Berita

Macan Tutul Kerap Turun ke Hutan Desa Golat, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Upaya pencegahan dilakukan sebagai bentuk antisipasi demi menjaga keselamatan masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di kawasan hutan.

Keberadaan seekor macan tutul yang kerap turun dari habitat alaminya di Hutan Gunung Syawal ke kawasan Hutan Desa Golat menimbulkan kewaspadaan di kalangan masyarakat setempat.

Meski hingga kini belum menimbulkan korban jiwa, fenomena tersebut menjadi perhatian serius pemerintah desa dan warga.

Kepala Desa Golat, Rukman Abdulah, mengungkapkan bahwa laporan terkait kemunculan macan tutul di wilayah hutan desa sudah beberapa kali diterima dari warga. Hal tersebut disampaikannya melalui sambungan telepon seluler pada pekan lalu.

“Memang kerap ada aduan dari warga kami bahwa macan tutul dari Gunung Syawal turun ke wilayah hutan desa. Namun sejauh ini, alhamdulillah, belum ada korban,” ujar Rukman.

Menurutnya, meskipun lokasi Hutan Desa Golat relatif jauh dari permukiman warga, pemerintah desa tetap meningkatkan langkah kewaspadaan.

Upaya pencegahan dilakukan sebagai bentuk antisipasi demi menjaga keselamatan masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di kawasan hutan.

“Kami tetap mengimbau warga yang hendak memasuki hutan desa agar selalu waspada. Untuk sementara, warga juga bisa membunyikan kentungan sebagai upaya mengusir satwa tersebut,” kata Rukman.

Baca Juga :  Makanan Tradisional Jawadah Sudah Ada Sejak Abad ke-8 M

Sebagai tindak lanjut, Rukman menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III terkait kemunculan macan tutul tersebut.

Koordinasi ini dilakukan guna mencari solusi penanganan yang tepat dan sesuai dengan prinsip konservasi satwa liar.

Informasi serupa juga dibenarkan oleh salah seorang warga Desa Golat yang enggan disebutkan identitasnya.

Ia menyebutkan bahwa pihak desa telah menjalin komunikasi dengan BKSDA Wilayah III, dan salah satu solusi sementara yang disarankan adalah penggunaan bunyi-bunyian, seperti kentungan, untuk mengusir macan tutul agar kembali ke habitatnya.

“Setahu kami, desa sudah berkoordinasi dengan BKSDA Wilayah III. Solusi sementara yang dilakukan adalah memberikan imbauan kepada warga untuk membunyikan kentungan,” ungkapnya.

Meski demikian, warga tersebut menilai bahwa langkah tersebut hanya bersifat sementara dan belum menyentuh solusi jangka panjang.

Baca Juga :  Bentuk Kepedulian, HMI Lafran Unigal Ciamis Gelar Program Nuansa Ramadhan

Ia berharap ada keterlibatan lebih luas dari berbagai pihak untuk memastikan keselamatan warga sekaligus keberlanjutan pemanfaatan hutan desa.

“Menurut kami, memang harus dicarikan solusi yang lebih efektif oleh berbagai pihak. Pemanfaatan hutan desa harus tetap optimal, namun keselamatan warga juga harus benar-benar terjamin,” tambahnya.

Warga tersebut juga mengungkapkan bahwa laporan terakhir mengenai turunnya macan tutul ke kawasan Hutan Desa Golat terjadi pada bulan Mei 2025 lalu.

Berdasarkan pengalaman warga, satwa tersebut cenderung kembali ke habitatnya di Gunung Syawal ketika mendengar suara-suara keras.

“Biasanya macan takut kalau mendengar bunyi-bunyian. Kalau ada suara kentungan, macan pasti naik lagi ke habitatnya di Gunung Syawal,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, koordinasi antara pemerintah desa, warga, dan pihak terkait terus diharapkan dapat menghasilkan langkah penanganan yang lebih komprehensif, dengan tetap mengedepankan keselamatan manusia serta perlindungan satwa liar di habitat alaminya.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca