
SMK Industri Perunggasan Panjalu (SMK-IPP) terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan pendidikan vokasi.
Hal tersebut diwujudkan melalui kunjungan silaturahmi keluarga besar SMK-IPP ke Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah XIII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Ciamis, Kamis (29/1/2026) siang.
Rombongan SMK-IPP diterima langsung oleh Kepala KCD Wilayah XIII, Hj. Dwi Yanti Estriningrum, S.Sos., M.Pd.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan konstruktif, dengan agenda utama memperkuat komunikasi kelembagaan serta membangun keselarasan program antara satuan pendidikan kejuruan dan pemangku kebijakan pendidikan di tingkat wilayah.
Ketua Yayasan Nurul Huda Sindangmukti selaku pengelola SMK-IPP, Ir. H. Kuswara Suwarman, M.Sc., yang memimpin langsung rombongan, menyampaikan bahwa silaturahmi tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan Kepala SMK-IPP yang baru, sekaligus menyampaikan profil dan perkembangan sekolah.
“Inti dari silaturahmi ini adalah memperkenalkan kepala sekolah baru SMK Industri Perunggasan Panjalu, Ibu Adisty, serta menyampaikan gambaran umum mengenai kondisi dan program sekolah. Alhamdulillah, kami diterima langsung oleh Ibu Kepala KCD dengan sangat baik,” ujar H. Kuswara.
Rombongan SMK-IPP terdiri atas Kepala SMK-IPP Adisty Risnawati, S.Pt., M.M., yang didampingi lima orang guru serta guru pendamping.
Adisty Risnawati diketahui baru saja menjabat sebagai kepala sekolah, menggantikan Iwan Setiawan, S.Pd., M.Si.
Dalam pertemuan tersebut, pihak SMK-IPP juga memaparkan kiprah sekolah sebagai SMK berbasis kompetensi perunggasan yang berada di bawah naungan Yayasan Nurul Huda Sindangmukti.
SMK-IPP telah berdiri dan beroperasi selama 13 tahun, berlokasi di Dusun Mandala, Desa Kertamandala, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.
Sejak awal berdiri, sekolah ini berkomitmen memberikan layanan pendidikan tanpa memungut biaya SPP, dengan mayoritas peserta didik berasal dari keluarga kurang mampu.
H. Kuswara menjelaskan, hingga kini SMK-IPP telah meluluskan delapan angkatan dengan total 232 alumni yang memiliki kompetensi khusus di bidang perunggasan.
Hampir seluruh lulusan tersebut terserap di dunia kerja, terutama pada industri perunggasan yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Kalimantan.
Tingginya kebutuhan tenaga kerja di sektor perunggasan juga berdampak langsung pada siswa yang masih menempuh pendidikan.
Sebanyak 20 siswa kelas XII SMK-IPP telah terikat kontrak kerja dengan perusahaan industri perunggasan, meskipun belum menamatkan pendidikan di sekolah.
Pada aspek pengembangan sumber daya manusia, SMK-IPP secara konsisten berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan vokasi.
Sejak tahun 2019, SMK-IPP bekerja sama dengan Balai Besar Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Dikdasmen dalam menyelenggarakan pelatihan peningkatan kompetensi guru melalui program upskilling dan reskilling.
Kegiatan tersebut rutin diikuti oleh guru-guru bidang perunggasan dari berbagai SMK dan SPPMA di sejumlah provinsi.
“Tahun 2026 ini direncanakan sebanyak 50 guru bidang perunggasan dari berbagai provinsi akan mengikuti pelatihan. Ini merupakan angkatan ke-8,” jelas H. Kuswara.
Selain membahas capaian dan program sekolah, silaturahmi tersebut juga menjadi ruang dialog terkait sejumlah isu strategis pendidikan.
Salah satunya mengenai rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait Bantuan Pendidikan Menengah Universal (BPMU) bagi SMA/SMK swasta yang hingga kini masih menunggu kejelasan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis.
Dalam wacana yang berkembang, dana BPMU direncanakan dialihkan menjadi beasiswa bagi siswa dari keluarga tidak mampu.
Isu lain yang turut disampaikan adalah perlunya kejelasan kebijakan dukungan operasional bagi SMK swasta, khususnya bagi sekolah yang tidak memungut biaya pendidikan dari peserta didik.
Menurut H. Kuswara, kejelasan kebijakan tersebut sangat penting agar keberlangsungan program pembelajaran dapat terus dipertahankan.
Meski sarana praktik pembelajaran, terutama untuk kompetensi perunggasan, dinilai cukup memadai, SMK Industri Perunggasan Panjalu masih menghadapi sejumlah tantangan.
Keterbatasan ruang belajar serta sarana pembelajaran pendukung menjadi catatan yang diharapkan dapat menjadi perhatian bersama melalui sinergi yang semakin kuat antara sekolah, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.





