
Pemerintah Kabupaten Ciamis terus mendorong kelompok Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) untuk tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
Dalam pelatihan yang digelar DP2KBP3A Ciamis, Rabu (8/10/2025), di Aula RM Linggarsari, peserta dibekali dengan materi strategis yang relevan dengan era digital, termasuk pemanfaatan platform online untuk pemasaran produk.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan PEKKA yang telah berjalan sejak tahun 2011. Kini, program tersebut telah membina 42 kelompok PEKKA yang tersebar di berbagai kecamatan.
Kehadiran teknologi menjadi peluang baru yang perlu dioptimalkan, terutama dalam memperluas jangkauan usaha mikro yang dijalankan para perempuan kepala keluarga.
Pemanfaatan Platform Digital sebagai Strategi Pemasaran
Dalam pelatihan tersebut, salah satu fokus utama adalah pemahaman terhadap penggunaan teknologi digital sebagai sarana ekspansi usaha.
Peserta diperkenalkan dengan cara memanfaatkan e-katalog dan berbagai platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Langkah ini menjadi upaya konkret untuk mengatasi keterbatasan akses pasar yang selama ini dialami oleh pelaku usaha kecil, khususnya di kalangan PEKKA.
Menurut Sekretaris DP2KBP3A Ciamis, Helmi Lestari, pelatihan ini dirancang agar para perempuan kepala keluarga mampu mengikuti perubahan zaman.
“Kami ingin para PEKKA tidak hanya berdaya dalam ekonomi konvensional, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usahanya,” jelasnya.
Membangun Kemandirian Digital dan Literasi Hukum Bisnis
Tak hanya soal pemasaran digital, peserta juga dibekali materi seputar adaptasi teknologi dan pemahaman hukum bisnis, yang menjadi dasar penting dalam pengelolaan usaha secara profesional.
Dalam konteks pemberdayaan, literasi digital menjadi salah satu indikator kemandirian ekonomi yang krusial di tengah era digitalisasi.
Elis Lismayani, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak DP2KBP3A Ciamis, menekankan bahwa pelatihan ini merupakan implementasi dari kebijakan nasional yang mendorong keterlibatan perempuan dalam pembangunan.
“Kami ingin perempuan tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga menjadi aktor aktif dalam transformasi sosial dan ekonomi, termasuk dalam ekosistem digital,” ujarnya.
Kolaborasi dan Pendampingan Berkelanjutan
Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 120 peserta dari berbagai kelompok ini juga melibatkan pendamping dari unsur PKB, TKB, dan PLKB.
Kehadiran para pendamping ini berperan penting dalam memfasilitasi transfer pengetahuan serta mendampingi proses digitalisasi yang dilakukan oleh para peserta.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap PEKKA dapat secara bertahap mengelola usaha berbasis teknologi, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan kualitas produk dan layanan mereka.
Selain sebagai pelaku ekonomi, perempuan kepala keluarga juga diharapkan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan sosial dan keluarganya.
Transformasi Digital: Tantangan Sekaligus Peluang
Transformasi digital memang bukan hal yang mudah, terlebih bagi sebagian peserta yang belum terbiasa dengan teknologi. Namun, justru di situlah letak tantangan sekaligus peluang.
Dengan pelatihan yang tepat dan pendampingan berkelanjutan, para PEKKA di Ciamis diyakini mampu menjawab tantangan tersebut dan menjadikan digitalisasi sebagai kekuatan baru dalam pengembangan usaha mereka.
Melalui inisiatif ini, DP2KBP3A Ciamis tidak hanya mendorong perempuan menjadi mandiri, tetapi juga siap menghadapi masa depan yang semakin bergantung pada teknologi.
Perempuan kepala keluarga bukan lagi sekadar penyintas ekonomi, tetapi mitra strategis dalam pembangunan berbasis digital.





