
Sebuah capaian membanggakan datang dari Dusun Batu Kurung, Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis.
Padi organik yang dihasilkan oleh Kelompok Tani Organik Tirta Mukti 1 Kawasen berhasil menembus pasar internasional.
Baru-baru ini, kelompok tani tersebut mengirimkan masing-masing 1 kuintal beras organik ke Jepang dan Taiwan, menandai langkah awal ekspor produk pertanian organik asal Ciamis ke pasar global.
Beras yang diekspor tersebut menggunakan merek “Alam Kawasen”, berasal dari benih padi organik NTP 90 Cibatukurung, hasil pemuliaan dan pengembangan yang dilakukan secara mandiri oleh para anggota Kelompok Tani Tirta Mukti 1 Kawasen.
Benih unggul ini bersumber dari varietas lokal Desa Kawasen, yang telah lama dikenal memiliki kualitas padi yang tangguh dan adaptif terhadap sistem pertanian organik.
Ketua Kelompok Tani Organik Tirta Mukti 1 Kawasen, Totong Kawasen, menyampaikan bahwa pengiriman ke dua negara Asia tersebut merupakan rintisan ekspor jangka panjang.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan ekspor padi organik secara berkelanjutan pada tahun 2027 mendatang.
“Pengiriman ke Jepang dan Taiwan ini masih tahap awal. Namun, sudah ada pembicaraan untuk kerja sama lanjutan dengan volume pembelian yang lebih besar,” tutur Totong kepada reportasee.com.
“Kami menggunakan benih varietas lokal, pupuk organik produksi sendiri dengan merek Alam Kawasen, sehingga kualitas dan keaslian organiknya benar-benar terjaga,” tambahnya.
Totong, pria kelahiran Kawasen tahun 1983, bukanlah sosok baru di dunia pertanian organik.
Sejak tahun 2001, ia dikenal sebagai salah satu pelopor pertanian organik di Kabupaten Ciamis.
Rekam jejaknya tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga telah diakui hingga Provinsi Jawa Barat bahkan nasional.
Melalui pendampingan yang ia lakukan, sejumlah kelompok tani di berbagai wilayah Ciamis turut berkembang.
Di antaranya adalah Kelompok Tani Organik Mekar 4 Cijulang Cihaur, Nanjung Mulya Pasir Cihaur, dan Tanjungsari Banjar Anyar.
Ketiga kelompok tersebut berhasil meraih sertifikat organik dari Inofice (Indonesian Organic Farming Certification) sejak tahun 2019, berkat bimbingan dan arahan Totong.
Selain menembus pasar internasional, produk beras organik Alam Kawasen juga telah lama beredar di berbagai daerah di Indonesia.
“Pasar lokal seperti Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, Bali, bahkan hingga IKN Nusantara, sudah kami rintis sejak lama,” jelas Totong.
“Bahkan, dalam waktu dekat ada permintaan dari pasar Jakarta sebanyak 650 ton padi organik,” ungkapnya penuh optimisme.
Saat ini, Kelompok Tani Tirta Mukti 1 mengelola 100 hektare lahan padi organik, dengan produktivitas mencapai 7–8 ton per hektare.
Angka ini menunjukkan bahwa sistem pertanian organik tidak kalah produktif dibanding sistem konvensional.
Totong menegaskan bahwa kelompok yang ia pimpin tidak sekadar menanam padi, tetapi juga menerapkan konsep agribisnis terpadu.
Mereka memiliki pabrik pupuk organik dengan kapasitas produksi 5–6 ton per hari, yang digunakan untuk mendukung seluruh siklus pertanian organik di wilayahnya.
“Kami membangun manajemen dari hulu ke hilir. Tidak hanya menanam dan memanen, tapi juga mengolah, memasarkan, dan menjaga rantai pasok agar petani tetap sejahtera,” ujarnya.
Selain memimpin produksi, Totong juga aktif memberikan pendampingan kepada kelompok tani organik di berbagai daerah di Indonesia.
Ia sering diundang untuk berbagi pengalaman, memberikan pelatihan, dan melakukan negosiasi dengan calon pembeli besar.
Tidak hanya fokus pada padi, kelompok tani ini juga mengembangkan komoditas hortikultura organik. Beberapa di antaranya adalah nanas manis Ciamis dan pisang Cavendish.
“Untuk nanas, kami menanam sekitar 110 ribu buah di wilayah Desa Kawasen,” tutur Totong.
“Kami juga ikut mendukung program ketahanan pangan desa dengan sistem budidaya organik yang terbukti ramah lingkungan dan menyehatkan.”
Menurutnya, sistem organik memberikan banyak manfaat. Tanah menjadi lebih subur, hama terkendali secara alami, dan keamanan pangan terjamin tanpa bahan kimia berbahaya.
Selain itu, nilai jual produk organik jauh lebih tinggi dibanding produk non-organik, sehingga meningkatkan kesejahteraan petani.
Totong mengaku, kecintaannya pada dunia pertanian sudah tumbuh sejak kecil.
Ia mulai belajar mengendarai traktor sejak duduk di bangku kelas 3 SD, berkat didikan ayahnya yang menanamkan disiplin bertani.
Kini, di sela kesibukannya, Totong bersama para petani binaan juga rutin mengikuti kegiatan Car Free Day di daerahnya.
Momentum itu mereka manfaatkan untuk memasarkan beras dan sayuran organik langsung kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, permintaan terhadap beras, tomat, cabai, hingga nanas organik sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya pangan sehat,” katanya.
Kesuksesan kelompok tani ini tidak datang secara instan. Mereka telah mengantongi berbagai sertifikasi kelembagaan, produk, dan pupuk organik dari lembaga resmi, termasuk Inofice.
“Proses verifikasi lapangan itu panjang dan menantang. Tapi kami yakin, ketekunan dan niat yang kuat akan menghasilkan kualitas terbaik,” ujar Totong.
Selain itu, menyadari bahwa produknya kini telah menembus pasar internasional, Totong memastikan bahwa seluruh produk pertaniannya juga telah bersertifikat halal.
“Validasi dari otoritas lembaga negara dan dunia usaha penting, agar konsumen global merasa aman dan percaya dengan produk kami,” tegasnya.
Totong meyakini bahwa masa depan pertanian organik di Indonesia sangat menjanjikan. Permintaan pasar terus meningkat, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Daya serap produk organik saat ini sangat besar. Jika kita konsisten menjaga kualitas, peluangnya akan semakin terbuka,” ujarnya menutup pembicaraan.





