Berita

Ayam Sentul Masih Jadi Ikon Ciamis, Ini Fakta di Balik Isu Ketertinggalan

Pemerintah Kabupaten Ciamis menegaskan bahwa Ayam Sentul hingga kini masih menjadi ikon daerah sekaligus plasma nutfah yang terus dijaga keberlangsungannya.

Isu yang menyebutkan bahwa Kabupaten Ciamis tertinggal dalam pengembangan Ayam Sentul belakangan mencuat di tengah masyarakat.

Kabar tersebut bahkan berkembang menjadi anggapan bahwa budidaya Ayam Sentul kini lebih maju di daerah lain, seperti Bogor dan Sukabumi.

Sementara Ciamis sebagai daerah asalnya justru kehilangan peran strategis, termasuk dalam penyediaan DOC (Day Old Chick).

Namun, fakta di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda.

Pemerintah Kabupaten Ciamis menegaskan bahwa Ayam Sentul hingga kini masih menjadi ikon daerah sekaligus plasma nutfah yang terus dijaga keberlangsungannya.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis, Anton Wahyu R., melalui Kepala Bidang Produksi, Prasarana, dan Sarana Peternakan, Yono, menyatakan bahwa informasi mengenai ketertinggalan Ciamis dalam pengembangan Ayam Sentul tidak sesuai dengan kondisi aktual.

“Tidak benar jika Ciamis disebut tertinggal dibanding daerah lain dalam pengembangan Ayam Sentul,” ujar Yono.

Menurutnya, munculnya isu tersebut lebih disebabkan oleh tingginya permintaan pasar yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi.

Permintaan terhadap Ayam Sentul Ciamis, baik dari masyarakat lokal maupun dari luar daerah, mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Lonjakan permintaan tersebut belum sebanding dengan peningkatan populasi ayam yang dapat diproduksi.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah keterbatasan sarana kandang di Balai Ayam Sentul Ciamis.

Baca Juga :  PSGC Ciamis U17 Masuk Babak 8 Besar Piala Soeratin 2024

Fasilitas yang tersedia saat ini masih relatif minim, sehingga kapasitas produksi belum dapat ditingkatkan secara optimal.

“Permintaan datang tidak hanya dari masyarakat Ciamis, tetapi juga dari kabupaten tetangga hingga luar kota. Namun, sarana kandang yang kami miliki masih terbatas,” jelas Yono.

Ia mengungkapkan bahwa populasi Ayam Sentul di Balai Ayam Sentul Ciamis saat ini hanya berkisar sekitar 300 ekor per minggu.

Dengan jumlah tersebut, permintaan terhadap DOC atau benih Ayam Sentul tidak dapat dipenuhi sepenuhnya.

Kondisi inilah yang kemudian memunculkan stigma seolah-olah Ayam Sentul Ciamis tidak lagi berkembang.

Padahal, menurut Yono, pembudidayaan tetap berjalan dan menjadi prioritas pemerintah daerah.

“Ayam Sentul adalah ikon Kabupaten Ciamis sekaligus plasma nutfah daerah. Keberlangsungannya tentu harus terus kami jaga,” tegasnya.

Di luar balai, ekosistem budidaya Ayam Sentul di Ciamis juga masih tergolong kuat.

Hingga tahun 2025, tercatat sekitar 400 kelompok pembudidaya Ayam Sentul yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Ciamis.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa Ayam Sentul masih terpelihara dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak peternak lokal.

“Jumlah kelompok pembudidaya ini bisa dikatakan tinggi dan menandakan bahwa Ayam Sentul di Ciamis masih bertahan dan berkembang,” ujar Yono.

Baca Juga :  bank bjb Rayakan HUT Jawa Barat ke-79 dengan Apresiasi Meriah untuk Nasabah Setia

Selain keterbatasan sarana kandang, tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan Ayam Sentul adalah ketersediaan pakan sebagai kebutuhan operasional tahunan.

Faktor ini menjadi salah satu penentu dalam menjaga keberlanjutan produksi dan kualitas ternak.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Ciamis juga mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya dalam penyediaan DOC Ayam Sentul.

Bantuan tersebut disalurkan secara berkala kepada kelompok pembudidaya.

“Setiap tahun kami menerima bantuan DOC Ayam Sentul dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pada tahun ini, bantuan tersebut diberikan kepada lima kelompok pembudidaya,” kata Yono.

Dengan berbagai fakta tersebut, pemerintah daerah menegaskan bahwa Ayam Sentul masih menjadi identitas dan kebanggaan Kabupaten Ciamis.

Isu ketertinggalan yang beredar di masyarakat lebih disebabkan oleh keterbatasan kapasitas produksi di tengah permintaan yang terus meningkat, bukan karena hilangnya komitmen terhadap pengembangan plasma nutfah asli Ciamis.

Ke depan, penguatan sarana prasarana dan dukungan berkelanjutan diharapkan dapat memperkuat posisi Ayam Sentul sebagai ikon daerah, sekaligus menjaga warisan genetik lokal agar tetap lestari dan berdaya saing.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca