
Di tengah dinamika politik nasional yang kian mengkhawatirkan, para tokoh dan pejuang reformasi kembali bersuara.
Dalam gelaran Silaturahmi Akbar Aktivis 98 yang berlangsung di Bandung, ratusan aktivis dari berbagai daerah berkumpul dan menyampaikan pernyataan sikap atas kondisi demokrasi, hukum, dan ekonomi Indonesia yang dinilai semakin menjauh dari semangat Reformasi 1998.
Sorotan utama forum ini datang dari Ketua Presidium Aktivis 98, Muhamad Suryawijaya, yang menyampaikan pandangan tajam sekaligus seruan keras kepada pemerintah dan seluruh elemen bangsa.
Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa upaya menyelamatkan demokrasi dan ekonomi nasional tidak bisa ditunda, dan harus dilakukan melalui pelaksanaan reformasi secara utuh, jujur, dan konsekuen.
“Kami, Aktivis 98, bukan sekadar bagian dari sejarah, tetapi penjaga nilai-nilai perjuangan reformasi. Ketika demokrasi melemah dan ekonomi tak berpihak kepada rakyat, kami merasa terpanggil untuk kembali bersuara,” ujar Suryawijaya dalam konferensi pers di sela-sela kegiatan.
Kondisi Demokrasi yang Mengkhawatirkan
Suryawijaya menyampaikan keprihatinan mendalam atas semakin menyempitnya ruang kebebasan sipil di Indonesia.
Ia menyoroti maraknya pembungkaman kritik, represifitas terhadap gerakan mahasiswa, dan minimnya partisipasi publik dalam pengambilan kebijakan.
“Demokrasi kita sedang sakit. Kritik dibungkam, mahasiswa dibungkam, suara rakyat tidak lagi mendapat tempat. Jika ini terus dibiarkan, kita akan kembali ke era otoritarianisme yang pernah kita lawan bersama,” tegasnya.
Ia menyerukan agar seluruh bentuk intimidasi terhadap masyarakat sipil dihentikan dan pemerintah membuka kembali ruang dialog yang sehat antara rakyat dan penguasa.
Supremasi Hukum Harus Ditegakkan
Forum ini juga menjadi sorotan penting bagi penegakan hukum yang dinilai mengalami kemunduran. Suryawijaya menyebut adanya degradasi integritas di institusi penegak hukum yang tercemar praktik korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan.
“Kami menuntut reformasi hukum dilakukan secara menyeluruh. Institusi penegak hukum harus dibersihkan dari aktor-aktor yang mencederai keadilan. Hukum tidak boleh menjadi alat kekuasaan, tetapi pelindung hak warga negara,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya independensi lembaga peradilan dan penghapusan intervensi politik dalam proses hukum.
Kabinet Harus Direformasi, Rakyat Harus Diprioritaskan
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh forum, Muhamad Suryawijaya menyoroti komposisi kabinet pemerintahan saat ini yang dinilainya lebih mengakomodasi kepentingan politik praktis ketimbang keberpihakan kepada rakyat.
“Kabinet hari ini dipenuhi oleh figur-figur oportunis yang tak menunjukkan kapabilitas membela rakyat. Mereka justru menjauhkan bangsa ini dari cita-cita reformasi,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Karena itu, Aktivis 98 menyerukan reshuffle kabinet secara menyeluruh, dengan membuka peluang bagi tokoh-tokoh berintegritas, termasuk dari kalangan Aktivis 98 sendiri, untuk mengisi pos strategis.
Krisis Ekonomi Butuh Pendekatan Pro-Rakyat
Di tengah ancaman krisis global, para aktivis juga menyoroti lambannya respons pemerintah terhadap dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Suryawijaya menekankan pentingnya kebijakan ekonomi yang inklusif, adil, dan berpihak pada kelompok rentan.
“Pemulihan ekonomi tidak bisa hanya fokus pada angka pertumbuhan makro. Pemerintah harus hadir secara nyata dalam kehidupan rakyat kecil—petani, nelayan, buruh, dan pedagang kecil,” paparnya.
Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi yang sehat hanya bisa dibangun jika demokrasi dan hukum ditegakkan secara adil.
Generasi Muda Sebagai Estafet Reformasi
Salah satu penekanan penting dari forum ini adalah ajakan kepada generasi muda untuk melanjutkan perjuangan reformasi.
Suryawijaya menekankan perlunya menciptakan ruang-ruang dialog antara generasi, agar semangat perjuangan tidak padam di tengah gelombang pragmatisme politik.
“Kami ingin generasi muda mengambil alih estafet perjuangan. Kritis, jujur, dan berani membela keadilan sosial. Reformasi adalah milik semua generasi, bukan hanya sejarah kami,” ujarnya.
Seruan Tegas dari Forum Silaturahmi Akbar Aktivis 98
Mengakhiri pernyataan sikapnya, forum yang dipimpin oleh Muhamad Suryawijaya itu menyampaikan tiga seruan utama kepada pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia:
“Reformasi Hukum Jalan Terus!”
“Reformasi Kabinet Sekarang Juga!”
“Selamatkan Demokrasi, Selamatkan Ekonomi!”
Pesan ini menjadi cermin kekhawatiran sekaligus harapan bahwa perubahan masih mungkin dilakukan, asalkan bangsa ini kembali kepada akar reformasi: demokrasi yang sehat, hukum yang adil, dan ekonomi yang menyejahterakan rakyat.





