
Guyuran hujan deras yang membasahi wilayah Kawali tak sedikit pun melunturkan antusiasme masyarakat untuk menjadi saksi sejarah.
Ribuan warga Ciamis dari berbagai pelosok desa tumpah ruah memadati sepanjang jalur menuju situs bersejarah Astana Gede Kawali demi menyaksikan Kirab Napak Tilas Padjadjaran, Minggu (3/5/2026) malam.
Momen ini menjadi bukti betapa kuatnya ikatan emosional masyarakat Tatar Galuh terhadap warisan budaya leluhurnya.
Sejak sore hari, meskipun awan mendung mulai menyelimuti langit Kawali, warga telah menyemut di sekitar Alun-Alun Kawali hingga gerbang masuk Astana Gede.
Ketika hujan mulai turun dengan intensitas cukup tinggi tepat saat prosesi kirab dimulai, alih-alih membubarkan diri, warga justru semakin merapat ke bahu jalan.
Dengan menggunakan payung, jas hujan plastik seadanya, hingga berteduh di emperan toko, mereka tetap setia menanti iring-iringan Mahkota Binokasih yang menjadi primadona dalam acara tersebut.
Ringkasan Berita
Lautan Payung dan Getaran Semangat Budaya
Pemandangan lautan payung warna-warni menghiasi sepanjang rute Kirab Napak Tilas Padjadjaran.
Suasana semakin riuh saat rombongan kereta kencana yang membawa Mahkota Binokasih melintas, dikawal oleh pasukan berkuda dan penari tradisional yang tetap tampil totalitas meski pakaian mereka basah kuyup.
Kehadiran Bupati Ciamis Herdiat Sunarya dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang ikut berjalan di tengah rintik hujan semakin membakar semangat masyarakat yang hadir.
“Sudah di sini dari jam lima sore. Meskipun hujan, tidak apa-apa, yang penting bisa lihat langsung Mahkota Binokasih. Ini momen langka, belum tentu setahun sekali ada di Kawali,” ujar Siti (42), salah satu warga Ciamis asal Cipaku yang datang bersama anak dan suaminya.
Antusiasme senada juga ditunjukkan oleh generasi muda. Banyak remaja yang tampak sibuk mengabadikan momen tersebut menggunakan ponsel mereka, mengabaikan percikan air hujan demi mendapatkan sudut pandang terbaik.
Hal ini menunjukkan bahwa Kirab Napak Tilas Padjadjaran berhasil menjembatani nilai tradisi dengan minat generasi milenial dan Gen Z di Kabupaten Ciamis.
Momen Haru di Astana Gede Kawali
Puncak emosional terjadi saat rombongan kirab memasuki kawasan Astana Gede.
Di bawah temaram lampu kota dan rintik hujan yang belum reda, prosesi peletakan Mahkota Binokasih di panggung utama berlangsung sangat khidmat.
Kesunyian sesaat pecah ketika doa-doa dipanjatkan, menambah suasana magis di situs yang pernah menjadi pusat kerajaan Galuh tersebut.
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, mengaku sangat terharu melihat keteguhan hati warganya.
Bagi Herdiat, pemandangan ribuan orang yang rela berbasah-basahan demi sebuah acara budaya adalah sinyal positif bahwa jati diri bangsa, khususnya jati diri Sunda, masih tertanam sangat kuat di hati masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi semangat masyarakat. Hujan ini justru menjadi berkah dan saksi betapa kita semua mencintai budaya kita. Ini adalah bentuk dukungan nyata masyarakat terhadap upaya pemerintah dalam melestarikan nilai-nilai luhur di Astana Gede Kawali,” tutur Herdiat saat menyapa warga di lokasi acara.
Lebih dari Sekadar Tontonan
Bagi sebagian besar masyarakat, Kirab Napak Tilas Padjadjaran bukan hanya sekadar tontonan hiburan di akhir pekan.
Ada rasa bangga yang terpancar saat melihat simbol-simbol kejayaan masa lalu kembali diperlihatkan di tanah kelahiran mereka.
Kawali, yang secara historis memiliki kedudukan tinggi dalam peradaban Sunda, seolah kembali “hidup” dengan energi dari ribuan pasang mata yang hadir malam itu.
Selain dampak emosional, kerumunan massa yang luar biasa ini juga membawa berkah bagi para pedagang kaki lima di sekitar lokasi.
Di tengah udara malam yang dingin karena hujan, dagangan seperti bakso, jagung rebus, dan minuman hangat laku keras.
Sisi kemanusiaan ini melengkapi kemeriahan acara, di mana budaya tidak hanya memberi nutrisi pada jiwa, tapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil di Kabupaten Ciamis.
Kegiatan yang berakhir menjelang tengah malam ini meninggalkan kesan mendalam.
Meski pulang dengan pakaian yang lembap, raut wajah puas terlihat dari para warga yang berangsur meninggalkan lokasi.
Kirab Napak Tilas Padjadjaran tahun 2026 ini bukan sekadar keberhasilan seremonial pemerintah, melainkan sebuah perayaan cinta rakyat terhadap akarnya, yang bahkan hujan deras pun tak sanggup memadamkannya.





