Berita

Simbol Kejayaan Tatar Sunda, Mahkota Binokasih Kembali ‘Singgah’ di Astana Gede Kawali

Momentum emosional menyelimuti Bumi Galuh saat simbol kekuasaan tertinggi tanah Pasundan kembali ke asalnya.

Mahkota Binokasih, yang merupakan lambang supremasi dan kejayaan Tatar Sunda, secara resmi kembali ‘singgah’ di kawasan situs bersejarah Astana Gede Kawali, Kabupaten Ciamis, pada Minggu (3/5/2026) malam.

Kehadiran mahkota emas ini merupakan bagian dari rangkaian utama Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran dalam rangka memperingati Milangkala Tatar Sunda yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Prosesi kirab yang membawa Mahkota Binokasih dimulai dari Alun-Alun Kawali menuju jantung situs Astana Gede.

Meski hujan mengguyur sejak sore hari, ribuan warga tampak tumpah ruah memadati sepanjang rute jalan protokol untuk menyaksikan iring-iringan kereta kencana yang membawa mahkota tersebut.

Kehadiran benda pusaka ini didampingi langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, menciptakan suasana khidmat yang memadukan penghormatan sejarah dengan antusiasme masyarakat modern.

Menelusuri Jejak Sejarah Mahkota Binokasih

Secara historis, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake bukan sekadar perhiasan emas biasa.

Mahkota ini merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran yang diserahkan oleh Prabu Nilakendra kepada Prabu Geusan Ulun dari Sumedang Larang saat Pajajaran runtuh pada abad ke-16.

Kembalinya mahkota ini ke Kawali melalui Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran memiliki makna simbolis yang sangat dalam, mengingat Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Galuh sebelum pindah ke Pakuan Pajajaran.

Baca Juga :  5 Tips Jitu Mengembangkan Wawasan Kebangsaan di Komunitas Anda

Bagi masyarakat Ciamis, kehadiran Mahkota Binokasih di Astana Gede adalah bentuk menjemput kembali ingatan kolektif tentang kejayaan masa lalu.

Situs Astana Gede sendiri dikenal sebagai tempat bersemayamnya para raja Galuh, termasuk Prabu Niskala Wastu Kancana.

Dengan diletakkannya mahkota ini di meja prosesi panggung utama, nilai-nilai luhur kepemimpinan Sunda seolah dipanggil kembali untuk menjadi kompas kehidupan di masa kini.

“Ini bukan sekadar pawai budaya, tetapi sebuah upaya merekatkan kembali ikatan batin kita sebagai urang Sunda dengan jati dirinya. Mahkota Binokasih adalah simbol amanah dan tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya,” ujar Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat memberikan sambutan di tengah rintik hujan.

Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran: Manifestasi Pelestarian

Pelaksanaan Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran kali ini dikemas dengan menonjolkan aspek estetika dan sakralitas.

Rangkaian kirab melibatkan pasukan pengawal berkuda, tarian tradisional, hingga alunan musik bambu yang mengiringi langkah kereta kencana.

Ribuan pasang mata yang bertahan hingga akhir acara menjadi bukti bahwa narasi sejarah dan simbolisme budaya masih memiliki daya tarik yang kuat bagi lintas generasi.

Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, yang tampak aktif mengikuti seluruh prosesi dari awal hingga akhir, menegaskan bahwa Pemkab Ciamis sangat mengapresiasi dijadikannya Kawali sebagai titik utama kegiatan ini.

Menurutnya, pemulihan ingatan sejarah melalui simbol Mahkota Binokasih sangat penting untuk memperkuat identitas daerah.

Ciamis, dengan kekayaan situs sejarahnya, terus berkomitmen menjadi garda terdepan dalam merawat warisan peradaban Sunda.

Baca Juga :  Menjelajahi Museum Geologi Bandung, Destinasi Wisata Edukasi Keluarga

“Masyarakat Kawali dan Ciamis pada umumnya merasa sangat bangga. Melihat Mahkota Binokasih secara langsung di tanah kelahirannya, Astana Gede, memberikan getaran semangat tersendiri bagi kami untuk terus menjaga warisan karuhun,” ungkap Herdiat di sela-sela acara.

Relevansi Simbolisme di Era Modern

Dalam konteks kekinian, Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran bukan sekadar romantisme masa lalu.

Simbolisme Mahkota Binokasih yang diletakkan di panggung utama agar bisa dilihat oleh tamu undangan dan ratusan warga yang hadir merupakan pesan transparansi dan keterbukaan pemimpin.

Mahkota tersebut diletakkan di atas meja yang telah disiapkan secara khusus sebagai simbol kembalinya nilai-nilai kebajikan yang harus dijunjung tinggi oleh semua pihak.

Acara ini juga menjadi wujud kolaborasi harmonis antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Selain menonjolkan sisi budaya, kegiatan ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi lokal, di mana para pedagang kecil dan UMKM di sekitar kawasan Astana Gede turut merasakan manfaat dari banyaknya massa yang hadir.

Seiring berakhirnya prosesi pada Minggu malam tersebut, semangat yang dibawa oleh Mahkota Binokasih diharapkan tetap membekas dalam sanubari warga Tatar Galuh.

Perjalanan Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran tahun 2026 ini sukses menempatkan kembali Astana Gede Kawali sebagai episentrum kebudayaan yang tak lekang oleh zaman.

Dengan perawatan situs yang terus diupayakan pemerintah, sejarah kebesaran Sunda dipastikan akan terus hidup dan menginspirasi pembangunan daerah di masa depan.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca