Berita

Produksi Turun, Petani Cabai Hanya Bisa Andalkan Kenaikan Harga untuk Tutupi Biaya

Banyak petani di wilayah Kecamatan Tambaksari kehilangan sebagian produksi mereka dan hanya bisa berharap pada kenaikan harga cabai untuk menutup biaya produksi yang terus membengkak.

Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Ciamis dalam beberapa pekan terakhir membawa dampak beruntun bagi dunia pertanian.

Hujan intensitas tinggi yang turun hampir setiap hari tidak hanya menyebabkan longsor, banjir, dan pergerakan tanah di sejumlah titik, tetapi juga mengganggu aktivitas para petani, khususnya yang membudidayakan cabai.

Tingginya curah hujan membuat kelembaban meningkat drastis, menciptakan kondisi ideal bagi berkembangnya berbagai penyakit tanaman.

Akibatnya, banyak petani di wilayah Kecamatan Tambaksari kehilangan sebagian produksi mereka dan hanya bisa berharap pada kenaikan harga cabai untuk menutup biaya produksi yang terus membengkak.

Salah satu petani yang merasakan langsung dampak cuaca ekstrem adalah Adia Cahya Purnama (36), warga Dusun Linggaharja, Desa Mekarsari, Tambaksari.

Serangan penyakit seperti patek, busuk batang, dan pembusukan buah—yang dipicu kelembaban tinggi—menyebabkan hasil panen turun signifikan.

“Sejak sering hujan, penyakit makin banyak. Ada patek dan busuk batang. Buah banyak yang rusak, bahkan batang tanaman ada yang membusuk,” ujar Adia, Senin (17/11/2025).

Ia menyebutkan, penurunan produksi mencapai 15 hingga 20 persen. Kondisi ini membuat petani terpaksa meningkatkan intensitas penyemprotan fungisida agar tanaman tetap dapat dipertahankan.

Kini, penyemprotan dilakukan setiap dua hari sekali, yang berarti menambah biaya produksi.“Kalau tidak disemprot rutin, tanaman bisa habis. Ini mau tidak mau harus dilakukan,” tambahnya.

Baca Juga :  Pantai Pangandaran, Surga Wisata di Jawa Barat

Selain bekerja sebagai guru di SMKN 1 Tambaksari, Adia mengelola kebun cabai keluarga seluas 150 bata atau sekitar 2.100 meter persegi.

Lahan yang sebelumnya terlantar itu ia manfaatkan sejak 2024 untuk budidaya cabai rawit jenis Ori 212 atau cengek domba. Musim ini merupakan musim tanam ketiganya.

Dengan modal awal Rp20 juta dan 2.000 pohon cabai, biaya pokok produksi (break even point/BEP) rata-rata mencapai Rp10.000 per pohon.

Pada kondisi normal, setiap pohon mampu menghasilkan satu kilogram cabai dalam satu musim tanam, sehingga biasanya total panen Adia dapat mencapai satu ton lebih.

Namun penurunan produksi akibat penyakit membuat margin keuntungan menjadi jauh lebih tipis. Di saat seperti ini, petani hanya bisa berharap pada harga jual cabai yang meningkat menjelang akhir tahun.

Adia memasarkan hasil panennya setiap lima hari sekali ke Pasar Banjar, membawa satu karung cabai dengan berat sekitar satu kuintal.

Ia juga kerap membantu menjual hasil panen petani muda lainnya di Tambaksari, sehingga total pengiriman bisa mencapai lima kuintal sekali jalan.

Harga cabai di tingkat petani Tambaksari sangat fluktuatif sepanjang tahun.

Baca Juga :  Mudik Lebaran, Bupati Ciamis Instruksikan Siaga Cuaca Ekstrem dalam Pengamanan Idul Fitri 2026

Setelah mencapai puncak harga pada Desember 2024—hingga Rp50.000 per kilogram bahkan tembus Rp80.000 di beberapa petani—harga anjlok drastis pada 2025.

Pada Agustus 2025, harga hanya Rp15.000 per kilogram, sedikit di atas biaya produksi.

September naik menjadi Rp17.000 per kilogram, dan Oktober kembali meningkat ke kisaran Rp18.000–Rp20.000 per kilogram.

Pertengahan November 2025, harga menunjukkan tren positif. Selama tiga hari terakhir, harga cengek domba di Tambaksari menembus Rp25.000 per kilogram.

“Sekarang harga lagi bagus. Biasanya menjelang akhir tahun selalu naik. Kalau harga naik, petani bisa sedikit lega untuk menutup biaya yang sudah keluar,” ujar Adia.

Dengan produksi yang turun dan biaya pemeliharaan meningkat akibat intensitas penyemprotan, kenaikan harga menjadi satu-satunya harapan petani untuk tetap bertahan.

Tanpa kenaikan harga yang signifikan, pendapatan petani rawan tidak mampu menutup modal, apalagi menghasilkan keuntungan.

Meski demikian, para petani di Tambaksari tetap berupaya menjaga kualitas dan kontinuitas panen di tengah tekanan cuaca yang tidak menentu.

Bagi banyak petani seperti Adia, bertahan berarti memastikan tanaman tetap hidup, meski harus bekerja ekstra dan menanggung biaya lebih besar.

“Yang penting tanaman tetap berbuah. Soal harga, kami hanya bisa mengikuti pasar,” ucapnya.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca