Berita

Penutupan Sementara Curug Panganten, Upaya Evaluasi Keamanan Wisata Alam Ciamis

Wisata Curug Panganten yang terletak di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kini harus ditutup sementara menyusul peristiwa tragis yang merenggut nyawa seorang wisatawan.

Kejadian ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis yang langsung memberikan penjelasan resmi mengenai langkah-langkah yang diambil.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Budi Kurnia, menegaskan bahwa wisata berbasis alam memang mengandung risiko yang tidak bisa diprediksi.

Ia mengungkapkan bahwa karakteristik alam seperti aliran air, struktur tebing, dan kondisi gunung bisa berubah sewaktu-waktu tanpa tanda-tanda pasti.

Risiko ini membuat pengelolaan wisata alam membutuhkan perhatian ekstra, baik dari pengelola maupun dari para pengunjung.

Dinas Pariwisata, kata Budi, sebenarnya sudah mengambil sejumlah langkah preventif untuk menjaga keselamatan pengunjung.

Kegiatan seperti kunjungan rutin, pelatihan penyelamatan, dan pembinaan kepada pengelola telah dijalankan.

Curug Panganten sendiri, sebagai bagian dari wisata tirta, telah dilengkapi dengan tenaga life guard bersertifikasi yang memiliki keahlian dasar dalam penyelamatan di air.

Baca Juga :  Bima Arya Dorong Pengisian Wabup Ciamis Setelah Lebaran

Namun, Budi juga menekankan bahwa pengelolaan teknis Curug Panganten berada di tangan pemerintah desa setempat.

Dinas Pariwisata bertindak sebagai pendamping, pembina, dan pengawas saja, bukan pengelola langsung.

Menjelang masa liburan Lebaran, pihak dinas juga telah mengeluarkan imbauan terkait peningkatan debit air di Curug Panganten.

Air yang meluap kerap membentuk pusaran kuat yang sangat berbahaya bagi pengunjung yang kurang waspada.

Untuk itu, pengunjung diimbau untuk selalu melapor kepada pengelola sebelum memasuki area wisata agar mendapatkan pendampingan, informasi tentang risiko, serta perlengkapan keselamatan seperti pelampung.

Budi menyesalkan bahwa tidak semua wisatawan mengikuti prosedur tersebut.

Tanpa konfirmasi kepada pengelola, pengawasan menjadi sulit dilakukan dan pengunjung tidak mendapatkan briefing standar operasional prosedur (SOP) yang bisa menyelamatkan nyawa mereka.

Kematian wisatawan di Curug Panganten ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi.

Insiden serupa sudah pernah tercatat sebelumnya, menunjukkan pentingnya koordinasi dan pengawasan lebih ketat di lokasi wisata alam.

Baca Juga :  Tindak Lanjut SE Gubernur Jabar, Posbankum Dibentuk di Seluruh Desa/Kelurahan Ciamis

Budi mengungkapkan bahwa meskipun sudah ada papan larangan dan peringatan, sebagian pengunjung sering kali mengabaikan tanda-tanda tersebut.

Karena itu, kehadiran petugas yang berjaga secara langsung di lokasi dinilai mutlak diperlukan.

Penutupan sementara Curug Panganten ini merupakan bagian dari proses evaluasi besar-besaran untuk meningkatkan keamanan wisata alam di Ciamis.

Dinas Pariwisata bersama pemerintah desa akan meninjau ulang SOP, memperketat sistem pengawasan, dan menyusun strategi baru agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Harapannya, pengunjung bisa lebih memahami bahwa wisata alam membawa risiko yang nyata, sehingga kesadaran dan kepatuhan terhadap protokol keselamatan harus menjadi prioritas utama.

Budi berharap ke depan, setiap pihak—baik pengelola, pemerintah, maupun masyarakat—dapat lebih bersinergi dalam menjaga keselamatan di setiap destinasi wisata alam.

Hanya dengan pendekatan yang serius terhadap faktor keselamatan, wisata alam seperti Curug Panganten bisa tetap dinikmati dengan aman oleh semua kalangan.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca