
Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah atau Ramadhan 2026, sektor makanan dan minuman (food and beverage/F&B) dinilai masih memiliki prospek yang positif dan berkelanjutan.
Peningkatan pola konsumsi masyarakat yang bersifat musiman, ditopang oleh jaminan pasokan pangan dari pemerintah serta ketahanan pelaku usaha, menjadikan sektor ini relatif stabil di tengah dinamika perekonomian nasional.
Akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Galuh (Unigal), Dendy Syaiful Akbar, S.E., M.Si., menilai bahwa Ramadhan secara konsisten menjadi momentum penting bagi industri makanan dan minuman.
Menurutnya, perubahan perilaku konsumsi masyarakat selama bulan puasa tidak hanya bersifat temporer, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap aktivitas ekonomi, terutama di sektor riil.
“Setiap menjelang Ramadhan, konsumsi masyarakat terhadap produk makanan dan minuman cenderung meningkat. Kondisi ini membuat sektor F&B relatif lebih tahan terhadap gejolak harga dan perlambatan ekonomi dibandingkan sektor lainnya,” ujar Dendy.
Optimisme tersebut turut diperkuat oleh langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan pangan.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan bahwa stok komoditas pangan strategis, seperti beras, jagung, daging ayam, telur, minyak goreng, gula, dan cabai, berada dalam kondisi aman dan surplus hingga Ramadhan 1447 H.
Kepastian ini disampaikan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam rapat bersama Komisi IV DPR RI pada awal Februari 2026.
Dendy menilai, ketersediaan pasokan pangan menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas harga selama periode lonjakan permintaan.
“Jika pasokan terjaga, maka tekanan inflasi pangan dapat dikendalikan. Hal ini penting agar daya beli masyarakat tetap terjaga selama Ramadhan,” jelasnya.
Dari sisi konsumsi, data menunjukkan tren yang konsisten. Survei GoodStats 2025 mencatat bahwa makanan dan minuman menjadi kategori belanja terbesar masyarakat selama Ramadhan.
Permintaan meningkat signifikan pada produk siap saji, takjil, kurma, serta makanan tradisional.
Temuan ini sejalan dengan Buletin Konsumsi Pangan 2025 Kementerian Pertanian yang mencatat kenaikan konsumsi beras, gula, dan daging sapi selama periode Ramadhan dibandingkan bulan-bulan normal.
Selain didorong konsumsi rumah tangga, prospek sektor F&B juga ditopang oleh kinerja UMKM kuliner.
Sepanjang 2025, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mencatat pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar 6,49 persen.
Pertumbuhan ini dipacu oleh tren kuliner viral serta semakin luasnya pemanfaatan layanan pesan-antar digital.
Kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pun mencapai 61,9 persen, dengan lebih dari 65 juta unit usaha aktif.
Menurut Dendy, momentum Ramadhan menjadi peluang strategis bagi UMKM untuk meningkatkan pendapatan.
Fenomena “war takjil” yang ramai di media sosial dinilainya bukan sekadar tren budaya, melainkan cerminan meningkatnya aktivitas ekonomi berbasis komunitas dan digital.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan besar di sektor F&B juga menunjukkan daya tahan bisnis yang cukup kuat.
Berdasarkan laporan kinerja semester I 2025, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 56 persen menjadi Rp5,54 triliun, dengan penjualan neto konsolidasi Rp37,60 triliun.
PT Mayora Indah Tbk (MYOR) membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 9,69 persen menjadi Rp17,79 triliun, meskipun laba bersih mengalami penurunan akibat kenaikan beban penjualan.
Sementara itu, PT Ultrajaya Milk Industry Tbk (ULTJ) mencatatkan penurunan laba bersih dan penjualan, seiring tekanan biaya dan penyesuaian pasar.
Dendy menilai, dinamika kinerja perusahaan besar tersebut menunjukkan bahwa sektor F&B tetap adaptif meskipun menghadapi tantangan biaya produksi dan fluktuasi harga bahan baku.
“Selama permintaan domestik tetap kuat dan distribusi berjalan lancar, sektor ini masih memiliki ruang pertumbuhan yang sehat,” katanya.
Dengan dukungan konsumsi masyarakat yang relatif stabil, jaminan pasokan pangan dari pemerintah, peran aktif UMKM, serta ketahanan pelaku industri skala besar, sektor makanan dan minuman diproyeksikan tetap menjadi salah satu sektor unggulan perekonomian nasional menjelang Ramadhan 2026.





