
Ratusan pelajar dan mahasiswa berkumpul di jantung kota untuk menunjukkan komitmen kolektif dalam upaya pelestarian budaya lokal Ciamis melalui pementasan Tari Jaipong Galuh Rahayu yang spektakuler.
Kegiatan yang berlangsung meriah di Alun-Alun Ciamis ini bukan sekadar seremonial, melainkan simbol kebangkitan seni tradisional di tengah arus modernisasi.
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, bahkan tidak ragu untuk turun langsung ke lapangan dan ikut menari bersama para peserta, menunjukkan bahwa dukungan pemerintah terhadap budaya bersifat total dan inklusif.
Pementasan tari kolosal ini menjadi magnet visual yang luar biasa bagi warga sekitar.
Sebanyak 517 penari yang terdiri dari siswa SMP, SMA, hingga mahasiswa Universitas Galuh (Unigal) bergerak serempak mengikuti irama kendang yang enerjik.
Kehadiran Bupati Herdiat Sunarya di tengah-tengah ratusan penari memberikan sinyal kuat bahwa pelestarian budaya lokal Ciamis adalah tanggung jawab bersama, mulai dari pucuk pimpinan daerah hingga lapisan masyarakat paling bawah.
Ringkasan Berita
Sinergi Generasi Muda dan Peran Universitas Galuh
Momentum ini secara cerdas dipadukan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang memberikan dimensi makna lebih dalam bagi strategi pelestarian budaya lokal Ciamis.
Penyelenggaraan acara yang dipelopori oleh Universitas Galuh (Unigal) ini menggarisbawahi bahwa institusi pendidikan memiliki peran sentral dalam mengedukasi serta menanamkan rasa cinta terhadap akar budaya bangsa sejak dini.
Rektor Universitas Galuh, Prof. Dr. Dadi, M.Si, menjelaskan bahwa pemilihan Tari Jaipong Galuh Rahayu didasarkan pada nilai historis dan filosofis yang sangat kuat.
Menurut Prof. Dadi, seni tari adalah media komunikasi non-verbal yang paling efektif untuk menyatukan perbedaan latar belakang sosial sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Galuh.
Dengan melibatkan lebih dari lima ratus peserta, pesan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur dapat tersampaikan secara luas dan organik kepada masyarakat lintas generasi.
Rektor Unigal tersebut menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa adalah kunci agar budaya Sunda tidak hanya menjadi memori, tetapi tetap menjadi gaya hidup yang dinamis.
Selain aspek estetika yang memukau, kegiatan ini juga merupakan bagian integral dari Festival Konservasi dan Budaya yang digagas oleh Unigal.
Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal Ciamis saat ini berkaitan erat dengan upaya menjaga keseimbangan alam dan lingkungan sosial.
Harmoni antara gerak tari yang dinamis dan semangat konservasi alam diharapkan mampu menciptakan ekosistem budaya yang berkelanjutan di masa depan.
Apresiasi dan Pesan Budaya dari Bupati Herdiat Sunarya
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, dalam sambutannya menyatakan rasa bangga dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Universitas Galuh dan seluruh peserta yang terlibat.
Bagi Herdiat, melihat ratusan anak muda begitu antusias mengenakan pakaian tradisional dan menari Jaipong adalah sebuah pemandangan yang memberikan harapan besar bagi masa depan daerah.
Beliau menekankan bahwa pemerintah daerah akan selalu berdiri di depan dalam mendukung kreativitas yang berbasis kearifan lokal.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki ciri khas dan menghargai budayanya sendiri,” tegas Bupati Herdiat Sunarya di sela-sela acara.
Beliau juga menambahkan bahwa tantangan utama di era globalisasi bukanlah untuk menutup diri dari pengaruh luar, melainkan memperkuat fondasi internal agar identitas kita tidak tergerus.
Partisipasi langsung Bupati dalam menari Jaipong bersama warga menjadi bukti nyata bahwa pemimpin daerah harus menjadi teladan dalam pelestarian budaya lokal Ciamis.
Dukungan strategis dari Bupati Herdiat ini juga mencakup komitmen untuk terus memfasilitasi komunitas seni agar mendapatkan panggung yang layak di ruang publik.
Beliau berharap agar Alun-Alun Ciamis bisa terus menjadi saksi bisu kreativitas anak muda dalam melestarikan tradisi.
Dengan demikian, sektor pariwisata berbasis budaya di Ciamis akan semakin kuat dan mampu menarik minat wisatawan mancanegara yang mencari autentisitas seni Sunda.
Relevansi Budaya di Tengah Disrupsi Teknologi Digital
Namun, keberhasilan pementasan kolosal ini hanyalah satu langkah awal. Di tengah gempuran konten digital global, pelestarian budaya lokal Ciamis membutuhkan inovasi berkelanjutan agar tetap relevan bagi Generasi Z dan Generasi Alpha.
Seni tradisional tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang kaku, melainkan sebagai identitas yang keren dan bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi.
Pemanfaatan media sosial sebagai sarana dokumentasi tari tradisional adalah jalur yang harus ditempuh secara konsisten oleh para pemuda.
Para mahasiswa Unigal dan pelajar yang terlibat dalam tari kolosal ini diharapkan mampu menjadi brand ambassador bagi kebudayaan mereka sendiri di ruang digital.
Dengan membagikan momen kebanggaan mereka saat menari Jaipong, mereka secara tidak langsung melakukan kampanye digital untuk melestarikan identitas Tatar Galuh ke seluruh dunia.
Semangat “Galuh Rahayu” harus menjadi pemantik bagi setiap pemuda di Ciamis untuk terus berkarya tanpa harus menanggalkan asal-usulnya.
Harapan Masa Depan dan Keberlanjutan Tradisi Tatar Galuh
Menutup rangkaian acara yang penuh semangat tersebut, Bupati Herdiat Sunarya kembali mengingatkan bahwa pelestarian tidak boleh berhenti pada satu hari peringatan saja. H
al ini harus menjadi agenda rutin yang terintegrasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Hanya dengan cara inilah, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni Jaipong bisa terinternalisasi dalam karakter masyarakat Ciamis yang dikenal santun dan berbudaya tinggi.
Pemerintah, akademisi seperti pihak Universitas Galuh, dan praktisi seni perlu terus bersinergi dalam merancang peta jalan kebudayaan yang lebih komprehensif.
Dengan dukungan penuh dari pimpinan seperti Bupati Herdiat, pelestarian budaya lokal Ciamis akan bertransformasi menjadi sebuah gerakan kebanggaan nasional.
Ketika suara kendang masih bertalu dan ribuan kaki masih menari dengan kompak di Alun-Alun, di sanalah kita tahu bahwa marwah Galuh akan terus hidup dan abadi melintasi zaman.





