
Dalam sepekan terakhir, Kabupaten Ciamis seolah tak henti dilanda musibah. Beragam bencana datang silih berganti, mulai dari tanah longsor, pohon tumbang, rumah roboh, hingga kebakaran yang terus terjadi meski hujan deras mengguyur wilayah tersebut hampir setiap hari.
Cuaca ekstrem yang terjadi selama empat hari berturut-turut, dengan intensitas hujan tinggi di berbagai kecamatan, ternyata tak menyurutkan ancaman kebakaran yang masih mengintai warga.
Dalam beberapa hari terakhir, tercatat dua peristiwa kebakaran rumah di dua lokasi berbeda menambah daftar panjang bencana yang menimpa Ciamis.
Rumah Warga di Banjarsari Hangus Terbakar Akibat Diduga Korsleting Listrik
Peristiwa pertama terjadi pada Rabu (22/10/2025) dini hari sekitar pukul 01.20 WIB. Sebuah rumah permanen milik Nunung Nurohmah (63) di Dusun Wanayasa, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, dilalap si jago merah.
Api yang diduga berasal dari korsleting listrik dengan cepat membesar dan melahap hampir seluruh bangunan. Tak hanya rumah, tiga unit sepeda motor milik korban juga ikut terbakar dalam insiden tersebut.
Kerugian material ditaksir mencapai Rp 200 juta. Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, kebakaran tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga korban yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda di tengah cuaca tak menentu.
Kebakaran di Cipaku, Warga Berjibaku Selamatkan Aki Ukar dari Amukan Api
Kebakaran berikutnya terjadi pada Jumat (24/10/2025) malam sekitar pukul 20.30 WIB di Dusun Ciroyom RT 01 RW 05, Desa Gereba, Kecamatan Cipaku, Ciamis. Rumah milik Aki Ukar (75), seorang perajin kendang yang dikenal warga setempat, tiba-tiba dilalap api.
Menurut keterangan Kabid Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Ciamis, Budi Rahmat, S.IP, sumber api diduga berasal dari tungku di dapur yang lupa dimatikan setelah digunakan untuk memasak.
Warga yang pertama kali melihat kepulan asap dari arah dapur langsung berteriak meminta pertolongan. Dalam hitungan menit, puluhan warga berdatangan ke lokasi. Tanpa pikir panjang, mereka menerobos masuk ke rumah yang mulai dipenuhi asap untuk menyelamatkan Aki Ukar yang diduga sedang tertidur.
“Api sudah membesar di bagian dapur ketika warga datang. Mereka langsung berupaya menyelamatkan penghuni dan memadamkan api dengan peralatan seadanya,” ujar Budi Rahmat.
Upaya warga sempat terkendala karena kobaran api yang cepat membesar. Beruntung, Agung Ginanjar (30), Kepala Dusun Gereba yang kebetulan melintas di lokasi, segera menghubungi petugas Damkar Pos WMK Kawali.
Tak lama berselang, empat petugas yang sedang siaga—Angga, Arydi, Bimar, dan Mugni—bergerak cepat menuju lokasi dengan satu unit mobil pancar.
“Sekitar pukul 21.50 WIB, api berhasil dipadamkan sepenuhnya dan dilakukan proses pendinginan. Petugas kemudian kembali ke Pos WMK Kawali,” jelas Budi Rahmat.
Meski sebagian rumah berukuran sekitar 3 x 6 meter persegi sempat terbakar, petugas berhasil mencegah api merembet ke seluruh bangunan. Total kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 20 juta.
Aki Ukar berhasil diselamatkan dan tidak mengalami luka serius. Namun, sejumlah peralatan kerajinan kendang miliknya ikut rusak akibat panas dan air pemadaman.
Waspada Musim Hujan, Warga Diminta Perhatikan Keamanan Rumah
Serangkaian peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat Ciamis untuk tetap waspada di tengah musim penghujan.
Meski curah hujan tinggi kerap dianggap mampu meminimalkan risiko kebakaran, faktanya korsleting listrik dan tungku api tradisional masih menjadi sumber bahaya yang nyata.
Pihak Satpol PP Ciamis melalui Bidang Damkar dan Penyelamatan mengimbau warga agar memastikan instalasi listrik di rumah terpasang dengan baik, serta tidak meninggalkan api dapur atau tungku dalam keadaan menyala tanpa pengawasan.
“Cuaca ekstrem bisa memperparah risiko bencana. Karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah kebakaran maupun bencana lainnya,” tambah Budi Rahmat.
Ciamis Masih dalam Status Siaga Bencana
Hingga pekan terakhir Oktober 2025, Kabupaten Ciamis masih dalam status siaga bencana akibat intensitas hujan tinggi yang berpotensi menimbulkan tanah longsor, banjir, dan peristiwa lain yang dapat mengancam keselamatan warga.
Pemerintah daerah bersama BPBD, Satpol PP, dan aparat desa terus berkoordinasi untuk memperkuat langkah mitigasi dan memastikan bantuan cepat bagi warga terdampak.
Rentetan bencana yang terjadi menjadi peringatan serius bahwa kesigapan dan kebersamaan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat adalah kunci utama menjaga keselamatan bersama.





