
Warga di Lingkungan Bolenglang, RT 04 RW 05, Kelurahan Kertasari, Kabupaten Ciamis, digegerkan dengan kematian mendadak puluhan ayam kampung (ayam buras) dalam sepekan terakhir.
Diduga kuat, ternak-ternak tersebut diserang wabah penyakit misterius yang gejalanya berlangsung cepat dan mematikan.
Hewan ternak yang selama ini menjadi sumber penghasilan dan konsumsi keluarga mendadak mati satu per satu, meninggalkan keresahan dan kerugian di tengah masyarakat.
Gejala awal yang umum diamati adalah ayam terlihat lesu, kehilangan nafsu makan, serta menunjukkan perilaku tidak biasa seperti diam membatu dan tidak responsif.
Keesokan paginya, ayam-ayam tersebut ditemukan telah mati tergeletak di lantai kandang atau di sekitar area peternakan.
Yang mencolok dari kasus ini adalah kondisi pial (jengger) ayam yang tampak pucat hingga menghitam.
Hal ini menjadi indikasi bahwa penyakit yang menyerang kemungkinan besar bersifat sistemik, menyerang organ vital dalam waktu singkat.
“Serangan penyakitnya sangat cepat dan mematikan. Kadang tidak sampai sehari ayam langsung mati,” ungkap Mang Eyi, salah satu warga terdampak, saat ditemui Reportasee.com pada Sabtu (13/9/2025) pagi.
Mang Eyi menjadi salah satu peternak rumahan yang mengalami kerugian cukup besar.
Sedikitnya 12 ekor ayam miliknya mati mendadak, termasuk satu indukan dan delapan anak ayam berusia sekitar dua bulan. Tak lama setelahnya, dua ayam dewasa—jantan dan betina—juga menyusul mati.
“Pagi ini malah ada lagi satu anak ayam yang cukup besar mati. Saya juga nggak tahu ini penyakit apa, belum pernah kejadian seperti ini sebelumnya,” tambahnya sambil menunjukkan bangkai ayam yang baru saja ia keluarkan dari kandang.
Beruntung, dua ekor ayam jago sempat berhasil diselamatkan dengan cara disembelih segera setelah terlihat lesu dan tidak mau makan.
“Kalau tidak cepat-cepat disembelih, pasti mati juga. Sekarang ayam di kandang saya sudah habis. Tinggal dua ekor meri (itik) saja,” ucapnya dengan nada kecewa.
Kondisi serupa juga dialami oleh Dani, tetangga Mang Eyi. Ia melaporkan dua ekor ayam miliknya mati mendadak.
Seekor ayam jago ditemukan sudah tak bernyawa pada Kamis pagi, disusul seekor ayam betina yang sedang bertelur, ditemukan mati di kandang pada Sabtu.
“Satu ayam betina lain yang kelihatan lesu dan tubuhnya sudah gemetar langsung saya sembelih. Sekarang tinggal dua ekor ayam betina yang masih hidup. Satu sedang mengeram, satu lagi saya pisahkan dan kurung sendiri, semoga bisa selamat,” ungkap Dani, berharap wabah tersebut segera mereda.
Menurut warga setempat, Mbak Parni, fenomena kematian mendadak pada ayam kampung bukanlah hal baru, terutama saat memasuki bulan-bulan basah seperti September.
“Memang setiap tahun sekitar bulan ini, banyak ayam yang mati mendadak. Sekarang musim hujan, ayam mudah kedinginan dan daya tahannya turun,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa teman dekatnya juga mengalami kejadian serupa, dengan ayam petelur yang tiba-tiba mati di dalam kandang.
Namun hingga kini, belum ada kejelasan resmi dari pihak Dinas Peternakan atau instansi terkait mengenai penyebab pasti dari kematian massal ayam-ayam tersebut.
Warga hanya bisa melakukan langkah-langkah mandiri seperti penguburan bangkai, penyembelihan dini, serta isolasi ayam yang masih hidup.
Ketiadaan informasi dan penanganan medis yang memadai membuat masyarakat semakin waspada, sekaligus cemas terhadap kemungkinan penyebaran lebih luas ke ternak lainnya.
“Kami berharap ada petugas yang datang untuk memeriksa, agar kami tahu apa sebenarnya penyakit ini dan bagaimana cara mengatasinya,” pungkas Mang Eyi.





