Kemenperin Minta Industri Otomotif Gencar Ekspor

0
169
Kemenperin Minta Industri Otomotif Gencar Ekspor

BISNIS,- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memacu industri otomotif Indonesia gencar dalam melakukan ekspor. Upaya itu ditujukan untuk memperbaiki neraca perdagangan nasional. Langkah tersebut sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Salah satu sektor yang sedang diprioritaskan pengembangannya, yakni industri otomotif. Targetnya, Indonesia menjadi basis produksi kendaraan bermotor, baik internal combustion engine (ICE) ataupun electrified vehicle (EV), pasar domestik ataupun ekspor,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, di Jakarta, Selasa (12/02/2019).

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) pada tahun 2018 tumbuh 14,44 persen menjadi 264.553 unit dibandingkan tahun lalu. Capaian tersebut tergolong yang tertinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Ekspor Mobil CBU Naik

Jumlah angka ekspor mobil CBU ditaksir bakal terus mengalami peningkatan seiring penerapan kebijakan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Nomor 01 tahun 2019, tentang Tata Laksana Ekspor Kendaraan Bermotor dalam Bentuk Jadi (CBU) yang berlaku sejak 1 Februari 2019.

Pada regulasi yang baru tersebut, Pemberitahuan Eskpor Barang (PEB) bisa diajukan setelah barang ekspor masuk ke Kawasan Pabean. Kemudian, pemasukan ke Kawasan Pabean tidak memerlukan Nota Pelayanan Ekspor (NPE). Selain itu, pembetulan jumlah dan jenis barang paling lambat tiga hari sejak tanggal keberangkatan sarana pengangkut.

Penyederhanaan regulasi tersebut dinilai membawa manfaat. Diantaranya akurasi data lebih terjamin lantara proses bisnis dilakukan secara otomasi melalui integrasi data antara perusahaan, Tempat Penimbunan Sementara (TPS), serta Ditjen Bea dan Cukai.

Manfaat lainnya, menurunkan average stock level sebesar 36 persen. Dengan demikian, ada peningkatan efisiensi penumpukan di Gudang Eksportir. Juga, memaksimalkan jangka waktu penumpukan di Gudang TPS selama tujuh hari. soalnya, proses grouping dan finalquality control sebelum pengajuan PEB bisa dilaksanakan di TPS.

Tekan Biaya Trucking

Keuntungan lainnya, menekan biaya trucking. Kebutuhan truk untuk transportasi menurun hingga 19 persen pertahun. Logistics partner tidak perlu investasi truk dalam jumlah banyak. selanjutnya, juga menurunkan biaya logistik storage dan handling. Biayanya menjadi Rp.600 ribu perunit. Dan biaya trucking pun menjadi Rp. 150ribu perunit.

“Kami menyambut baik aturan ini. Karena ekspor otomotif diberikan kemudahan. Ini berarti sekali bagi industri Indonesia yang sedang bersaing dengan negara lain. Hal ini juga membuktikan bahwa ekspor Indonesia tidak hanya komoditas,” kata Airlangga.

Menurutnya, industri otomotif merupakan sektor quick yielding atau cepat menghasilkan untuk devisa melalui peningkatan ekspor. Sebab, struktur manufakturnya sudah dalam, mulai dari industri baja, kimia, kaca, hingga ban. Bahkan, kepercayaan dunia internasional terhadap produk otomotif nasional sudah tinggi.

“Daya saing industri otomotif kita juga didukung dengan jumlah tenaga kerja dan sektor jasa terkaitnya yang cukup banyak. Tahun kemarin, ekspor mobil CBU sudah lebih dari 264 ribu unit, dan yang bentuk CKD sekitar 82 ribu unit, sehingga total melampaui 346 ribu unit dengan nilai USD4 miliar dan tambahan dari ekspor komponen otomotif senilai USD2,6 miliar,” ungkap Airlangga.

Indonesia dinilai akan menjadi hub bagi manufaktur industri otomotif, yang kini sedang bersaing dengan India.

“Kita punya Detroitnya Indonesia di Bekasi, Karawang dan Purwakarta, di mana strukturnya sudah dalam mulai tier 1, 2, sampai 3. Selain itu, investasi industri otomotif juga akan terus bertambah,” imbuhnya.

Perlu Insentif

Airlangga menambahkan, pihaknya terus berupaya meningkatkan investasi dan memperluas pasar ekspor untuk industri otomotif nasional. Oleh karena itu, diperlukan fasilitas insentif fiskal guna memacu produksi kendaran yang sesuai selera konsumen global.

“Misalnya, kami mendorong peningkatan ekspor sedan,” tuturnya.

Menperin menyambut baik adanya rencana penerbitan beberapa regulasi untuk mendukung pengembangan sektor industri, seperti yang terkait dengan mobil listrik, vokasi, dan litbang.

“Ini yang sedang kami tunggu, karena sudah ada beberapa investor yang akan masuk,” ujarnya.

Investor itu misalnya di sektor industri otomotif, yang akan menanamkan modal senilai USD800 juta.

“Mereka sudah komitmen untuk membangun industri electric vehicle di Indonesia dengan target produksi di tahun 2022. Dan, ini dapat mendukung target kita di tahun 2025 nanti bahwa 20 persen adalah electric vehicle,” paparnya.

Kemenperin juga sedang menunggu percepatan perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan Australia.

“Kalau CEPA dengan Australia itu terbuka, makaada 1 juta pasar yang terbuka. Kami sudah bicara dengan principal, ekspornya akan dari Indonesia,” lanjutnya.

Menperin meyakini, apabila upaya-upaya tersebut terealisasi, akan mendongkrak produksi mobil di Indonesia mencapai 2 juta unit per tahun.

“Jadi, dalam waktu 2-3 tahun bisa dipercepat ekspornya. Dan, tentunya kita mengharapkan, industri-industri semacam ini terus kita dorong,” ungkapnya.

Namun demikian, tidak hanya industri otomotif yang dipacu, tetapi juga sektor-sektor lain yang menjadi prioritas dalam program yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Making Indonesia 4.0.

“Ada industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, kimia, serta elektronika,” katanya.

Manufaktur tersebut telah memiliki daya saing tinggi dan terus didorong ekspornya agar bisa berperan menjadi substitusi impor.

Menperin memastikan, kemampuan industri otomotif nasional saat ini telah kompetitif dan struktur manufaktur semakin dalam dengan didukung banyaknya industri komponen di dalam negeri.

“Maka itu, beberapa kendaraan yang diproduksi, tingkat kandungan lokalnya sangat tinggi mencapai 75-94 persen,” ujarnya.

Kemenperin Aktif Dorong Investasi Baru

Airlangga menegaskan, Kemenperin aktif mendorong terciptanya penambahan investasi baru maupun perluasan usaha, serta mengajak pelaku industri otomotif untuk mengadopsi teknologi terkini. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Kami terus mendorong agar manufaktur-manufaktur otomotif di dalam negeri dapat merealisasikan pengembangan kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang telah kami programkan melalui sebuah roadmap yang jelas,” tegasnya.

Di dalam peta jalan tersebut, juga terdapat tahapan dan target dalam upaya pengembangan kendaraan berbasis energi listrik di Indonesia.

“Jadi, pada tahun 2025, sekitar 20 persen dari kendaraan yang diproduksi di Indonesia adalah produk LCEV,” pungkasnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here