal) Periode II Tahun Akademik 2022/2023.
Program pengabdian masyarakat ini menyasar Kecamatan Sindangkasih, Cikoneng, Sadananya, Ciamis, dan Baregbeg.
Tidak sekadar menggugurkan kewajiban SKS, langkah nyata ini membawa misi besar untuk mendorong roda perkenomian warga setempat melalui kolaborasi strategis antara dunia akademik dan pemerintah daerah.
Pemilihan kelima kecamatan tersebut sebagai lokasi pengabdian tentu bukan tanpa perhitungan matang.
Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki potensi lokal yang sangat luar biasa, mulai dari sektor pertanian, industri kreatif rumahan, hingga pariwisata.
Namun, potensi tersebut masih membutuhkan sentuhan inovasi dan pendampingan berkelanjutan agar bisa berkembang lebih progresif di era modern.
Ringkasan Berita
Usung Tema Peningkatan Ekonomi Berkelanjutan
Pada pelaksanaan periode ini, kegiatan akademik kebanggaan warga Ciamis tersebut membawa napas baru yang sangat relevan dengan dinamika sosial saat ini.
Tema utama yang diangkat adalah “Peningkatan Ekonomi Berkelanjutan melalui Program KKN Unigal Tahun 2023”.
Melalui payung tema tersebut, setiap peserta pengabdian diharapkan mampu menjadi motor penggerak bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Fokus utama mahasiswa kini bergeser; bukan lagi sekadar memprioritaskan pembangunan infrastruktur fisik, melainkan lebih menitikberatkan pada pemberdayaan kualitas sumber daya manusia (SDM) di pedesaan.
Sebagai contoh konkret, para mahasiswa ditargetkan mampu membantu warga dalam memasarkan produk-produk lokal desa secara digital (digital marketing).
Selain itu, mereka juga diamanatkan untuk mendampingi perbaikan tata kelola pembukuan usaha mikro, hingga merancang pembaruan kemasan produk agar memiliki nilai jual yang lebih kompetitif di pasar luas.
Pesan Rektor: Kontribusi Nyata Implementasi Tri Dharma
Rektor Universitas Galuh, Prof. Dr. Dadi, M.Si., memberikan arahan khusus kepada ratusan mahasiswa yang berangkat ke lapangan.
Dadi menegaskan bahwa melalui kegiatan KKN Unigal ini, masyarakat desa harus bisa merasakan langsung kontribusi positif dari kehadiran kaum intelektual kampus.
“Kontribusi mahasiswa di lapangan nantinya merupakan bagian dari hasil kerja sama dan kolaborasi yang erat antara Unigal dengan Pemerintah Kabupaten Ciamis,” tutur Prof. Dadi dengan penuh optimisme.
Lebih jauh, Rektor memaparkan bahwa program ini merupakan wujud paling nyata dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Mahasiswa dituntut untuk peka membaca situasi, menganalisis permasalahan sosial, dan memberikan solusi yang aplikatif tanpa membebani warga.
Sinergi Akademisi dan Pemkab Ciamis
Kolaborasi antara lembaga pendidikan tinggi dan pemerintah daerah merupakan kunci utama kesuksesan pembangunan suatu wilayah.
Dalam konteks program ini, eksistensi KKN Unigal berfungsi sebagai jembatan strategis.
Jembatan ini menghubungkan literatur akademis di dalam ruang kuliah dengan realitas tantangan yang dihadapi oleh masyarakat desa setiap harinya.
Oleh karena itu, penyebaran mahasiswa ini dirancang agar sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Ciamis, sehingga program yang dieksekusi benar-benar tepat sasaran.
Harapan Bupati Ciamis Terhadap Mahasiswa KKN Unigal
Sementara itu, Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kolaborasi harmonis yang terjalin antara Pemkab Ciamis dan Universitas Galuh.
Herdiat sangat menyadari bahwa pemerintah daerah membutuhkan dukungan penuh dari berbagai elemen masyarakat, terutama inovasi cemerlang dari kalangan akademisi, untuk mempercepat laju pembangunan.
Herdiat menaruh harapan besar agar seluruh mahasiswa KKN Unigal mampu secara aktif menggali dan mengembangkan berbagai potensi tersembunyi yang ada di lokasi pengabdian masing-masing.
Setiap desa diyakini memiliki “harta karun” berupa keunikan lokal yang belum terkelola secara optimal.
“Mahasiswa harus mampu memetakan potensi tersebut dan merumuskan strategi pengembangannya. Jadikan momentum KKN ini sebagai wadah pertukaran ide dengan tokoh masyarakat, pemuda, dan pelaku usaha lokal di desa,” harap Bupati Herdiat.
Pada akhirnya, jejak langkah mahasiswa di 40 desa tersebut diharapkan tidak luntur begitu program KKN usai.
Edukasi dan sistem ekonomi berkelanjutan yang dirintis selama masa pengabdian diyakini akan menjadi fondasi kuat bagi kemandirian desa, yang nantinya diteruskan oleh warga Ciamis secara swadaya.





